Skip to content

Faktanya, Uang itu Menumpulkan Kreativitas

uang

Faktanya, uang yang diberikan sebagai bonus, hadiah, atau insentif justru menumpulkan kreativitas manusia. Fakta yang memutarbalikkan keyakinan banyak orang, termasuk anda mungkin. 

Ada kisah tentang sebuah sekolah. Dahulu kala, sekolah kecil dan miskin itu terdapat banyak guru-guru yang penuh dedikasi terhadap muridnya. Mereka betah berlama-lama di sekolah untuk menyelesaikan tanggung jawabnya. Dengan segala keterbatasan, mereka kreatif mencari cara agar para muridnya bisa menguasai pelajaran. Misi pendidikan begitu dijunjung.

Sampai suatu ketika, datang gelombang perubahan atas nama profesionalisme pendidikan. Kepala sekolah mengundang sang ahli manajemen untuk menata sistem sekolah. Sang ahli pun bekerja menyusun peraturan kerja, uraian tugas setiap posisi, penilaian kinerja sampai pada sistem penggajian. Sekarang, guru dapat bekerja dan dibayar secara profesional. Kepala sekolah merasa puas atas hasil kerja sang ahli.

Apa yang terjadi kemudian? Guru mengikuti uraian tugas secara konsisten. Mereka menyelesaikan tugasnya, tapi tidak lagi memperhatikan tugas rekannya. Guru datang ke sekolah pada saat dibutuhkan dan pulang begitu kewajiban usai. Suasana berubah. Suasana guyub perlahan menghilang. Upaya kreatif perlahan sirna. Semua terpaku pada tanggung jawab dan insentif tentunya.

Dulu, aku tidak punya penjelasan atas kisah yang diceritakan seorang teman tersebut. Sekarang, aku mendapat penjelasannya setelah menyimak pemaparan Daniel Pink, seorang pemikir kontemporer, ketika memaparkan isi bukunya “Drive”. Pemaparan tersebut disampaikan dan di videokan oleh TED.com. Silahkan simak video yang berasal dari Dan Pink on the surprising science of motivation.

Transkrip bahasa Indonesia video ini bisa dibaca di TulisanInspirasi.

Keyakinan umum, insentif uang meningkatkan kinerja, prestasi dan kreativitas. Semakin besar insentif uang yang bisa didapat karyawan maka prestasi karyawan itu akan meningkat. Oleh karena itu, organisasi menawarkan insentif uang yang semakin besar bila karyawannya mencapai target kerja. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak berprestasi akan kehilangan kesempatan mendapatkan insentif uang.

Keyakinan umum tersebut sudah diterima begitu saja oleh para pelaku bisnis. Oleh karena itu, setiap inisiatif atas nama profesionalisme akan menata sistem imbalan yang berbasis pada motivasi eksternal itu. Sistem manajemen menjadikan logika “permen dan cambuk” ini sebagai dasarnya. Semakin bagus kinerja semakin dapat banyak permen. Semakin buruk kinerja semakin dapat banyak cambuk.

Sayangnya, kajian Daniel H. Pink merusak keyakinan yang telah diterima oleh umum tersebut. Kajian Pink bukan sekedar penjelasan logis, tapi berdasarkan riset dari berbagai ujung dunia mulai AS, Eropa hingga India. Selain itu, Pink juga memaparkan beberapa kasus bisnis yang menguatkan argumentasinya.

Sam Glucksberg di Universitas Princeton di AS membuat eksperimen dengan membuat 2 kelompok yang diminta mengerjakan sebuah teka-teki yang sama. Pada kelompok pertama, Sam meminta mereka mengerjakan teka-teki itu dan kecepatan penyelesaian akan dijadikan standar waktu penyelesaian. Pada kelompok kedua, Sam mengatakan jika peserta termasuk 25% peserta tercepat maka mereka akan mendapat 5 dollar dan bila mereka tercepat dari semua peserta akan mendapat $20.

Siapakah yang paling cepat menurut anda? Kalau berpijak pada keyakinan umum, tentu kita akan menjawab kelompok kedua yang lebih cepat. Temuan Sam Glucksberg : Kelompok kedua justru memerlukan tiga setengah menit lebih lama dari pada kelompok pertama. Wow! Pemberian insentif bukannya meningkatkan kinerja, justru menumpulkan pikiran dan menghambat kreativitas. Eksperimen ini diulang berulang kali hampir 40 tahun dan hasilnya sama.

Dan Ariely, salah satu ekonom besar masa kini, bersama 3 rekannya melakukan studi pada mahasiswa MIT. Peserta eksperimen diberi beberapa permainan untuk diselesaikan. Kalau berprestasi, peserta akan mendapat hadiah uang dengan tiga tingkatan, kecil, sedang dan besar. Apa yang terjadi? Selama permainan hanya memerlukan keterampilan mekanis, hadiah uang itu meningkatkan prestasi peserta eksperimen. Tapi peserta dihadapkan pada permainan yang membutuhkan hanya sedikit saja kemampuan nalar, hadiah yang lebih besar justru akan menyebabkan menurunnya prestasi. Eskperimen ini diulang di Madurai, India dan hasilnya sama saja. Tidak ada bias budaya yang mempengaruhi hasil studi.

Ekonom di LSE mempelajari 51 penelitian tentang sistem bonus atas prestasi dalam berbagai perusahaan. Kesimpulan mereka, insentif keuangan dapat memberi dampak negatif pada kinerja secara umum.

Daniel H. Pink menjelaskan keyakinan umum bahwa insentif meningkatkan kinerja merupakan cara kerja kita di abad industri yang mekanis. Tetapi untuk jaman kreatif, kita butuh pendekatan yang sekali baru. Sistem operasi baru untuk bisnis itu digerakkan oleh 3 unsur: Kemandirian, Keahlian dan Tujuan Bermakna. Kemandirian berarti karyawan dapat mengarahkan diri dalam melakukan pekerjaan. Keahlian, hasrat untuk menjadi semakin ahli dalam suatu bidang yang penting baginya. Tujuan Bermakna, sebuah kerinduan melakukan aktivitas yang penting & bermakna, sebuah tujuan yang lebih besar dari pada untuk diri sendiri.

Apakah sistem operasi baru ini ide spekulatif dari Daniel H. Pink? Mungkin tapi ternyata sudah ada banyak kasus bisnis yang membuktikan efektivitas sistem operasi batu tersebut. Atlassian, perusahaan software Australia, beberapa kali setahun memerintahkan para insinyur mereka untuk “Pergi dan kerjakan apa yang kamu suka dan inginkan selama 24 jam ke depan, asal itu bukan pekerjaanmu”. Para insinyur justru menghasilkan revisi kode program yang keren selama waktu luang tersebut.

Lebih radikal lagi, Google yang memberikan waktu otonom sebanyak 20% dari waktu kerja buat para insinyur mereka. Mereka bebas melakukan apa saja kecuali mengerjakan pekerjaanya. Dan hasilnya, setengah dari produk baru itu dihasilkan dari 20% waktu tersebut. Waktu bebas justru menghasilkan ide kreatif yang keren.

Terakhir, kompetisi antara Encarta versus Wikipedia. Encarta adalah ensiklopedia besutan Microsoft. Encarta dikerjakan oleh ribuan profesional yang digaji besar, diawasi manajer bergaji tinggi dan diatur dengan jadwal yang pasti. Wikipedia digarap dengan model kesenangan. Tak ada kontributor artikelnya yang dibayar satu sen pun. Sukarelawan.

Apabila kita bertanya pada ekonom 10 tahun yang lalu, siapakah pemenang pertarungan Encarta versus Wikipedia maka tak ada satu pun ekonom yang menjagokan Wikipedia. Kenyataannya sekarang, Wikipedia menjadi pemenangnya. Sementara, Encarta tinggal nama.

Pertarungan ini adalah pertarungan antara model insentif versus model internal. Pemenangnya jelas, motivasi internal menang KO melawan motivasi eksternal. Sayangnya, banyak pelaku organisasi dan bisnis masih tetap merasa berada pada abad ke-20 yang mekanis. Padahal riset dan kenyataan menunjukkan bahwa (a) Hadiah dan insentif uang hanya efektif untuk beberapa pekerjaan saja; (b) Hadiah dan insentif justru menghancurkan kreativitas; (c) Rahasia prestasi tinggi adalah motivasi internal yaitu Kemandirian, Keahlian dan Tujuan Bermakna.

Apakah tempat kerja anda menggunakan motivasi eksternal atau internal?  

Klik untuk Langganan Bukik.com via Email 

Sumber Foto : Fousty

26 Comments Post a comment
  1. wow banget pak artikelnya. jadi inget2 jaman dulu pas kerja, ketika diiming2in hadiah, malah cenderung kerja secara aman dan yang penting betul (dimata bos). beda sama kalau mengerjakan sesuatu yg kita gak mengharap hadiah, lebih fokus dan total. Pertanyaan berikutnya adalah gimana ya cara menstimulasi kreativitas tanpa kasih iming2 hadiah seperti yang skrg dikerjakan semua orang, bagaimana caranya bikin sistem yang bisa meningkatkan motivasi internal itu tadi. peer nih :s

    30/11/2011
  2. sumber masalah itu kesenjangan realitas dengan teoritis yang diindikatori dengan uang.. untuk menyelesaikan masalahpun, ada panicingan berupa uang..
    akhiru kata, permasalahan selesai dan perusahaan mendapat profit berupa uang..

    27/11/2011
  3. bagaimana kalau uang justru menantang orang untuk lebih kreatif agar mendapatkan uang yang lebih banyak?

    02/11/2011
  4. 1. ternyata aku salah baca judul “faktanya uang itu menumpulkan kreativitas” tapi yg aku baca adalah: “faktanya uang itu mengumpulkan kreativitas” –> terbukti otak saya mata duitan.. maklum kak bokek prematur.

    2. boleh nggak artikel ini anda print dan kirimkan ke kantor2? blackmailed juga gpp deh aku bantuin ;p karena banyak perusahaan merasa C&B (Compensation & Benefit) yg berupa duit, kredit mobil, gaji tunjangan etc naudzubilah gedenya.. aku berharap boss2 bisa bilang “Pergi dan kerjakan apa yang kamu suka dan inginkan selama 1223654276 jam ke depan, asal itu bukan pekerjaanmu, dan bawa cek senilai Rp 45523369412239 ini sebagai uang sakumu”

    ya kalo baca TL twitter ngga ada sih yg ngeluh “aku pengen naik gaji” adanya “aku pengen liburaaaan”, “bosaaaan sama rutinitas”, “boleh gak sih ngga usah ngantor hari ini”

    eh itu home timeline apa timelineku ya? :p

    13/10/2011
  5. Tulisan yang bagus karena didukung riset yang mumpuni, yang menjadi pertanyaan apa yang menjadi fakta atau sebuah catatan bagaimana menajamkan/meningkatkan sebuah kreatifitas tanpa melibatkan yang namanya uang dalam sebuah perusahan😀

    13/10/2011
    • Kalau baca transkripnya, ada 3 formula : Autonomy, Mastery & Purpose. Autonomy: kehendak untuk mengarahkan dan mengatur diri sendiri. Mastery : hasrat untuk menguasai dan menjadi ahli pada bidang yang disukainya. Purpose : Pencapaian yang lebih luar dari pada diri sendiri, melampui kepentingan diri.
      Jadi perusahaan harus mendidik para pemimpinnya dan mendesain sistem kerjanya berbasis 3 formula tersebut

      13/10/2011
  6. artikel yang menarik, dan bisa dibuktikan oleh seorang teman saya,seorang ilustrator ‘kreatif’ ketika mendapat perintah kerja, lamanya minta ampuun, tapi klo membuat sesuatu yang dia anggap menarik, dikerjakan cepat dan hasilnya bagus, itu satu kasusnya aja, mungkin ada kasus-kasus lainnya

    13/10/2011
    • Yup. Kasus menarik…..

      13/10/2011
    • clovedooper #

      ilustrator , dia mengerjakan sesuai tuntutan client, tp kalo client memberikan kebebasan hasilnya juga bakal sam dgn kerja tanpa dibayar..🙂

      07/01/2012
  7. ..Memupuk Kesadaran dari dalam diri itu sangat penting, bukan krna “jika – maka”. ~perakteknya dalam dunia kerja tanpa “jika – maka” sulit juga… Hehehe,

    *memotivasi diri sendiri dulu*
    goodartikel🙂

    10/10/2011
  8. Menarik sekali temuan mas Pink ini, dan karena dibawakan dengan real-world cases jadinya lebih menarik. Buat saya sendiri ini kasus yang nyata, karena dalam sebagian besar pengalaman pribadi, untuk tugas-tugas yang terkait kreativitas atau otak kanan, extrinsic motivations nggak mempan😀 mau dikasih reward apa atau diancem apa, kalau belum “nemu” intrinsic link nya seringkali bablas missing deadline, atau hasilnya nggak maksimal.

    Thanks for sharing. Kapan ya TED mampir ke Indonesia?

    10/10/2011
    • TED sudah ada kok di Indonesia. TED yang diorganisasikan secara independen namanya TEDx. Ada TEDx Jakarta, TEDx Makassar, TEDx Bandung dll

      13/10/2011
  9. Browsing motivasi anak kok lah jebule merene tho, mas… Sekalian komen wae nek ngono…
    Yang paling menarik menurutku Dan bilang “not socialist campaing” (tawa), setuju sekali, cuma masalahnya bukan hanya di sektor bisnis itu permen dan cambuk. Di pre-school ada sticker/stamps sebagai bagian ‘nilai’, dan masih banyak kontroversi lain dalam penerapan ‘nilai’ yang sejenis.
    Di salah satu artikel blog saya pernah baca, terjadinya perubahan perilaku anak ketika mulai mengenal penggunaan sticker/stamps sebagai ajaran perilaku mereka. Dari anak-anak yang manis yang bekerja sepenuh hati menjadi anak-anak yang ‘rakus’ hadiah.
    Kasihan, mas… dari mulai kecil anak sudah dibiasakan seperti itu.
    Semoga dari dunia manajemen dan bisnis semua bisa berubah menjadi lebih baik, karena biasanya perubahan yang paling mampu memberi efek luas adalah dunia bisnis dan usaha.
    Matur tengkyu buat ilmunya…

    30/09/2011
    • Wah contoh yang semakin mencerahkan……..kita justru harus menumbuhkan kemauan anak, dorongan dari dalam diri. Sesuatu yang membuat anak tidak mudah terombang-ambing dalam lingkungan yang semakin tidak pasti

      03/10/2011
  10. Wah,mas Bukik bener2 memudahkan org yang streamingnya lambat kaya saya. haha.. makasih mas buat insight-nya,luar biasa

    30/09/2011
  11. Aku kira pak Bukik bakal nulis sebanyak ini. Ternyata tulisan di bawa video itu transkip dari video. Tapi benar-benar menarik pak.. terimakasih terlah berbagi ilmu.. *salim*

    29/09/2011
    • Huahahaha sudah aku sebutin kok….aku kan gak tega sama teman yang gak bisa lihat videonya….

      03/10/2011
  12. sakuramochi #

    Menarik! Jadi pengen nyoba di kantor

    28/09/2011
  13. Buat semuanya, terima kasih sudah berkomentar
    Aku juga baru belajar dari Daniel Pink. Melongo setengah gak percaya
    Tulisan dibawah video itu transkrip dari video, bukan tulisanku

    26/09/2011
  14. DV #

    Honestly, saking lengkapnya sampai tak bisa dikomentari… tapi aku ingin memberikan apresiasi: SALUT!🙂

    Anda benar-benar seorang dermawan ilmu mau berbagi ilmu sedalam ini

    26/09/2011
  15. spaham ma @ridhoadhie

    ni kyk artikel utk materi kuliah y mas😀

    26/09/2011
  16. Hm, presentasi yang out of the box, bikin kepala ini cenat cenut, nggak kuat, terlalu lama berpikir dalam otak kiri…

    25/09/2011
  17. Bener juga, saya masih selalu bekerja berdasarkan iming2 reward, ketika kerja berhasil target dan reward tidak diberikan akan berujung kecewa,di kerja berikutnya menjadi tidak fokus dan tidak termotivasi.. hiks..

    nice artikel pak..;)

    25/09/2011
  18. tumben aku baca tulisan mas bukik dengan kening berkerut, seolah tulisannya terlalu berat (mungkin karena baca via bb dan sambil nonton barcelona + ngantuk2 hahaha…) Yah intinya hampir sedikit sama seperti artikel parenting yang pernah saya baca : “membangkitkan tujuan hidup / misi hidup yang kuat untuk anak2 kita” bukan sekedar “kalo kamu belajar dan dapet rangking nanti papa belikan PS3 atau travel ke wakatobi” (klo ini aku juga pengen). Kalau saya gak lupa ingatan ada jenis kecerdasan yang dapat merangsang jenis kecerdasan lain yaitu kecerdasan eksistensial, yang intinya pada kepekaan untuk merasakan, menghayati, dan memahami tujuan hidup diatas pijakan keyakinan terhadap Tuhan sehingga potensinya terasah, kreativitasnya berkembang. Wah messi cetak gol lagi 4-0 *sekian terimakasih, waktunya cari buryam di kantorpos sidoarjo :))

    25/09/2011
  19. I know that the spades are the swords of a soldier
    I know that the clubs are weapons of war
    I know that diamonds mean money for this art
    But that’s not the shape of my heart (STING)

    24/09/2011

Trackbacks & Pingbacks

  1. Mengapa Waktu Luang di Tempat Kerja itu Penting? | Bukik Ideas

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: