Skip to content

Bukik Bertanya : Pelemparan Dadu @Quicchote

Hokky Situngkir depan

Baginya, hidup itu seperti pelemparan dadu. Siapkan saja diri kita untuk tiap hasil lemparan dadu. Simak! 

Aku mengenal Hokky Situngkir hanya sebatas di linimasa. Tapi rasanya, ide dan pemikirannya yang luar biasa sudah akrab di kepala. Oh ternyata oh ternyata, beliau mengembangkan teori kompleksitas (complexity theory), yang paling serius di Indonesia. Loh mengapa akrab di kepalaku? Bukan, bukan karena aku mempelajarinya, tapi guruku banyak sekali berceloteh tentang teori itu. Dan aku gagal paham hehe

Setelah mengingat kembali, ternyata ada jejak kognitif di kepalaku tentang Bandung Fe Institute. Dulu ketika disodori berbagai bacaan teori kompleksitas, aku sempat membaca artikel dari Bandung Fe itu. Oalah ternyata sekarang aku bisa berkenalan dengan perintis lembaga tersebut. Iya siapa lagi, Hokky Situngkir. Dulu denger nama lembaga ini, keingetnya lagu Santa Fe dari Bon Jovi hihi gak nyambung kali ya….

Bicara prestasi beliau? Seabreg, nasional maupun internasional. Silahkan cari sendiri di Google ya. Karya beliau yang paling mengesankanku adalah Batik Fraktal, kajian yang berusaha memahami pola-pola batik di Indonesia. Temuannya menarik: terdapat perspektif alternatif yang ada di kalangan masyarakat dan peradaban Indonesia yang unik relatif terhadap cara pandang modern yang umum. Alam yang terkesan acak dan kacau, ternyata bisa dilukiskan begitu indah oleh nenek moyang kita dalam selembar batik. Inovasinya? Temuan ini bisa digunakan untuk menciptakan motif-motif baru batik yang tetap selaras dengan batik Indonesia.

Berkat ketertarikan akan batik fraktal ini kemudian aku ingin mengenal penggagasnya dan menanyakannya di twitter. Sekejab saja langsung mendapat akun beliau di twitter, @quicchote. Jadi, kalau ada yang perlu diperjelas dari posting ini, langsung tanya aja ke beliau ya hehe.

Bagaimana kisah hidup Hokky Situngkir? Simak…..

Saya seorang peneliti. Nama saya Hokky Situngkir, tapi saya biasa menggunakan nama pena: Hokky Saavedra atau quicchote. Itu nama yang saya berikan sendiri saja, karena saya sangat terinspirasi dengan karya sastra klasik “Don Quicchote” karya Miguel de Cervantes.

Mungkin tak banyak sih yang “menggetarkan hati”, hidup saya dan keluarga biasa saja. Saya mungkin bukan orang yang pas buat hadir di acara-acara semacam Oprah, hehehe!

Petualangan intelektual selama masih berstatus mahasiswa di ITB, penjelajahan di berbagai macam ideologi di sudut-sudut student center, lalu perkenalan dengan berbagai studi-studi kompleksitas paling banyak mengubah diri saya jadi seperti sekarang ini.

Yang paling saya syukuri dari diri sendiri dan keluarga yang membesarkan saya adalah tentu menjadi ada dan menjadi diri sendiri. Adalah sebuah keberuntungan hidup di Indonesia, yang menjadi salah satu tempat paling bhineka di planet bumi. Tempat di mana, saya pikir, kajian teoretis atas evolusi kebudayaan, paling mungkin lahir dan berkembang. Sekitar sepuluh persen jenis bahasa yang tercatat ada di planet bumi ada di kepulauan Indonesia ini. Ini sebuah potensi eksplorasi intelektual yang luar biasa. Saya sangat bersyukur lahir dan besar di sini, dan karenanya bakti pada ilmu pengetahuan bisa berpadu padan cakep sekali dengan bakti pada nusa dan bangsa. Ini yang saya kira sangat berharga dari saya, keluarga tempat saya dilahirkan, orang lain, dan eksistensi ke-Indonesia-an yang ada dalam kehidupan saya.

Saya suka dengan dadu. Dadu itu simbol probabilitas, tapi di sisi lain, dadu yang jujur memberikan simbolisasi bahwa semua hal itu mungkin dengan peluang yang sama. Dadu juga sering terkait dengan permainan-permainan papan (board game) yang menggunakan pola “giliran”.

Dalam hal ini dadu mungkin bisa memberi pesan moral bahwa persoalan masa lalu telah diselesaikan pada masa lalu dengan cara-cara masa lalu, maka persoalan masa sekarang harus diselesaikan sekarang dengan cara-cara sekarang. Tak ada gunanya mengutuki sejarah, meratapi masa sekarang, dan menunggu-nunggu masa depan. Sejarah ada untuk dipelajari sehingga dapat mengambil action yang optimum di masa sekarang demi masa depan yang lebih baik.

Saya membayangkan tiap masa itu seperti pelemparan dadu. Siapkan saja diri kita untuk tiap hasil lemparan dadu, ambil keputusan terbaik sesuai lemparan dadu itu tanpa keraguan sedikit pun. Masalah esok hari adalah masalah untuk esok. Saya pikir, di sinilah letak “energi” besar dari sebuah rasa bersyukur dan berserah dalam hidup… :p

Bila saya tertidur panjang dan terbangun pada tahun 2030? Saya terbangun dan menyaksikan orang-orang yang saling beramah-tamah satu sama lain. Orang-orang menjalani hidupnya dengan gembira karena berbuat baik adalah untuk kesejahteraan semua orang. Tiba-tiba orang merasa bahwa berbuat terbaik bagi masyarakatnya adalah dengan melakukan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Masyarakat berjalan tanpa adanya kesenjangan sosial yang berarti dan menjadi landasan primer untuk berlaku curang dalam kehidupan masyarakat.

Untuk mewujudkan hal itu, saya berpikir bahwa hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah dengan penajaman kebijakan publik yang benar-benar mengalami proses penajaman melalui ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, yang saya sebut ilmu pengetahuan ialah yang memiliki akar empiris dalam eksplorasi teoretisnya, mampu memecahkan kompleksitas sosial dalam komprehensi yang sederhana.

Sebagai contoh adalah visi yang bersama teman-teman di Bandung Fe Institute ingin jalankan saat ini, bahwa keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan sebuah sumber energi yang sangat menarik jika bisa kita transformasikan menjadi roda penggerak kehidupan sosial dan ekonomi kita.

Penelitian saya beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa keberagaman kultural menyimpan energi potensial (baca: utilitas) yang luar biasa, khususnya di masa depan, ketika kehidupan sosial ekonomi digerakkan oleh roda gigi kehidupan industrial yang berlandaskan pada kreativitas dan inovasi. Bersama teman-teman beberapa tahun silam, membentuk Inisiatif Budaya Kepulauan Indonesia (Indonesian Archipelago Cultural Initiatives, IACI) yang membidani portal budaya tradisi Indonesia secara web 2.0, secara partisipatif, di mana kita ajak teman-teman se-tanah air untuk mengenali elemen-elemen budaya tradisi yang ada di sekitarnya, lalu meng-upload-nya (lengkap dengan meta-info terkait pengrajin, judul, kisah, dan sebagainya) ke web www.budaya-indonesia.org.

Data yang terkumpul via partisipasi itu akan sangat bermanfaat buat (i)  Inovator, pengrajin, UMKM, dan sebagainya; (ii) Penelitian lanjutan yang menggali mata air kebijaksanaan yang tersimpan dalam elemen budaya yang ada di nusantara ini.

Ah, ini memang langkah awal,  dari visi dan cita-cita besar tentang masyarakat yang tadi anda tanya dan berusaha saya jawab, tapi saya pikir, sejauh apapun perjalanannya, ia selalu dimulai dengan satu langkah kecil, kan?! J

Aih, pertanyaan ini mengagetkan saya, karena saya tak pernah berfikir tentang hal itu. Saya tak bercita-cita jadi orang-orang hebat, atau pahlawan bagi orang lain. Saya merasa masih muda kok, dan yang utama adalah memberikan apa yang terbaik untuk masa sekarang. Berandai-andai mungkin bisa menghibur, tapi biarlah itu tak usah tertulis dalam blog Bukik.com yang keren ini, hehehe!

Tentu banyak ya, hal konyol yang saya lakukan dalam hidup. Blog Bukik.com takkan sanggup bikin daftarnya. Mulai dari kenakalan-kenakalan eksperimental masa kecil hingga penyusunan hipotesis dan eksplorasi teoretis dalam penelitian yang saya lakukan saat ini. Hidup terlalu panjang untuk tak pernah melakukan hal yang konyol. Apalagi, hal konyol membuat masa lalu layak untuk dikenang dan bukan tak mungkin jadi inspirasi, minimal hiburan, bagi orang lain.

Apa inspirasi yang anda dapatkan dari kisah Hokky Situngkir? Silahkan berbagi inspirasi di kolom komentar

Sumber Foto Utama : http://flic.kr/p/7rxEzD | Sumber Foto Kartun: http://bit.ly/tQO6gd

Klik untuk Langganan Bukik.com Melalui Email

16 Comments Post a comment
  1. baru tw ttg batik fraktal di televisi, baru bang hokki yang jadi penggagas,

    05/12/2011
  2. batik fraktal sudah pernah lihat, tapi baru tahu kalo penggagasnya adalah Hokky Situngkir..:) Salut…

    17/11/2011
    • Yup, sebuah riset ilmiah bisa menghasilkan seni yang luar biasa

      17/11/2011
  3. paling suka bagian ini:
    “Hidup terlalu panjang untuk tak pernah melakukan hal yang konyol. Apalagi, hal konyol membuat masa lalu layak untuk dikenang dan bukan tak mungkin jadi inspirasi, minimal hiburan, bagi orang lain.”😀

    *ini nih Pak, saya komen lagiiii, ehehe*

    14/11/2011
    • hehehe makasiiih

      17/11/2011
  4. Inspirasinya? ternyata banyak org yg berprestasi tapi saya gak kenal mas.. hahahaha :p

    13/11/2011
  5. DV #

    Wah,.. kapan ya saya diwawancara Bukik.. *angop

    12/11/2011
    • Cek email

      17/11/2011
  6. wibisono #

    dulu pas waktu kuliah pemodelan sistem dan riset operasi sempat dibahas teori kompleksitas tapi sudah udah lupa..😀

    11/11/2011
    • Padahal asyik lho……coba cek tautan yang diawal posting

      11/11/2011
      • tp pas kul pemodelan sistem dan riset operasi dulu, saya ga begitu mudeng, alias harus ngulang, cuma sepet inget namanya aja,ttg teori kompelsitas😀

        16/12/2011
  7. Jujur aja, aku baru pertama kali ini dengar nama Hokky Situngkir. Ngubek2 dulu ya🙂

    11/11/2011
    • Hehehe ayo diubek-ubek…..

      11/11/2011
  8. Ngga ngerti teori kompleksitas itu gmn sih maksudnya? Kaya filsafat ato ada sesuatu yg lain?

    11/11/2011
    • Langsung mention tanya ke hokky langsung aja hehe

      11/11/2011
    • wahyu asyari m #

      glek, sama.
      aku juga kurang paham teori ini apa..

      12/11/2011

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: