Skip to content

Mengapa Waktu Luang di Tempat Kerja itu Penting?

workshop hapsari suralaya

Kegembiraan terbesar setelah tidak menjadi pegawai tetap adalah uang  waktu luang saya yang berlimpah. Mengapa waktu luang membuat gembira? 

Pada pertengah Oktober, saya diminta Hapsari, sebuah serikat perempuan, untuk mengisi sesi “Pentingnya Modul Pelatihan bagi Organisasi” yang diadakan sebagai bagian Program Representasi. Waktunya pas sehari setelah Social Media Festival di Jakarta sehingga kelar acara langsung meluncur ke Yogya naik kereta api malam. Nah disini serunya. Kereta api sekarang sudah berubah, jadwalnya relatif lebih tepat. Sayangnya, perubahan ini ada tidak enaknya. Biasanya sampai Yogya itu pas subuh tapi gara-gara perubahan itu kereta sampai Yogya tepat waktu jam 3 pagi. Dan saya ketiduran saudara-saudara…..terbangun menjelang stasiun Klaten.

Alhasil, saya turun di stasiun Klaten dengan mata masih setengah terpejam. Berpikir keras bagaimana bisa sampai Yogya di pagi buta. Untunglah ada seorang pak ojek yang menawarkan jasanya. Langsung deh meluncur ke Yogya dengan naik motor. Dingin…..tapi selamat sampai Stasiun Tugu tepat waktu dan bertemu dengan penjemput, teman-teman Hapsari.

Ternyata saudara perjalanan saya masih panjang. Bersama teman Hapsari saya meluncur ke lokasi kegiatan. Lewat satu jam, kami sampai di suatu lokasi yang sudah terlihat pelosok, saya berpikir sudah dekat tempatnya. Ternyata masih belum, mobil yang kami kendarai masih meraung-raung melakukan pendakian di jalan sempit berputar mengeliling pegunungan Menoreh. Setelah satu jam berikutnya, kami mulai memasuki daerah berkabut dan sampailah kami di lokasi kegiatan, Puncak Suralaya.

Puncak Suralaya ini dikenal sebagai Kahyangan para dewa, tempat Sultan besemedi. Lokasinya memang keren banget. Saya sampai lokasi jam setengah tujuh masih menyaksikan kabut yang begitu tebal. Langsung deh naluri motret keluar. Bukannya istirahat, saya malah menuju puncak buat motret sana-sini. Beberapa foto bisa dilihat di bawah ini, lengkapnya ada di http://instagram.com/bukik

Kabut jam tujuh pagi

Anak-anak Suralaya berangkat sekolah

Mengantar anak menembus kabut

Jembatan menuju Puncak Suralaya

Oh ya kembali ke topik

Dalam sesi tersebut, saya mengajak peserta yang semuanya perempuan dan mayoritas ibu-ibu yang penuh semangat. Saya memulai dengan memainkan sebuah permainan simulai yang mengajak peserta membuat rumah secara berkelompok. Kelompok kemudian mempresentasikan rumah hasil karyanya dengan nada bangga.

Setelah presentasi, kelompok saya ubah dengan hanya mempertahankan ketua kelompok. Saya simpan rumah hasil karya kelompok sebelumnya. Saya minta ketua kelompok buat memimpin anggota barunya untuk membuat 5 rumah yang sama dengan rumah yang telah dibuat sebelumnya. Sontak suasana langsung riuh. “Wah saya tidak tahu kalau rumah tadi akan dibuat lagi”, kata seorang peserta.

Selesai permainan simulasi, saya mengajukan beberapa pertanyaan reflektif kepada peserta. Beberapa jawaban peserta adalah “Kita seringkali terlalu sibuk bekerja sehingga lupa untuk mengajarkan cara kerja kita” dan “Perubahan anggota kelompok seperti perubahan pengurus. Karena tidak belajar, maka ganti pengurus ganti kebijakan”.

Berdasar pengalaman saya dalam memimpin sebuah lembaga dan pengamatan terhadap kenyataan di berbagai organisasi (sosial maupun bisnis), orang sibuk bekerja sambil lupa belajar. Bekerja dan belajar menjadi aktivitas yang terpisah. Belajar ibarat berakhir pekan, bekerja ibarat hari kerja (Baca: Mengapa Traning Motivasi itu Ibarat Berakhir Pekan)

Pekerjaan yang menumpuk. Satu pekerjaan belum selesai sudah datang pekerjaan yang lain. Batas waktu yang mepet. Lagi bekerja ada telepon dari atasan atau rekan kerja dari unit kerja lain yang meminta tolong. Dan banyak lagi alasan mengapa kita terlalu sibuk bekerja. Akibatnya, meski target kerja tercapai tapi sebenarnya organisasi tidak bekerja. (Baca ulasan: Mengapa Kerja Tidak Terjadi di Tempat Kerja)

Apa yang terjadi ketika organisasi terlalu sibuk bekerja? Orang-orang kehilangan otonomi, kebermaknaan kerja dan kesempatan mengasah kemampuan. Orang bertindak lebih ditentukan oleh tuntutan eksternal yang disertai bayang-bayang hadiah-hukukam (reward -punishment). Lakukan maka kamu mendapat bonus. Tidak dilakukan maka kamu mendapat hukuman.

Organisasi yang terlalu sibuk bekerja memang kinerjanya cenderung bagus dalam jangka pendek. Tapi secara jangka panjang (Lebih dari 5 tahun) akan mengalami persoalan sebagaimana yang dihadapi kelompok yang membuat rumah dalam permainan simulasi tadi. Pengetahuan cenderung dikuasai oleh orang-orang tertentu, tidak menyebar merata ke seluruh organisasi. Ada ketergantungan organisasi pada orang-orang tertentu.

Padahal organisasi adalah manusia-manusia didalamnya. Bagaimana orang bekerja secara unggul? Dorongan untuk mendapatkan uang? Upaya menghindar dari hukuman? Bukan. Banyak riset menunjukkan hadiah-hukuman hanya efektif untuk memotivasi orang dalam melakukan pekerjaan mekanis sederhana yang berulang. Sementara kalau pekerjaan menuntut sedikit saja kemampuan kognitif maka hadiah-hukuman justru akan membuat kinerja orang menurun. (Baca penjelasannya di Faktanya Uang Menumpulkan Kreativitas)

Menurut Daniel Pink orang akan bekerja secara unggul kalau ada 3 elemen: otonomi, tujuan yang bermakna dan kesempatan mengembangan keahlian. Nah ketiga elemen itu membutuhkan waktu luang (baca: jeda) yang membebaskan orang dari tuntutan eksternal sehingga punya otonomi untuk memilih aktivitas. Waktu luang yang memungkinkan karyawan melakukan pekerjaan yang bermakna dan sesuai passionnya. Waktu luang yang memungkinkan orang berimajinasi dan mengembangkan keahliannya.

Contoh sederhana. Kita mendapatkan inspirasi justru ketika berada pada waktu luang, semisal ketika asyik di toilet. Kita otonom untuk berimajinasi mengenai berbagai hal yang “penting” dan sesuai passion kita.

Nah pertanyaannya, seberapa banyak waktu luang  anda di tempat kerja? 

Klik untuk Langganan Bukik.com via Email

Disclaimer: Posting ini tidak bisa digunakan alasan bagi anda untuk meninggalkan tempat kerja buat nongkrong atau bermalas-malasan.

21 Comments Post a comment
  1. Ya saya setuju, selain itu waktu luang juga bisa mengobati kejenuhan kerja

    30/03/2013
  2. Keren banget pak lokasinya. Baru ngeh betapa pentingnya waktu luang saat kerja 8to4 tiap hari dan mengikuti sistem yg sudah canggih… gimana cara menumbuhkan kreatifitas tapi kerja tiap hari 8to4, tanpa harus resign gitu pak?

    25/11/2012
  3. Ujungnya itu mas yg gak mengenakkan..😛

    dulu mantan bos aku pernah bilang, kesuksesan seseorang itu bukan terlihat saat mereka bekerja. tapi pada saat menerka meninggalkan posisinya dan orang orang di dalamnya bisa meneruskan pekerjaan itu tanpa berkesusahan.. jadi belajar emang penting saat bekerja.🙂

    jadi, kalau soal waktu luang, jam istirahat seharusnya dr pukul 11-13 deh yak mas😛

    21/11/2012
    • Hehehe ujung yang mana ini
      Bisa jam istirahat, bisa 1 hari dalam seminggu/dua minggu, bisa seminggu/sebulan dalam setahun

      22/11/2012
  4. genthuk #

    Bekerja menurutku juga belajar. Tapi saya setuju terkadang kita lupa untuk belajar saat bekerja. Karena kita tidak tahu kenapa kita bekerja. Bila kita hanya bekerja untuk mendapatkan uang, ya hanya itu yang akan kita dapatkan.

    21/11/2012
    • Bener….bekerja untuk dan karena tujuan-tujuan eksternal, bukan karena kebutuhan internal kita

      22/11/2012
  5. DV #

    Di sini waktu luang untuk kerja adalah kewajiban. Selain istirahat selama 1 jam, kami berhak sekitar 45 menit untuk ngapain2 aja…

    21/11/2012
    • Iya masing-masing perusahaan mempunyai kebijakan yang berbeda mengenai waktu luang bagi karyawannya. Google setahu saya menyediakan waktu luang lebih banyak lagi

      22/11/2012
  6. Hahahahaa pas banget Pak. Pas di toilet memang sering lewat ide-ide mantap~ CX

    20/11/2012
    • Nah kan….toilet bukan saja sebuah tempat, namun juga sebuah waktu, waktu luang kita
      hehe

      22/11/2012
  7. Saya desainer grafis, sejak lama mengatakan pada diri sendiri tidak ingin menjadi pegawai negeri. Karena saya meyakini dan mengatakan pada diri sendiri, saya tidak bisa hanya duduk pasif di pelakang meja (begitulah saya memandang abdi negara itu). Tapi setelah saya berpikir ulang, ternyata saya selama ini sering bekerja di balakang meja. Apalagi jiga ide desain sudah nyantol di hidung. Paling setelah tiga hari tiga malam mantengin sotosop dan corel langsung ngilang seminggu. Dan saya tidak memahami konsep “waktu luang di tempat kerja” Hmmm…🙂

    20/11/2012
    • Bekerja mandiri bukan berarti tidak butuh waktu luang
      Contoh simpelnya
      Musisi yang mengeluarkan album laris terus kemudian tur ke berbagai kota. Semua waktu habis untuk tur. Dijamin tidak punya ide buat membuat dan berlatih lagu baru. Banyak kan kejadian seperti ini

      22/11/2012
      • I get that. Thanks.

        11/12/2012
  8. Who, lokasinya. Berkabut.🙂
    Waktu luang kadang harus diperjuangkan. Makanya sejak dulu, di kantor lama, saya bisa jalan-jalan dan motret buat blog justru pada jam kerja dan hari kerja. Sekarang apa lagi!

    20/11/2012
    • Paman apa sudah pernah ke Puncak Suralaya? Asyik….
      Setuju, kita sendiri harus memperjuangkan waktu luang tersebut agar wawasan terus berkembang luas

      22/11/2012
  9. waktu luang ini perlu didefinisikan dulu sih.. apakah beneran luang tanpa terhubung dengan perangkat kerja, dan atau gimana.
    karena penggunaan waktu luang setiap orang itu berbeda-beda.
    *nulis komen sambil mikir waktu luang di kantor*

    20/11/2012
    • Hehehe Daniel Pink menyebutkan sebuah contoh yang secara singkat bisa disimpulkan: waktu luang adalah waktu bagi karyawan untuk melakukan hal apapun kecuali mengerjakan job des-nya.

      22/11/2012
  10. Setuju tuh… sebenarnya tanpa waktu luang seseorang harus bisa mencari carinya sendiri. Biasanya diorganisasi memberikan waktu luang buat karyawannya untuk training dan pengembangan diri.

    Hanya kadang yang saya alami, adalah karyawannya sendiri yang malas untuk berpartisipasi dan merasa sudah cukup.

    Di kantor ada program sharing.. dan adapun pengajar dan peserta juga berasal dari karyawan. Program seperti harusnya baik untuk meningkatkan kemampuan organisasi itu sendiri…

    20/11/2012
    • Iya faktor penghambat memang bisa dari perusahaan, bisa juga dari karyawan
      Praktisi perubahan harus mengatasi kedua faktor tersebut

      21/11/2012
  11. Tetap bekerja itu lebih bagus dibanding bekerja tetap.

    20/11/2012
    • Ada bagus, ada gak bagusnya
      Hehe

      21/11/2012

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: