Skip to content

Blog Versus Twitter atau Blogger Versus Influencer

versus 2

Ada banyak dinamika di dunia digital, salah satunya pertentangan antara blogger versus influencer. Apakah benar demikian? 

Aku menjadi blogger sudah 4 tahun, meski hampir dari semua waktu itu hanya menjadi blogger pemula. Aku tidak terlalu mengikuti perkembangan dunia blogger, mungkin karena ngeblog hanya penyaluran buat menulis bebas. Aku masih suka ngobrol di milis dari pada melakukan blogwalking. Aku sempat sih mendaftar di sebuah komunitas blogger tapi sepertinya kok tidak ada respon balik… *curcol

Sementara twitter, aku membuat akun segera setelah membaca beritanya di sebuah harian nasional. Bikin akun sudah agak telat dan lebih telat lagi aktifnya. Aku aktif ngetweet baru pada awal 2010. Ketika aktif ngetweet ini kemudian aku berkenalan dengan banyak orang yang membuka wawasanku mengenai dunia digital dengan berbagai dinamikanya. Aku kenal dengan teman-teman blogger juga berkat aktif di twitter, bukan karena aktivitas ngeblog. Aneh kan ya……

Aktif di twitter juga memungkinkan aku buat menjadi pengamat yang baik. Linimasa adalah ruang percakapan terbuka yang kaya dengan berbagai informasi. Berdasarkan pengamatan itu, ternyata ada banyak dinamika dalam dunia blogger. Aku tidak membahas dinamika itu, silahkan simak sendiri di Bukan Soal PestanyaTak ada yang salah dengan Pesta, atau Ada Yang ON Dan Ada Yang Harus OFF.

Sebagaimana judul posting ini, aku akan lebih membahas tentang Blog Versus Twitter. Mengapa? Beberapa wacana yang berkembang, mengesankan ada pertentangan antara keduanya, silahkan baca di Blogging yang Mengering atau Blogger vis a vis Twitter, Blog versus Microblog?.

Apa saja perbedaan antara blog dan twitter baik dari ranah personal maupun bisnis?

Dari sifat medianya, blog dan twitter mempunyai sifat yang jauh berbeda. Blog bisa mengulas suatu topik secara mendalam. Posting blog bisa mengkaji sebuah kejadian dari beragam perspektif dan dipahami dalam suatu waktu. Posting blog bisa multisensori dengan menyajikan data dalam bentuk teks, foto, dan audio/video.

Twitter lebih tegas dalam menulis inti pesan. Sebuah topik butuh banyak tweet untuk mengulas sebuah topik. Sebuah tweet hanya memberitakan topik dari sebuah perspektif. Influencer butuh beberapa tweet untuk mengulas topik dari perspektif yang berbeda.

Sekali posting sebuah topik dipublikasikan maka sekali itu pula mencapai pembacanya melalui rss, email atau channel lain. Padahal bisa jadi pembaca yang berlangganan via email sedang sibuk ketika menerima informasi sebuah posting. Akibatnya, posting itu bisa tidak atau lupa dibaca. Tapi karena posting itu sifatnya bertahan lama, blogger bisa menyebarkan tautan sebuah posting berkali-kali via twitter/FB.

Sementara twitter, tweet yang mengulas sebuah topik mencapai pembaca berkali-kali. Sehingga, follower yang pada jam sebelumnya tengah sibuk dan tidak menyimak bisa mengikuti sebuah topik pada tweet berikutnya. Terutama bila tweet tersebut di beri tagar seperti #edustory atau #twiedu.

Aku butuh waktu 5 – 15 menit untuk membaca sebuah posting dan butuh waktu lama bila memutuskan untuk berkomentar dan menyebarluaskan posting itu. Sementara, aku butuh waktu lebih cepat untuk menyimak topik yang diperbincangkan di twitter dan menyebarluaskannya sangat mudah sekali melalui fasilitas ReTweet.

Karena ringkas dan kemudahannya, twitter menjadi cepat sekali menciptakan trend. Simak saja trending topic yang berganti hampir setiap waktu. Kecepatan ini menguntungkan bagi brand yang ingin mendapat perhatian tapi kecepatan juga akan lebih menimbulkan kebosanan. Terlebih bila trend itu, mendapat respon”oh hanya gitu?!”

Sementara, blog membutuhkan waktu dan energi lebih besar. Apalagi sekarang terkesan tidak ada komunitas yang memfasilitasi para blogger menciptakan sebuah tend. Kalaupun ada trend topik posting, itu berasal dari kampanye sebuah brand. Aku berharap Blogger Nusantara nantinya bisa menjadi fasilitator yang mensinergikan para blogger menciptakan suatu trend. Semoga Kopdar 1000 Blogger nanti bisa ide kreatif buat para blogger.

Twitter adalah media yang unggul dalam penyebaran sebuah isu. Twitter unggul karena mudah dan cepat penyebarluasannya sampai beberapa tingkat penyebaran. Blog adalah media yang unggul dalam membentuk suatu perilaku. Blog unggul karena bisa mendalam, multisensori (teks, foto, audio/video) dan memfokuskan percakapan.

Perbedaan karakteristik antara blog dan twitter berdampak pada perbedaan peran blogger dan influencer atau buzzer. Blogger perannya lebih menjadi pencipta content, sementara peran influencer lebih ke penyebar. Tapi kalau mengamati linimasa, perbedaan yang awalnya tajam pada akhirnya menemui titik temu. Ada yang awalnya blogger, kemudian juga aktif di twitter seperti @nukman dan @benakribo. Ada yang berawal dari twitter dan menjadi  influencer, pada akhirnya ngeblog juga seperti @poconggg dan @MotivaTweet.

Pada dasarnya, ngeblog atau ngetweet adalah media yang sama, media sosial. Media yang memungkinkan kita menjadi sosial secara online. Media yang memungkinkan kita mengekspresikan keunikan diri kita. Kita sebagai individu mempunyai media sendiri dalam beragam bentuk, blog dan twitter hanya salah satunya. Apakah ngetweet atau ngeblog atau keduanya, kita tetap harus sadar akan kekuatan yang kita miliki. Kita harus berpikir dampak dari informasi yang kita publikasikan.

Perbedaan-perbedaan yang ada mungkin sebenarnya lebih menggambarkan pilihan digital agency dalam menggunakan media untuk kampanyenya. Dulu blog mungkin menjadi pilihan utama, tapi semenjak ada twitter maka digital agency mempunyai pilihan yang lebih luas.

Bisa jadi, pengaruh kehebohan di linimasa mempengaruhi penilaian bahwa twitter lebih luas pengaruhnya dan karena itu lebih sering digunakan. Tapi data menunjukkan bahwa blog masih dibaca dan menjadi idola. Blogger itu Bagai Jutaan Matahari Kecil.

Oleh karena itu, patut disayangkan, kalau digital agency hanya memilih twitter sebagai medianya. Mengapa? Blog dan twitter akan punya kekuatan lebih bila dikolaborasikan. Kolaborasi bukan sekedar berarti menggunakan kedua media tersebut, tapi mensinergikan kedua media tersebut.

Sementara itu, kita sendiri bebas menulis apakah akan aktif di blog, twitter atau keduanya. Toh media-media itu memang disediakan buat kita sehingga kita bisa memilih yang pas dengan diri kita. Aku sendiri memilih aktif di keduanya karena ingin mengoptimalkan kekuatan kedua media tersebut.

Apakah anda aktif ngeblog saja, ngetweet saja atau aktif pada kedua media tersebut? 

Klik untuk Langganan Bukik.com via Email 

Sumber Gambar : Doug Felts

Baca Juga : Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

53 Comments Post a comment
  1. ina #

    Aku punya akun twitter dan ngeblog jg, masalah waktu,klo lg sibuk ngetwit ada waktu luang ngeblog, aku kadang BW dari postingan yg di link di twitter, aktifitas yg menyenangkan saat menunggu, banyakan teman2 twitterku bawalnjya kenal di blog malah🙂

    23/12/2011
  2. Sepertinya saya harus banyak belajar dari pakar blog. Kalau di tumblr, orang dengan mudah membaca postingan kita, kalau sudah punya domain sendiri, ya gitu deh.. Hehehe

    08/11/2011
  3. Beruntunglah wahai pelaku dunia online yang telah menemukan jalan terbaiknya. Pilihan oh pilihan, sesuatu yang layak untuk dijadikan pegangan arah. Kemana kaki akan melangkah…

    saya saat ini masih sering ngeblog, walau jarang blogwalking. twitter masih jarang memanfaatkannya… sering mengikuti tweet dari kang @sudjiwotejo, kok jadi tertarik belajar memaksimalkan antara Blog dan Twitter…

    senang berkenalan dengan anda… semoga berlanjut… salam.

    02/11/2011
  4. saya lebih memilih blog karena awet dan bisa dibaca2 ulang postingan lamanya
    twiiter pergerakannya terlalu cepat sehingga sering ketinggalan kalau jarang online

    02/11/2011
  5. Sepertinya memang Twitter menjadi godaan bagi kebanyakan blogger, namun bagi saya itu sih soal pilihan..
    Menjadi influencer via Twitter atau via Blog itu punya seni sendiri-sendiri..

    01/11/2011
  6. Tulisan yang luar biasa..

    Saya pribadi melihat blog lebih sebagai rumah dari keseluruhan media sosial yang saya gunakan dimana saya bisa menceritakan suatu hal secara lebih mendalam dan berikutnya saya menggunakan twitter atau media sosial lain sebagai media “penyebar”. Biasanya setiap tulisan “mendalam” di blog selalu saya rubah menjadi beberapa kalimat twitter (<140 char) dan saya bagi kepada follower saya dengan melakukan #kultwit.

    Maanfaat lain dari blog yang sangat terasa adalah ketika suatu saat kita ingin melihat kembali tulisan yang sudah cukup "tua". Dengan adanya blog hal ini akan dengan mudah saya lakukan, cukup dengan membuka archive dan saya mendapat apa yang saya inginkan. Berbeda ketika dulu saya hanya menuangkan ide saya dengan berbagi di media microblog (re : twitter), sangat sulit ketika saya ingin melihat apa yang telah saya bagi atau ide apa saja yang telah saya miliki di 1-2 bulan sebelumnya.

    Sampai saat ini pun saya masih dalam tahap belajar u/ mencari kombinasi terbaik thd pemanfaatan blog dan micro blog u/ mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Terimaksih pak, nice share !🙂

    Salam kenal :
    Wing Firmanperkasa W
    wingfirmanperkasa.wordpress.com
    @wing_fw

    30/10/2011
  7. sabai95 #

    IMO bagus juga bahwa para brand owner dan agency sekarang banyak berkomunikasi melalui twitter dan blog, sehingga channel komunikasi tidak melulu media above the line. Namun sepengamatanku masih banyak brand owner atau agency yg ‘gebyah uyah’ alias langsung mencari bloggers dan tweeps yang bisa diminta mempopulerkan brand mereka (dengan kesepakatan tertentu) tanpa dengan cermat mempertimbangkan kecocokan pembaca blog tersebut atau followers mereka dengan isi pesan yg hendak disampaikan.

    Saya sendiri mulai ngeblog tahun 2005, dan berawal karena kesepian sendirian di negeri dingin. Dulu nulis hanya seputar perjalanan saya dan film2 yang saya tonton, pembacanya pun teman-teman sendiri. Nah baru 2 tahun terakhir ini sepertinya audience pembaca blog saya berkembang, nggak dikalangan teman-teman sendiri. So i think it’s a good sign.

    23/10/2011
  8. Superrr..
    Aku kenal blog duluan, tapi hampir bersamaan tuh waktu aktif ngeblog sama ngetwit.
    Alhamdulillahnya, aku kenal kawan blogger asli dari blogwalking, dan beberapa kenal dari twitter.
    Keduanya jadi melengkapi tali silaturahmi.😀

    19/10/2011
  9. saya pertama kali mengenal blog dari th 2005. dan mengenal twitter dari th 2009. Jujur, twitter lebih user friendly menurut saya. dan penetrasinya juga lebih cepat. tapi blog tetap lebih powerfull utk urusan content karena ga dibatasi dg 160 char. tp ibarat sendok dan garpu, blog dan twitter bisa berjalan beriringan, saling melengkapi🙂

    nice post. salam🙂

    19/10/2011
  10. Wah, saya beberapa kali liat blog ini tapi baru kali ini gatel untuk komentar. Blog ini seperti kewajiban menurut saya, sedangkan twitter adalah sunnah. Namun, jika ingin menaikkan hits di blog atau pahala, memang twitter oke digunakan untuk menyebar link blog. Lagipula, tulisan di blog juga lebih long lasting dibandingkan twitter yang hanya beberapa saat saja. IMHO, Harusnya brand-brand membayar lebih besar untuk paid blogger dibandingkan buzzer di twitter.🙂

    17/10/2011
    • sepaham dah ama bagian ini😀
      saya menyebutnya, blogger VS buzzer :p
      salam kenal yak *nyengir-pagi2*
      NB: nganu, ini blog werdpres ceritanya English Version *halah *tepakjidatsendiri😀

      27/10/2011
  11. suka keduanya. Fungsi saling melengkapi dan di twitter interaksi lebih cepat kalo di blog interaksi lebih mendalam. *eh*

    15/10/2011
    • se7🙂
      kalau saya make twitter sebagai salh 1 sumber inspirasi, karena kadang-kadang nemu aja twit menggelitik🙂
      atau bisa juga buat share tulisan setelah nulie di blog
      wah tapi emang ga ada yg menandingi plongnya menulis di blog….
      intinya menuangkan dimana aja oke, belajar dari tulisan dimana-mana… *nyegir😀

      09/01/2012
  12. membaca tulisan ini dan komentar2 yang muncul membuat saya tertarik.
    blog dan twitter, saya mengenal blog lalu twitter. setidaknya sudah pernah mencicipi jadi orang yang dibayar untuk nulis, pengalaman sesuatu banget

    14/10/2011
    • Wah lengkap deh kalau gitu….

      14/10/2011
  13. Baru belajar ngeblog, Kaka Bukik. Baru kuat nulis 250-an sampai 500an karakter.😀 Etapi kayaknya emang jangan kepanjangan kali ya tulisannya. Apalagi kalau sasarannya teman-teman ABG. Hehehe.

    13/10/2011
    • Yup. Sesuaikan dengan sasaran pembaca kita…..

      13/10/2011
  14. enakan twitter lah, spontan tanpa mikir.. sindir satu, ngrasa semua.
    kalo ngeblog? nggak mikir juga sih tapi at least lebih serius, mikirin estetika bahasa & tampilan.. tapi intinya 22-nya masih onani, curhat mikirin diri sendiri.. abis kalo nggak kita, sapa lagi yang mikirin kita hiks. Jakarta, city of empty hearts.. *silet nadi*

    13/10/2011
    • Ahahahay curhat yo kok nonggo……

      13/10/2011
  15. lama gak blogwalking.. hihihi.. lama pula gak nulis🙂

    sebagai orang yg suka berhubungan dgn agency, saya paham sih kenapa mereka sekarang melirik twitter, dan bukan blogger.

    kalau ke blogger dulu, yang mereka cari itu beneran influencer. artinya, si blogger itu emang suka/tertarik dengan produk brand. kalau suka, niscaya si blogger akan senang menuliskannya. dulu malah yg jadi issue, para agency PR gak bisa bedain gimana men-treat blogger saat bikin acara. mereka berpikirnya blogger = jurnalis, tapi punya media sendiri. bahkan hingga kini, masih ada yang berpikir seperti itu. ok, ini cerita lain sih ya.

    kembali ke twitter. nah kalau memilih buzzer di twitter alasannya beda. buzzer tidak mau saya samakan dengan influencer. buzzer ini murni kayak orang ngomong di toa, dan berharap yang dengar teriakannya ikut menyimak. buzzer gak melulu orang yang emang suka dengan brand-nya, tapi kebetulan saja, pendengarnya banyak.

    kalau orang media agency mikirnya gini. kalau beriklan di facebook kan bisa menggunakan social ads-nya facebook. jelas tuh hasilnya. leads ke website atau facebook page brand pun bagus. nah, kalau di twitter harus lewat mana? karena twitter secara resmi belum punya tools serupa yang bisa dipakai di Indonesia, maka jalur yang dipakai adalah memanfaatkan user twitter sebagai media promonya. apalagi kebetulan banyak seleb yang difollow penggemarnya di twitter. kloplah sudah. makanya ada beberapa tweet yang kesannya jadi kayak iklan baris. yang penting pas ngetweet, pesan brand nyampe atau link ke website brand dimunculkan atau akun brand dimunculkan.

    ada beberapa buzzer yang mengemasnya pintar. mengemasnya dalam bentuk percakapan, tanya jawab dulu dengan followernya, lalu diakhiri dengan pamungkasnya adalah promosi dari brand. namun jangan tanya, apakah si buzzer itu benar2 menggunakan produk brand itu? kemungkinan besar sih tidak🙂

    12/10/2011
    • Perlakuan terhadap blogger. Bahkan sampai sekarang pun masih kesulitan mbedakan blogger beserta kualitasnya. Kemarin sempat lihat iklan sliweran di sebuah blog tempat orang nyasar berkat google. Kasus serupa masih banyak sepertinya

      Setahuku, buzzer dengan follower diatas 50 puluh ribu biasanya langsung hard sell alias iklan baris gitu. Meski gitu dampaknya memang besar sekali. Salah satu posting blog ini sekali di RT sama akun yang followernya ratusan ribu langsung trafficnya melonjak deras. Tapi aku pesimis kunjungan itu berdampak pada tindak lanjut dalam bentuk perilaku nyata.

      Sementara, buzzer yang dibawah 50 ribu biasanya lebih menarik. Ngajak ngobrol dulu. Ilmu marketingnya dipakai. Menurutku lebih elegan.

      12/10/2011
  16. Sebuah posting yang menginspirasi pak.. Saya sangat sepakat dengan kolaborasi twitter dengan 140 karakternya dengan Blog.. Entah kenapa saya langsung “tunes” baca bagaian ini.. Sepertinya ada power yang menarik saya untuk mengungkap seperti apa ketika 140 karakter bertemu blog… Hmm..

    12/10/2011
    • Seringkali ketidaksukaan pada sesuatu disebabkan karena ketidakpahaman
      Ketidakpahaman biasanya disebabkan karena tidak mencoba menggunakan
      Buat yang menggunakan keduanya, akan memainkannya dengan tangkas
      Seperti dirimu kan?

      12/10/2011
  17. Ben wae ta, Cak… Paling Alan bertahan sampai berapa lama ta Twitter itu. Nanti kalau para onliner tambah cerdas, akan kian selektif merespon twit, tidak asal klik dan retwit. Mari kita buktikan, berapa bulan lagi efektivitas Twitter sebagai penebar iklan…. Walau, itu sah-sah saja mau digunakan untuk apa…

    12/10/2011
    • Kalau menurut saya, twitter tidak akan mati tapi perannya akan lebih proporsional tidak seperti sekarang yang terasa diatas angin

      12/10/2011
  18. aktif kedua2nya dong.. tapi kalau twitter aku jarang membahas sesuatu yang berat seh.. palingan pikiran selewat aja langsung ditulis.. Kalau blog lebih perlu waktu khusus buat nulisnya..

    12/10/2011
    • Jadi kalau pengen yang ringan follow twittermu, kalau pengen yang berat follow blogmu? *eh hehe

      12/10/2011
  19. wibisono #

    Dari medianya saya lebih suka memilih ngeblog dari pada twitteran. Memang sih informasi twitter begitu cepat namun tidak mendalam. Kalo media blog banyak ulasan ulasan yang tidak ada di twitter yang bisa kita jumpai di blog. Yang saya rasa sekarng itu yang ngeblog semakin berkurang jumlahnya. entah ganti media atau memang sudah jarang update.

    bagi agency alangkah baiknya bisa mensinergikan antara blog dan jejaring sosial seperti twitter dll.

    12/10/2011
    • Pertanyaannya simpel, mengapa media konvensional seperti kompas, tempo interaktif dll punya twitter meski content berita dalam web mereka lengkap?
      Kemungkinan karena twitter melengkapi web mereka.

      12/10/2011
  20. wahyu asyari m #

    intinya gini om, kalo seneng yang panjang2 ya ngeblog kalo seneng yang pendek2 ya ngetwit :))
    hehehe

    12/10/2011
    • Yup. Kalau dilihat dari perspektif personal memang lebih simpel.

      12/10/2011
  21. yang jelas Keduanya sama-sama membuat kita lupa waktu

    12/10/2011
    • Kalau profesinya ngeblog dan ngetweet apa juga disebut membuat lupa waktu?

      12/10/2011
  22. Menurutku blog lebih bisa menjadi media informasi yang lebih baik dari twitter. Tapi semuanya saling berhubungan. Seperti pak Bukik yang menggunakan twitter sebagai sarana promosi blog. Buktinya traffic bisa naik sampe 700 pengunjung tiap hari klo dilakukan secara rutin kan. hehe sekarang 1000 ya pak? *eh

    11/10/2011
    • Halah…… *nocomment *tertingting

      12/10/2011
  23. dinneno #

    Twitter dan Blog, 2 hal berbeda tapi memiliki fungsi yang sama menurut saya. Bahkan dari twitter sering muncul ide-ide untuk dituangkan di blog.

    11/10/2011
    • Yup. Setuju. Twitter bagi penulis adalah peretas ide, ruang besar untuk brainstorming ide. Kita bisa ujicoba ide yang sekiranya kita sukai sekaligus disukai orang lain.

      12/10/2011
  24. tetapi terkadang banyak teman-teman blogger yang mengenal twitter jadi jarang update blognya lagi pak…

    11/10/2011
    • Nah!
      Padahal dari twitter bisa menghasilkan ide kreatif buat nulis posting blog
      Contohnya : Posting Nukman dan Posting Sibair yang dihasilkan justru dari percakapan di twitter.

      12/10/2011
      • cakep, dua postingan yang sblumnya pernah saya baca…

        ide menulis memang datang darimana saja, termasuk dari twitter..
        dan kenyataannya sejak twitter ada menulis di blogpun biasanya setelah mendapat pencerahan dari garis waktu di twitter…
        dan sebaliknya setelah nulis diblog di share lagi di twitter, timbal balik

        12/10/2011
  25. DV #

    Ada banyak hal menarik dari postingan ini, kupilih salah satunya.
    Aku suka quote ini: “Oleh karena itu, patut disayangkan, kalau digital agency hanya memilih twitter sebagai medianya. ”

    Menurutku, kenapa digital agency hanya memilih twitter, justru karena kemudahan penerimaan ketimbang blog. 140 character, sangat sulit untuk orang menciptakan ‘gaya’ tersendiri, semua serba standard karena keterbatasan.

    Keterbatasan dan standard itu membuat ‘pesan’ lebih ‘mudah dimengerti’. Beda dengan blog, orang bisa seenak jidat menginterpretasikan ‘pesan sponsor’ sehingga alih-alih mudah dimengerti dan mencapai apa yang diharapkan, malah bisa jadi pesan berbalik maksud dan ancurlah promosi🙂

    Just my two cents🙂

    11/10/2011
    • Hehehe bener juga sih
      Tapi menurutku, kebanyakan posting review produk itu terlalu baik-baik saja
      Tesisku: Review baik-baik saja tidak menimbulkan percakapan. Tanpa percakapan maka tidak terjadi promosi yang kuat.
      Tapi belum nyoba eksperimentasi. Mungkin habis ini hehehe

      12/10/2011
      • DV #

        “baik tak baik” itu absurd ketika dihadapkan pada keharusan memaparkan dalam jumlah kata yang panjang.. kalau pendek, sependek twitter, semua akan terasa “baik”

        Analogi yang mungkin tak terlalu tepat tapi “OK” adalah demikian, sampeyan diminta jalan lurus di sebuah gang selebar 1.5 meter sepanjang 20km, ketika Anda lelah dan dehidrasi, anda akan tak bisa jalan lurus dan nabrak dinding…
        Tapi kalau cuma disuruh jalan 10 meter, gampang🙂

        Got it?

        12/10/2011
        • Hehehe metafor yang menarik
          Setuju tentang jalan lurus…..
          Bisa dikatakan twitter itu sakcrutan alias peltu tho….
          Memang cepat dan langsung mengena
          Tapi setiap keadaan punya konsekuensinya tersendiri
          Aku pernah lihat follower sebuah akun soal, memprotes tweet iklan yang semakin banyak di akun itu
          Apa artinya? Follower juga punya kekuatan yang sama untuk melakukan tindakan untuk mengekspresikan ketidakpuasannya.

          12/10/2011
          • DV #

            Kalo menurutku masalah ketidakpuasan follower itu urusan lain sih karena tanggung jawab pihak markom brand adalah “uang iklan harus habis dari anggaran supaya taon depan ada anggaran baru!”🙂

            Masalah follower yang tak puas menurutku adalah tanggung jawab si buzzer dan jadi konsekuensinya.
            Logikanya gini, sebuah brand ngasi duit x amount of money to buzzer karena buzzer itu punya sekian ribu follower…
            Trus si buzzer tweet soal brand. Namun karena basi, para follower lantas meng-unfollow buzzer.. taruhan deh tahun depannya si brand tak kan kontak si buzzer lagi karena followernya berkurang🙂

            Dunia yang menarik sih… bergelimang uang, aku memilih tak masuk ke dalamnya purely demi menjaga idealisme menulis yang tetap teguh *eh🙂

            12/10/2011
            • Paragraf 1 : Jleb banget. Lah masak markom brand sudah seperti birokrat gitu?

              Paragraf 2 : hehehe bener sampeyan. Penting keadaan yang ada pada saat transaksi. Dampaknya gimana urusan belakangan.
              Influencer dengan puluhan atau ratusan follower memang seksi di mata brand. Cara mudah menyebarkan pesan

              Paragraf 3 : Dunia yang menarik, karena itu aku mencoba masuk ke dalamnya untuk menguji idealisme. Idealisme itu bukan yang hidup di gunung, tapi tetap fokus ketika di keramaian pasar. *ini OOT deh perasaan

              12/10/2011
  26. Posting yg inspiratif. Saya sependapat mas. Jika diibaratkan pohon, maka blog adalah batangnya, sedangkan cabang dan rantingnya adalah piranti sosial media yang “mewarnai” sosok pohon itu secara keseluruhan. Saya juga menggunakan media blog dan piranti socmed (FB/Twitter/Koprol/Mim) serta berusaha terus mengoptimalkan penggunaan keduanya

    11/10/2011
    • Wah langsung meluncur ke sini. Terima kasih Daeng….
      Pohon, batang dan ranting? Itu metafor yang keren buat menggambarkan pembagian peran kedua media sosial itu.

      11/10/2011
  27. keduanya sama-sama memiliki keterbatasan audiens..

    saya tidak sepakat jika pengguna twitter serta-merta disebut influencer, ada sih, tapi tidak semua, kebanyakan adalah tukang clometan minim konten dan makna

    yang bikin risih adalah ketika ada pengguna twitter yang kemudian menggunakan ‘bahasa twitter’ di luar media twitter

    penutup, saya sepakat bahwa twitter dan blog perlu digunakan bersama-sama sebagai media yang punya keterbatasan ruang audiens itu tadi..

    11/10/2011
    • Walau memiliki keterbatasan, keduanya mempunyai kekuatan. Kalau dipadu bisa keren. hehehe

      11/10/2011
  28. Menjelaskan banyak hal mas, great post

    11/10/2011
  29. kalo aktif ditwitter biasanya saya kebanyakan curcol ga penting.😀

    11/10/2011
    • Hehehe gitu ya…..ringan di twitter, yang serius di blog?
      Mengapa gak disinergikan? Atau memang butuh tempat buat curcol ya *eh

      11/10/2011

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: