Skip to content

Bukik Bertanya: Mawar Biru @ShitaDewi

Shitadewi depan

Seorang perempuan dengan beragam bakat yang mensimbolkan dirinya sebagai mawar biru, Dian Rishita Dewi. Siapa dan mengapa melukiskan diri sebagai mawar biru? 

Dulu, aku dan D. Rishita Dewi itu teman di Facebook. Entah bagaimana bisa berteman. Meski berteman tapi jarang banget atau hampir tidak pernah saling berkomentar. Sampai kemudian aktif di twitter, aku ngobrol tentang Tarot yang kemudian membuatku mengenal beberapa teman Jakarta dan Denpasar yang menekuni Tarot. Setelah itu, akhirnya ada yang memention mengenalkanku dengan akun @ShitaDewi sebagai orang Surabaya yang menekuni Tarot.

Akhirnya mulai ngobrol asyik di twitter dan sampai suatu kesempatan kopdar. Pertemuan yang mencerahkan. Kami ngobrol panjang lebar tentang berbagai topik yang jarang dibicarakan seperti arti Tarot, Celestine Prophecy, dan spiritualitas. Topik yang bagi banyak orang dinilai berat, tapi kami perbincangkan dengan ringan tapi tetap menakjubkan. Intinya, obrolannya nyambung…..

Selain itu, aku mengenal sisi lainnya, ketika @ShitaDewi tampil di Fresh Surabaya mempresentasikan Tunjukkan Karakter Brand Anda dengan Cinta. Kapasitasnya sebagai seorang marketing tampak dengan tetap luwes sebagai seorang perempuan.

Jadi, aku pikir sudah seharusnya aku berbagi cerita tentang profil @ShitaDewi di rubrik Bukik Bertanya ini. Bagaimana menarik sosok dirinya? Simak…..

Saya, dikenal dengan nama Dian Rishita Dewi. Sewaktu kecil sering dipanggil dengan nama kesayangan “cempluk” sesuai dengan pipi yang gembil dan badan yang “bantat” ^^

Sanak keluarga lebih mengenal dengan panggilan DIAN ketimbang Shita yang baru digunakan pada saat SMA. Bukan karena lebih keren, tapi karena saat masuk kelas 1 SMA, di kelas sudah terlebih dahulu ada teman yang dipanggil dengan nama DIAN dan DEWI sehingga kehabisan nama panggilan untuk membedakan diri dengan lainnya. Karena itu dipanggilah dengan panggilan SHITA, nama yang kemudian popular dengan munculnya group “Rida Sita Dewi” pada tahun 1995

Arti nama justru ditemukan sendiri, saat berusaha mencari makna diri dalam kehidupan sekitar tahun 2006-2007. Karena mau tidak mau,..nama adalah doa. Doa yang dipanjatkan kedua orang tua kita mengenai harapan dan mimpi yang mereka inginkan terjadi pada kita. Bahkan tak jarang, nama juga mengandung misi-misi yang kita emban selama kita hidup.

Nah,..sekarang gimana dengan nama Dian Rishita Dewi?

Nama Dian dipilih karena berarti api atau lampu, lentera dalam bahasa melayu. Seorang anak yang membawa penerangan buat lingkungan sekitarnya. Alias enlightenment aka pencerahan yang ternyata selaras dengan numerologi tanggal lahir 11-01-1977 yang berjumlah 9 dengan arti IX. THE HERMIT who brings the enlightenment and the lamp of knowledge into the world through her very own journey of life.

Nama Shita diambil dari nama idola papa yang saat itu popular yaitu Raesita Supit. Terlihat jelas kalo maksud beliau supaya saya bisa sehebat Bu Raesita Supit yang kini termasuk jajaran perempuan berpengaruh di negeri ini. Amin,…Semoga saya tidak mengecewakan beliau.

Kalo nama Dewi ditambahkan hasil sumbang saran dari tante, adik papa untuk menambah aura perempuan dalam diriku. Lalu apa kata kamus tentang asal dan arti dari nama saya?

DIAN

Api, Lampu, Lentera. Dalam bahasa Latin merujuk pada DIVIANA, sebuah nama latin berarti Dewi dari Romawi. Ini adalah salah satu nama dari Dewa Bulan Romawi Kuno, atau juga sering disebut Artemis. Selain Dewi Bulan juga disebut Dewi Hutan dan Kemurnian atau Kesucian. Nama lainnya adalah Cyntia dan Delia.

RISHI

Dalam bahasa sansekerta merujuk pada Resi, yaitu pertapa, pendeta, seorang suci, sastrawan bahkan bisa juga disebut Nabi yang mendapat Wahyu dalam agama Hindu.

SHITA or SITA

Tokoh protagonist dalam kisah Ramayanana. Merupakan istri dari Sang Rama, tokoh utama dari kisah tersebut. Menurut pandangan Hindu, Shita merupakan inkarnasi dari Laksmi, Dewi Keberuntungan, shakti atau istri dari Dewa Whisnu. Dalam tradisi pewayangan Jawa, Shita dkenal dengan Shinta.

DEWI or DEVI

Dewa perempuan. Perempuan yang cantik. Jantung hati.

Sungguh nama yang mengandung makna yang berat untuk dipertanggung jawabkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah harapan untuk menjadikan Dian Rishita Dewi menjadi seorang dewi yang membawa pencerahan, kemakmuran dan kebahagiaan bagi lingkungan sekitarnya melalui kemurnian rasa, kata-katanya, sentuhannya, dan tindakan-tindakannya, karena pada akhirnya sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberikan manfaat pada semesta.

Kejadian yang menggetarkan bersama orang tua? Bagi kebanyakan orang hal ini mungkin tak cukup menggetarkan hati untuk diceritakan, namun kebiasaan ini yang paling lekat hingga saat ini yang tunjukkan betapa besar kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya yaitu kebiasaan papa & mama menyedot habis ingus dari hidung kami tanpa rasa jijik setiap kami sakit flu. Kebiasaan yang jarang ditemukan di tahun-tahun belakangan ini. Tergantikan dengan metode menyedot ingus menggunakan alat-alat kedokteran

Secara garis besar, peristiwa-peristiwa besar dalam hidupku berkisah tentang pelecehan, penghinaan, penolakan, dan pengkhianatan. Ironisnya sebagian besar dari peristiwa-peristiwa tersebut dilakukan oleh orang-orang yang dikenal dalam lingkungan dekat, orang-orang yang seharusnya memberikan perlindungan dan cinta kasih. Peristiwa yang cukup membekas namun masih dalam skala paling ringan adalah saat berusia 10 tahun, digiring dan di interograsi oleh satpam supermarket di kota kelahiran Madiun karena dianggap mencuri 1 (satu) bungkus nata de coco yang dibeli untuk bahan pelajaran memasak di sekolah. Terselamatkan oleh kasir supermarket yang mengenali bahwa saya sebagai pembeli bukan pencuri. Peristiwa itu terjadi hanya karena berbaju sederhana apa adanya dan bersandal jepit, saat keadaan ekonomi keluarga masih pas-pasan.

Di masa awal-awal peristiwa itu terjadi meninggalkan rasa marah pada keadaan yang mendorong diri untuk melakukan perubahan demi untuk membuktikan bahwa diri berharga dan layak untuk dicintai. Rasa amarah itu lama kelamaan berubah menjadi pengertian dan pemahaman bahwa untuk dicintai itu harus diawali dengan mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Cinta datangnya dari dalam, itulah kebahagiaan yang hakiki.

Inilah yang mendorong diri untuk kemudian berbagi dan ikut peduli memotivasi orang lain  untuk hidup dengan lebih positif. Walaupun hidup mengajari tentang kepahitan, bukan berarti diri kita harus ikutan pahit kan? Justru yang ada adalah tantangan bagaimana supaya diri bisa memberikan manfaat yang manis

Saya adalah orang yang percaya bahwa tiada ada kejadian yang kebetulan dan semua hal adalah terjadi sebagai bagian dari pesan untuk melengkapi peran dalam kehidupan. Termasuk tidak kebetulan jika ternyata karir yang dijalani saat ini merupakan perwujudan impian masa kecil.

Sedari kecil, saya biasanya melamun, membayangkan hal-hal yang jadi impian saya, salah satunya adalah impian bekerja menjadi seorang perempuan pekerja yang aktif dan smart, bekerja di tengah-tengah orang banyak dimana kata-katanya di dengarkan orang lain, diwawancarai oleh banyak media, profilnya masuk di majalah atau media terkenal. Lucunya pada saat saya membayangkan semua itu saya tidak punya gambaran tentang apakah pekerjaan yang memungkinkan untuk melakukan itu semua.

Lalu 25 tahun kemudian mimpi itu menjadi nyata. Mimpi tersebut berhasil “menggiring” saya secara sadar tidak sadar untuk kemudian mewujud dalam kehidupan saya. Itulah mengapa saya tidak percaya pada kebetulan itu sungguh-sungguh suatu kebetulan.

Apa yang saya hargai dari diri saya? Daya tahan dan iman pada Tuhan untuk tidak pernah menyerah begitu saja pada kesulitan-kesulitan hidup. Percaya bahwa segala macam yang terjadi, baik atau buruk, justru pertanda bahwa hidup sedang dinaikkan kualitasnya. Lainnya, ada hal lain yang membuat saya lebih menghargai saya sendiri adalah kemampuan untuk mengampuni, memandang hidup dengan apa adanya, berusaha adil terutama pada diri sendiri dan orang lain sehingga maaf pun tidak hanya sekedar ucapan di bibir saja. Tidak menyimpan dendam dan memandang hidup dari sudut pandang yang positiflah ini mempermudah saya untuk cepat bangkit lagi tanpa memperpanjang masalah.

Keluarga bagi saya adalah penguji yang nyata. Mengapa? Justru dalam keluarga itulah kualitas diri diuji. Terlahir di keluarga yang memiliki filosofi berbeda dalam memandang hidup diawal-awal dirasakan sangat sulit, apalagi begitu mudah prinsip pluralisme dianggap sebagai aliran yang sesat, murtad, dll.

Melalui keluargalah justru saya belajar tentang bagaimana mewujudkan keselarasan dalam perbedaan serta bagaimana menunjukkan konsistensi dari niat melalui kata-kata dan perbuatan yang nyata dalam keseharian.

Guru bagi saya ada beberapa macam, mulai dari guru yang memberikan pengajaran melalui tulisan-tulisan yaitu guru kitab, alam semesta yang juga disebut guru alam, hati nurani pun terkadang dianggap sebagai  guru dan tak ketinggalan orang lain sebagai guru dalam perjalanan hidup kita. Peran dan pelajarannya pun tergantung pada kejadian dalam hidup kita.

Ada yang datang dalam peran orang yang menyebalkan, mengkhianati kepercayaan, menyakiti bagi saya, merekalah guru sabar saya. Orang-orang yang mendorong saya untuk menjadi sabar melalui perbuatan-perbuatan buruk mereka karena marah ataupun mendendam pada mereka tidak membawa manfaat kecuali malah membuat hidup semakin berat dengan beban dendam. Sebagian lainnya datang sebagai orang-orang yang mengajarkan tentang tanggung jawab, tetap welas asih, dll. Orang lain boleh datang dan pergi, intinya tetap sama yaitu memberikan pelajaran untuk dimaknai dalam perjalanan kehidupan.

Lahir di kota kecil seperti Madiun dan hidup dalam kesederhanaan serta budaya lokal yang kental membuat saya cukup dekat dengan Indonesia meskipun pada usia 20 tahunan sering terbesit untuk kuliah di luar negeri dan tinggal disana. Namun makin lama, rasa cinta dan kagum pada Indonesia justru makin besar sehingga gagasan untuk tinggal di secara permanen di luar negeri sudah tak tak pernah lagi terlintas.

Kehidupan bagi saya adalah seperti kertas kosong ataupun seperti kanvas putih kosong, tempat dimana saya bisa melukis, mewarnai ataupun menuliskan sesuatu diatasnya. Baik dan buruk kehidupan tergantung pada apa yang saya torehkan diatasnya, itulah pilihan hidup yang membutuhkan tanggung jawab untuk menyelesaikan pilihan hidup hingga tuntas. Saya percaya bahwa bagaimana cara kita memandang kehidupan dapat terlihat dari seberapa besar rasa syukur kita pada kehidupan kita sendiri. Dan saya mensyukuri tiap detail kecil dari kehidupan saya.

Simbol yang paling melukiskan diri saya dan kehidupan saya adalah mawar biru. Kenapa mawar? Mawar tak hanya berkarisma, tapi juga penuh gairah, sekaligus misteri. Bunda Maria (Siti Maryam), ibunda Nabi Isa a.s. menunjuk mawar sebagai lambang kesempurnaan duniawi dan surgawi. Di India, mawar adalah simbol mistis karena Dewi Laksmi–dewi sumber kecantikan–dilahirkan dari kelopak mawar.

Kenapa biru? Mawar biru memiliki makna “attaining the impossible” keinginan yang tidak mungkin menjadi nyata. Ini berkaitan dengan legenda ribuan tahun tentang keberadaan mawar biru yang dianggap memiliki kekuatan untuk meluluskan permintaan yang paling tidak mungkin sekalipun sehingga keberadaannya diburu, hingga akhirnya mawar biru benar-benar bisa diciptakan melalui rekayasa genetika pada tahun 2004. Selain itu  mawar biru juga merupakan lambang dari kesetiaan, pengabdian dan cinta kasih yang mendalam. Kemurnian rasa.

Bagi saya mawar biru adalah simbol yang pas tentang saya dan kehidupan saya, bagaimana kesetiaan, pengabdian dan cinta kasih yang mendalam pada Tuhan menjadi sumber kekuatan untuk menjadi yang terbaik dan meraih hal-hal yang tidak mungkin sekalipun. Simbol yang mengingatkan pada pengharapan kuasa Tuhan.

Saya membayangkan dan ingin menyaksikan Indonesia sebagai bangsa besar yang menyadari dan menghayati kebesaran potensi bangsanya tanpa kemudian jadi Negara yang angkuh. Negara yang damai, sejahtera, dan dihargai di kancah internasional. Negara yang punya harga diri.

Sebuah negeri dimana orang-orang menyadari dan menjalani hidup dengan rasa syukur pada peran dan tanggung jawab masing-masing saling mendukung, memandang perbedaan sebagai hal yang memperkaya khazanah hidup bukan sebagai hal yang membuat perpecahan. Mewujudnya “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangwra”

Untuk mewujudkan impian saya itu, saya berusaha menyadari siapa diri, peran diri, tugas diri dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu yang kini tengah dijalani adalah menyebarkan hal-hal positif yang bisa membawa perbaikan bagi sekitar, sekecil apapun itu misal melalui social media, pergaulan sehari-hari dan lain-lain. Dengan tindakan itu, yang diharapkan adalah kembalinya budi pekerti dalam dada manusia Indonesia.

Demikian kisah Sang Mawar Biru, @ShitaDewi, yang menurutku menjadi sosok yang mengubah kekelaman manusia menjadi penuh welas asih. Sebuah simbol yang melukiskan keyakinan mendalam akan kekuatan Tuhan untuk meraih dan mewujudkan sesuatu yang paling tidak mungkin sekalipun.

Apa inspirasi yang anda dapatkan dari kisah ini?

Klik untuk Langganan Bukik.com via Email

7 Comments Post a comment
  1. ayu ya pak…😉

    10/01/2012
  2. namanya keren banget artinya🙂

    22/10/2011
  3. edofaqeeh #

    “mensimbolkan” atau “menyimbolkan” pak ?? #uhuk😉

    07/10/2011
  4. Ini sita RSD kah mas? masih belum ngudeng.. >_<

    02/10/2011
    • Hehehe bukaaaan…..

      03/10/2011
  5. Mawar Biru…. dalam diri seorang Shita (RSD) wahhh maknanya bikin Shita makin mistis saja pak ^^ and that’s her… She is Shita with the Blue Rose

    02/10/2011

Trackbacks & Pingbacks

  1. Bukik Bertanya: Mawar Biru @ShitaDewi | TravelSquare

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: