Skip to content

Bukik Bertanya: @YanuarNugroho, Peneliti Pelangi

Yanuar Nugroho depan

Yanuar Nugroho, orang Indonesia yang menjadi pengajar dan peneliti di Universitas Manchester. Bagaimana cerita-cerita menarik di balik kehidupannya?

Rubrik Bukik Bertanya hadir dengan menampilkan kisah menarik dari berbagai macam orang. Kali ini kita akan menyimak cerita dari Yanuar Nugroho, seorang peneliti di Universitas Manchester. Saya mendengar nama Mas Yanuar sudah bertahun-tahun yang lalu tapi berkomunikasi dengan beliau baru beberapa bulan ini. Itu pun melalui twitter. Sungguh pencipta twitter pantas mendapatkan surga hehe.

Dulu saya mengenal Mas Yanuar dari seorang guru saya yang perhatian pada urusan urban. Kemudian, saya membaca tulisan-tulisan menarik mas Yanuar di web Unisosdem. Setelah itu lama berlalu tanpa ada kejadian terkait dengan nama Yanuar Nugroho. Sampai kemudian profil beliau di tampilkan 1 halaman penuh di Harian Kompas, bisa dibaca disini dan disini.

Setelah itu, sempat melihat tweet mas Yanuar berseliweran di linimasa dan akhirnya saling follow. Tweet-tweet beliau asyik. Kita bisa belajar berbagai ilmu. Kita bisa belajar kehidupan yang berbeda, kehidupan di Inggris. Analisisnya tajam terutama terkait kerusuhan London. Sampai suatu ketika beliau ngetweet tentang kehidupan personalnya sebagai peneliti.

Catatan perjalanan profesi Mas Yanuar ini luar biasa. Beliau terpilih sebagai Staf Akademik Terbaik di Manchester Business School di Universitas Manschester dan orang Asia pertama yang mendapatkan “Hallsworth Fellowship Award”.

Terlepas dari capaian tersebut, saya sendiri pribadi kagum dengan sosok Mas Yanuar yang rendah hati, bersedia mendengarkan dan murah hati berbagi ilmu. Bila kita klik blog beliau maka kita akan mendapatkan banyak sumber pengetahuan yang keren. Blog beliau di Audentis.wordpress.com. Masih sempat nge-blog ya…… Bahkan masih rajin ngetweet lho, follow saja di @YanuarNugroho.

Lebih dari itu, beliau konsisten dan bangga menjalani profesi yang menjadi passionnya, peneliti. Sebuah profesi yang tidak begitu dibanggakan di negeri ini. Sebuah profesi yang langka dianjurkan oleh para orang tua.

Bagaimana cerita perjalanan kehidupan beliau sebagai seorang peneliti? Simak…

Nama saya, Yanuar Nugroho. Yanuar dari bulan Januari, Nugroho dari kata Jawa “kanugrahan” yang artinya anugerah. Jadi nama saya berarti ‘anugerah yang tiba di bulan Januari’🙂 Almarhum Bapak saya, yang memberi nama, barangkali memang hanya seorang Jawa yang sederhana, jadi tidak susah-susah mencari nama buat anak-anaknya. Kedua adik saya pun struktur namanya sama persis dengan nama saya.🙂

Di keluarga saya dipanggil Nugroho. Teman-teman memanggil saya Yanuar. Entah kenapa, saya tidak tahu🙂 Ada sahabat-sahabat dekat waktu kuliah yang memanggil saya ‘Endut’ – karena memang saya tergolong gendut untuk ukuran orang Indonesia🙂

Tak ada yang istimewa sebenarnya dari kehidupan saya. Minat saya sejak lama, selain musik, adalah soal ketidakadilan. Berawal dari pengalaman langsung saat kerja praktek saat masih kuliah di Teknik Industri.

Begini ceritanya: pertengahan 1993 saya melakukan kerja praktek di sebuah BUMN X. Pekerjaan saya dan teman-teman sekelompok adalah mendesain alat bantu lini produksi (jig and fixture). Singkat cerita kami dianggap sukses. Desain kami diterima dan katanya akan diimplementasikan. Dengan desain kami, kira-kira hanya akan dibutuhkan 3 orang di tiap lini produksi, yang saat itu ditangani 12 orang. Dengan sekitar 14 lini produksi, terbayang kan penghematannya?

Nah, awal 1994, saya melakukan kerja praktek lagi, kali ini di BUMN Y. Suatu siang, saya bertemu dengan seorang pegawai rendahan (buruh produksi) yang dulunya bekerja di BUMN X itu, yang saya kenal baik, karena dia ada di lini produksi dimana saya ambil data. Sebutlah namanya Pak Mamat. Pak Mamat bercerita bahwa dia dikeluarkan dari BUMN X karena ada ‘alat baru yang didesain anak-anak ITB’ yang lebih efisien. Dia bilang dia ‘beruntung’ karena segera bisa bekerja di BUMN Y, karena banyak temannya yang juga dikeluarkan pada saat yang sama belum dapat kerja.

Saya, shock. Saya adalah bagian dari ‘anak-anak ITB’ itu. Efisiensi yang kami agung-agungkan, berbuah pemecatan. Bagaimana efisiensi itu berdampak pada manusia nyata? Itu tak pernah kami dengar di kuliah. Saya nyaris keluar dari ITB tanpa gelar karena shock itu. Untung, saat lulus segera tiba🙂 Itu cerita pertama.

Cerita kedua: saat saya ‘live-in’ dalam sebuah pelatihan analisis sosial pertengahan 1990an. Sebagai bagian dari pelatihan, saya ditugaskan menjadi buruh pabrik sepatu di Balaraja Tangerang. Tentu tanpa diketahui siapapun juga kecuali seorang Manajer Produksi yang memang bekerjasama dengan para panitia untuk ‘menyelundupkan’ saya. Mandor saya pun tak tahu saya seorang insinyur🙂

Pekerjaan saya? Memasang paku kecil (‘paku idep’ dalam bahasa Jawa) di sol sepatu. Sol itu berjalan di ban-berjalan (conveyor belt) dan hanya berhenti sekitar 8 detik di depan saya, dimana saya harus memakukan 6 paku. Kebayang? Itu saya lakukan dari jam 8 pagi sampai 5 sore, Senin sampai Jumat (atau Sabtu? saya lupa), selama hampir dua minggu. Mimpi pun isinya maku sol sepatu. Di teknik Industri saya belajar spesialisasi. Tapi apa dampaknya bagi si manusia/buruhnya? Tak ada sepatah kata pun tentang itu.

Lantas saya bekerja sebagai aktivis sosial, mendirikan beberapa LSM sejak LSM ‘pembangunan pedesaan’ di Bogor Elsppat, LSM pendidikan politik Unisosdem di Jakarta, hingga ikut aktif membantu teman merintis Pusdakota di Surabaya. Saya aktif dalam pengorganisasian basis, ikut demo ini-itu, training ini-itu …🙂 … hingga saya kuliah lagi.

Cerita ketiga: saat saya melakukan disertasi master saya di Inggris 2000-2001. Saya beruntung dapat beasiswa Chevening. Saya mengambil S2 Teknik Informatika, tepatnya Rekayasa Sistem Informasi di UMIST (University of Manchester Institute of Science & Technology — yang tahun 2004 merger dengan Victoria University of Manchester menjadi The University of Manchester). Tapi karena minat saya di gerakan sosial, saya iseng bertanya pada Professor saya jika saya bisa mengkaitakn bidang yang sangat teknik itu dengan bidang sosial? Saya beruntung. Profesor saya memberi jalan: mengapa tidak merancang platform komunikasi politik yang bisa dieksperimentasi? Yakni melihat perubahan reaksi orang saat lingkungan komunikasinya berbeda?

Maka jadilah saya dikenalkan dengan seorang Profesor lain, seorang Psikolog Sosial, dari Victoria Univ Manchester. Saya jadi mahasiswa master satu-satunya yang disertasinya lintas bidang, lintas universitas, dan dibimbing lebih dari satu Profesor.

Saya benar-benar “dimanja” secara intelektual dalam riset S2 saya. Eksperimen ini-itu, membaca banyak buku, berkenalan dengan banyak pemikiran, mulai dari Wittgenstein hingga Habermas, mulai dari Giddens hingga Schumpeter, dll. Saya bisa duduk berjam-jam berdiskusi sambil minum bir dengan kedua profesor itu. Pendeknya, tak ada jawaban “nanti dulu” ketika saya tanya kedua profesor saya.

Saya membuat 2 mailinglist (milis): 1 anonim, 1 identifiable. Saya undang masing-masing 20 orang yang sama tanpa saling tahu. Saya menemukan bahwa orang yang sama ketika identifiable (diketahui identitasnya, red) punya pendapat A tentang sebuah isu, tapi jadi minus A ketika anonim (tidak diketahui identitasnya).

Singkat cerita penelitian saya selesai; terbukti identitas itu bisa jadi struktur yang mengekang sekaligus membebaskan dalam komunikasi politik lewat uji terhadap dampak psikologis atas anonimitas dalam konten komunikasi.

Saya lulus. Cum laude (atau “Distinction” dalam sistem di Inggris). Dan …..ditawari PhD dan dengan segala beasiswanya – penuh, dibayari kampus!

Bagi saya, ini titik penting pertama saya memahami apa itu riset: eksplorasi atas gagasan-gagasan intelektual. Dan menemu-kenali kaitan-kaitan antar gagasan yang bisa melahirkan gagasan-gagasan baru. Dan dua bidang yang selama ini saya anggap terpisah, yakni latar belakang teknik dan minat pada dunia sosial-politik, ternyata bisa disatukan lewat riset. Aha!

Mulailah saya sungguh tertarik pada dunia penelitian dan hidup menjadi peneliti – yang tak pernah saya cita-citakan sebelumnya. Waktu kecil saya ingin jadi masinis, lalu ingin jadi insinyur nuklir, lalu ingin jadi pemusik. Semua kandas. hehe.  Kini  menjadi peneliti? Wah …

Maka tentu senang sekali saya mendapat tawaran PhD dan beasiswanya begitu lulus S2 tahun 2001 itu – untuk mendalami kaitan bidang informatika dan sosial-politik. Sayang sekali saya tak bisa mengambilnya karena sudah ada komitmen lain di tanah air. Bagi saya, memenuhi komitmen itu utama, meski meninggalkan tawaran yang begitu menggoda. Tapi tentu semua ada risikonya.

Saya kehilangan beasiswa saya – meski tawaran PhDnya tetap berlaku dengan syarat harus dimulai tahun 2004 paling lambat. Maka kalang kabutlah saya mencari beasiswa agar bisa berangkat tahun 2004. Beruntung, dari ‘ngeteng’ sana-sini saya mendapat beberapa beasiswa yang meskipun kecil, tapi gengsinya tinggi (hehe) seperti beasiswa John Paul II 100 Scholarship dari Vatikan dan dari FES Jerman. Saya juga dapat beasiswa OSS dari Manchester. Dari 2002-2004, karena tugas saya sebagai Direktur di Business Watch Indonesia, saya juga menulis rutin untuk The Jakarta Post (bisa dilihat di blog saya: Audentis.wordpress.com) – sesuatu yang tidak pernah saya duga akan berpengaruh dalam hidup saya kelak di Manchester.

Singkatnya, pertengahan 2004, dengan beasiswa seadanya, yang bahkan tak cukup untuk hidup setahun di UK, saya dan istri saya berangkat ke Manchester. Rencana kami, istri saya akan bekerja full-time (40 jam seminggu) kerja kasar untuk membantu menutup biaya hidup sementara saya bekerja part time (20 jam seminggu) kerja kasar juga sambil kuliah.

Ternyata, begitu tiba di Manchester, baru hari kedua, istri saya ketahuan hamil (yang sebelumnya divonis dokter kami tak akan bisa punya anak segera karena kami berdua punya masalah dengan reproduksi). Tentu senang dan gembira mendengar kabar ini, tapi juga kecut … kalau istri hamil, dia tak akan bisa bekerja. Sedangkan saya hanya bisa maksimal 20 jam seminggu, dan beasiswa hanya cukup untuk hidup enam bulan. Saya ingat, di flat kami, kami berdua hanya berpegangan tangan dan termangu …. gimana bisa hidup dan sekolah?

Esoknya, masih dengan termangu, saya ke kampus untuk pertama kalinya dengan perasaan berkecamuk. Ketemu kedua supervisor saya. Mereka sangat akrab dan baik. Dan langsung bertanya, “What’s the plan now you’re here? Tell us tomorrow”. Saya ingat persis, hari berikutnya, saat menghadap mereka, saya menarik napas panjang sebelum bilang, “Well, I came here with some plans to carry out my PhD, but perhaps now it will never work. …”

Dan berceritalah saya tentang situasi kami yang tak ber-uang itu. Supervisor pertama saya, yang seorang Profesor sangat senior, bilang, “Well, we can employ you as a research assistant.” Saya kaget. Tak mungkin mahasiswa PhD yang ‘kinyis-kinyis’ seperti saya, bahkan belum mulai riset tahun pertamanya, langsung menjadi asisten peneliti seorang profesor. Dan di UK tak mungkin dia membuat perkecualian atau kolusi🙂

Karena itu, saya tanya hati-hati, “On what ground you will employ me? I have no academic track record apart from a conference proceeding and a journal paper published by an Indonesian university?” Dan apa yang dia katakan membuat saya terperanjat: “You wrote consistently twice a week for two years in The Jakarta Post. I read all of them. That’s the quality we want.” Tulisan saya di TJP ternyata adalah yang menyelamatkan saya saat itu …

Maka jadilah saya memecahkan rekor baru. Mahasiswa tahun pertama PhD yang langsung bekerja sebagai asisten peneliti seorang Profesor — bekerja dua setengah hari seminggu, sejak hari pertama sebagai mahasiswa PhD. Belum pernah ada sebelumnya. Betapa bangganya di ID-card saya tertulis “Staff”, bukan “Student” :-))) dan merasa lega karena setidaknya kebutuhan dasar keluarga kami terpenuhi tanpa istri harus bekerja sama sekali (saya masih bekerja sebagai penjaga toko besi sampai awal 2005 untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain).

Itulah awal karir saya sebagai “peneliti sungguhan” di Universitas Manchester. Saya menjadi asisten peneliti dari 2004-2007 hingga saya lulus PhD. Lalu naik sebagai pene;iti PostDoc 2007-2008, lalu diangkat menjadi Research Associate 2008-2010, dan dipromosikan secara istimewa menjadi Research Fellow 2010 sampai saat ini.

Kalau saya ingat, sebagai asisten peneliti, tantangannya banyak sekali. Tapi yang terutama: apa yang saya teliti dalam pekerjaan saya sebagai asisten sangat berbeda dari apa yang saya kerjakan sebagai mahasiswa PhD. PhD saya tentang Internet dan Masyarakat Sipil Indonesia; sementara riset saya tentang industri jasa, R&D, strategi inovasi, kebijakan inovasi, dll.

Awalnya saya agak stress juga. Tapi lama-lama biasa ‘juggling’ dari satu topik ke topik lain, dari satu buku ke buku lain – belajar bisa melakukan multitasking dalam riset. Itu akhirnya terbawa sampai akhir PhD. Di antara para staf di sini, saya dianggap cukup tangkas berpindah-pindah topik tanpa kehilangan fokus. Entah anggapan ini benar atau salah (kan bukan saya yang menilai? hehe). Rekor saya: melakukan lima riset berbeda dalam seminggu. :-))

Hal lain yang membuat saya makin mantap dalam bekerja sebagai peneliti adalah aspek perubahan sosial-nya. Kebetulan bidang saya adalah Ekonomi-Politik Inovasi dan Perubahan Sosial. Dan lewat riset, saya saksikan sendiri, bagaimana hasil-hasil pemikiran itu sungguh lalu dituangkan dalam kebijakan publik dan juga sektor-sektor privat.

Walau sebenarnya bukan minat (passion) saya, salah satu bidang yang saya dianggap kuat meriset adalah Kebijakan Inovasi (innovation policy). Sebagai peneliti di bidang itu, saya sering diminta menjadi fasilitator workshop foresight kebijakan inovasi di UK maupun negara-negara lain di EU. Dan sungguh, saya saksikan sendiri bagaimana riset bisa mempengaruhi begitu banyak kebijakan publik — dan pada akhirnya, nasib banyak orang.

Saya kira hal-hal itu yang makin mengukuhkan minat saya pada dunia penelitian dan bagaimana penelitian bisa mengubah hidup banyak orang menjadi lebih baik.

Satu hal yang saya pelajari: tak ada jalan pintas. Sebenarnya akal sehat juga tahu hal ini bukan? Tapi sebagai peneliti, makin kelihatan bahwa memang tak ada yang instan. Tips dan trik, bagi kami peneliti, hanyalah bagi “pemalas” (serius! :-)). Setiap peneliti tetap harus berkutat dengan data, melakukan wawancara, melakukan kalkulasi, membaca, menulis … semua. SEMUA. Mulai dari asisten hingga profesor.

Tak ada paper yang bisa ditulis kalau tak membaca. Tak ada kuliah yang bisa disampaikan kalau tak rajin mendengar kuliah atau ikut seminar. Tak akan bisa meneliti kalau tak paham metodologi.

Peristiwa kebetulan? Sebagaimana yang saya ceritakan sebelumnya. Saya menulis di Jakarta Post tanpa pernah menduga tulisan tersebut yang menyelamatkan saya di kemudian hari. Tulisan saya dibaca oleh seorang profesor yang menentukan nasib saya. Tidak ada yang pernah menduga

Saya kira saya orang yang tekun. Saya tidak pandai. Samasekali tidak. Jujur. Tapi saya kira saya menang tekun. Saya bisa melawan kebosanan dalam membaca, menghitung, menulis. Jadi, saat yang lain berhenti karena bosan, saya jalan terus.

Keluarga saya mengajarkan penghargaan sejati atas keragaman. Eyang kakung saya Kejawen, eyang putri saya seorang hajjah, bapak Protestan, ibu Katolik, pakde-bude Muslim, Kristen, Abangan. Saya dididik secara Kejawen sampai akil balik, adik saya juara mengaji saat TK se Kodya Surakarta. Bahwa kini saya dan adik-adik saya menjadi Katolik, itu pilihan bebas kami sepenuhnya. Saya kira saya beruntung dikaruniai teman-teman yang berpikiran terbuka, progresif, maju – itu ikut membentuk saya. Indonesia bagi saya adalah ladang keragaman. Kehidupan ini sendiri adalah keragaman keniscayaan🙂

Simbol diri? Hmmm….Saya tak tahu. Tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Tapi barangkali pelangi adalah simbol diri yang paling pas – karena keragaman spektrum warna-warninya yang begitu kaya. Seperti itu saya memandang diri saya: bukan siapa-siapa, tapi dikaruniai keragaman. Itu juga barangkali yang tercermin dalam diri saya: minat saya banyak mulai dari musik sampai politik, mulai dari filsafat sampai teknik, mulai dari kerja meneliti hingga pengorganisasian atau training (saya dulu certified trainer untuk 7 Habits for young adults, lho! tapi tak pernah memperbaharui sertifikat itu hehe).

Tapi juga itu barangkali kelemahan saya. Karena minat saya beragam, sering saya menemukan diri saya tidak fokus. Cepet pindah dari satu hal ke hal lain … (meski beberapa orang justru iri karena melihat saya tak punya rasa bosan, padahal ….)

Tentang mimpi. Saya ingin menyaksikan Indonesia pada tahun 2030 yang terlukis dengan 3 kata: Rukun, Dinamis, Dewasa – dalam keragaman. Mulai dari orang bebas beragama atau tidak beragama samasekali – tak ada yang saling menyesatkan; orientasi seksual apapun dihargai tanpa fobia; tak ada istilah ‘disabled’ (cacat), yang ada adalah difabel (berkemampuan berbeda). Bebas mengeluarkan pendapat di sekolah, di rumah, di masyarakat. Kerjasama yang ‘genuine’. Politik keragaman yang sehat.  Masyarakat yang maju. Kemajuan diabdikan untuk kemanusiaan dan lingkungan. Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya.

Hal kecil yang saya lakukan untuk mewujudkan keadaan idaman Indonesia 2030 adalah menyuarakan keragaman lewat sains dan teknologi. Lewat peran saya sebagai peneliti dan dosen saat ini. Itu yang saya sampaikan ke semua anak didik saya, baik asing, apalagi terutama dari Indonesia di Manchester atau Inggris yang saya dampingi formal atau informal lewat forum Kemisan (http://kemisan.wordpress.com – forum akademik bagi mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang saya rintis sejak 2004)

Suatu saat saya ingin kembali ke Indonesia dan mengambil posisi publik, agar suara tentang keragaman itu makin kencang. Agar makin banyak orang kembali menghidupi semangat kebersamaan sebagai bangsa. Kita ini bangsa besar, cuma saat ini dikelola dengan mentalitas kerdil – mentalitas yang melihat keragaman secara sempit.

Tentang biografi. Memangnya ada yang mau nulis? Haha .. entahlah. Saat ini, saya tidak terbayang judul biografi saya. Barangkali malah mungkin saya akan disalahpahami sebagai seorang peneliti atau ilmuwan yang naif mempromosikan keragaman?

Soal hal-hal konyol? Hahaha. Banyak sekali. Bilang ‘terima kasih’ pada supir bus di Manchester dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa karena pikiran saya sibuk sendiri, salah masuk ruangan staf lain, dll.

Dari yang banyak itu, satu ini saja yang saya ceritakan: Saya dulu biasa bersepeda ke kampus. Suatu sore, saat saya pulang, saya ke parkiran sepeda dan tidak menemukan sepeda saya di sana. Paniklah saya. Maka saya kontak resepsionis dan segera datang staf keamanan. Mereka melihat dari rekaman CCTV bahwa sejak jam 9.00 pagi sudah tidak ada sepeda itu di sana. Artinya, sepeda itu bisa jadi dicuri begitu saya parkir (saya tiba jam 8.30). Setelah saya file-kan pengaduan itu –dan disertai rasa penyesalan staf keamanan (jelaslah, apalagi saya seorang peneliti senior di sini hahaha) saya berjalan ke halte bus untuk menunggu.

Sambil menunggu bus, saya pikir saya mau telpon istri saya. Saya masukkan tangan ke saku celana dan meraba kertas kecil yang agak akrab bentuknya. Hmm. Saya tertegun. Saya lihat kertas apa itu. Ternyata tiket bus. Untuk perjalanan bolak-balik. Jadi, tadi pagi saya naik bus. Bukan sepeda.

Belum selesai ceritanya. Dalam rentang kurang dari dua minggu, saya pulang dari kantor naik bus. Sesampai di rumah ditanya istri saya, “Mana sepedamu?”.

Saya yakin kita bisa mendapatkan banyak inspirasi dari kisah mas Yanuar, seorang peneliti pelangi. Peneliti yang punya fokus perhatian beragam. Peneliti yang tumbuh dalam kehidupan yang menghargai keragaman. Peneliti yang mengidamkan kehidupan dimana keragaman tumbuh berkembang secara alami. Semoga cerita ini bisa menginspirasi semakin banyak orang untuk menempuh jalan peneliti.

Apa inspirasi yang anda dapatkan dari kisah Yanuar Nugroho? Silahkan berbagi inspirasi di kolom komentar

Klik untuk Langganan Bukik.com Melalui Email

28 Comments Post a comment
  1. ini orang yang saya kagumi, terutama karena pada 2012 berkenan jadi pembicara di ultah AJI di Galeri Nasional, spesial bolak-balik UK – Gambir dalam 3 hari. Selamat jadi pejabat publik, mas.. Amanah. Berkah Dalem..

    04/05/2015
  2. “Tentang mimpi. Saya ingin menyaksikan Indonesia pada tahun 2030 yang terlukis dengan 3 kata: Rukun, Dinamis, Dewasa – dalam keragaman. Mulai dari orang bebas beragama atau tidak beragama samasekali – tak ada yang saling menyesatkan; orientasi seksual apapun dihargai tanpa fobia; tak ada istilah ‘disabled’ (cacat), yang ada adalah difabel (berkemampuan berbeda). Bebas mengeluarkan pendapat di sekolah, di rumah, di masyarakat. Kerjasama yang ‘genuine’. Politik keragaman yang sehat. Masyarakat yang maju. Kemajuan diabdikan untuk kemanusiaan dan lingkungan. Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya.”

    bener-bener..pas baca ini saya benar-benar terharu.ternyata mas Yanuar disini berpikiran yang sama dengan saya. Saya kira tidak ada orang Indonesia yang berpikiran seperti ini lagi. menghargai semua karya Tuhan sebagai anugrah dan bukan “kecacaran”. Mungkin disini saya malu saya hanya terus diam menyimpan rasa sedih akan hal sekarang yang bertentangan dengan mimpi ini. Berbeda dengan Mas Yanuar yang tetap optimis dan terus berjuang jauh di atas saya (umur juga). Saya masih saja berlari di tempat di bangku “pendidikan global”. Yang kebanyakan hanya menilai dari nilai angka.bukan inner value nya.

    Makasih mas atas inspirasi pagi ini. Trimakasih buat Mas Yanuar dan Mas Bukik

    Best Regards,

    Feisal

    30/03/2012
  3. wiwid #

    Saya pikir punya banyak minat itu suatu kelemahan,dan saya selalu berpikir seperti itu,sampai saat ini… Tapi tulisan ini membuka mata saya, kalau banyak minat itu anugerah, sesuatu yg kalau kita tekuni hasilnya pun bisa maksimal😀

    dengan begini,saya tidak perlu merasa ‘kurang’ lagi…

    makasih ya kak bukik untuk share-nya… baguuus…🙂

    23/11/2011
  4. Suka tulisan ini!🙂
    Terimakasih untuk menuliskannya.

    19/09/2011
  5. isti qomarsih #

    Aha! Multi tasking-nya Mas Yanuar ‘Inspiring’ banget. Mas Yanuar, Terimakasih sudah mau berbagi ‘pelangi’-nya. Untuk Om Bukik, terimakasih banget untuk kisah ‘Pelangi’ yang tertutur dengan indah….dan untuk Mas Yanuar dan Om bukik…terus menebarkan warna indah yaaah…doaku untuk mas dan om berdua…..(hhhaallaaagh :d )

    17/09/2011
  6. Wah, seru sekali membaca kisah hidupnya Mas Yanuar. Terima kasih buat Mas Bukik dan Mas Yanuar yang sudah buka-bukaan dalam hal yang positif. Cerita seperti ini menurut saya sangat penting buat generasi Indonesia untuk terus tekun di bidang yang dimudahkan buat masing-masing orang dan memberikan kontribusinya buat masyarakat lewat berbagai cara yang dimungkinkan.

    Great posting.

    Salam kenal buat mas Yanuar.

    16/09/2011
  7. Tunjungbiru #

    ..keren! Terima kasih dibagi pernik-pernik berharga..🙂

    12/09/2011
  8. teman-teman, terima kasih komentarnya. jadinya malah ‘buka-bukaan’ di sini karena ‘dipancing-pancing’ sama mas bukik🙂

    ini semua hanya cerita tentang peziarahan hidup. meski saya punya keinginan, tetapi saya tidak tahu ujungnya nanti ke mana. yang saya tahu, ini jalan yang saya pilih untuk saya tapaki – dan kini sedang saya coba jalani dengan seluruh suka-dukanya. mohon dukungan doa dan energi positif dari rekan-rekan sekalian.

    salam dan jabat erat,
    y

    12/09/2011
  9. Vodafschuler #

    “Sayang sekali saya tak bisa mengambilnya karena sudah ada komitmen lain di tanah air. Bagi saya, memenuhi komitmen itu utama, meski meninggalkan tawaran yang begitu menggoda. Tapi tentu semua ada risikonya.”

    Bangga pernah menjadi salah satu muridnya.

    12/09/2011
  10. ANDRO MEDHA WICAKSONO #

    yuhuuu ada broo Kautsar disana ehehhe
    ga peduli sob… yang openting action kita
    kalau apresiasi ga sampai setimpal ..
    ga papa
    it’s bout PASSION… hahahah s7….

    12/09/2011
  11. Achmad Kautsar #

    Tulisan yang Menginspirasi…
    ^^

    Saya pernah Mendengar Prof. B.J. Habibbie juga mengatakan :

    Indonesia punya banyak CENDEKIAWAN CERDAS yang tersebar di berbagai negara di luar Indonesia.(Siapa bilang orang2 Indonesia bodoh??!!)…dalam hati kecil mereka pasti ingin memberikan “Sesuatu” (entah ilmu atau kelebihan khusus yg mereka dapatkan/miliki) kepada INDONESIA.
    Tapi apa APRESIASI dari INDONESIA??? = NOL (0)

    Semoga Kedepannya INDONESIA memiliki “Permata-Permata” yang tidak hanya dihargai mahal oleh negara lain…tapi juga dihargai SANGAT MAHAL oleh INDONESIA.
    Semoga.
    Amin ^^

    12/09/2011
    • Setuju. Mungkin tepatnya, mereka tidak mendapat tempat dan peran yang layak di Indonesia. Peran yang memungkinkan mereka mengkontribusikan kemampuannya

      12/09/2011
  12. jk #

    artikel seperti ini yang bikin saya betah bermain di bukik.com

    untuk Mas Yanuar, anda memang luar biasa dan sangat menginspiratif pelajar-pelajar di tanah air

    12/09/2011
    • Aha siap…..tunggu artikel-artikel lain ya……terima kasih

      12/09/2011
  13. ANDRO MEDHA WICAKSONO #

    mister BUKIK

    Anda memang TOP
    INSPIRATIF DAN PENUH KEJUTAN
    here your fans !! ^^

    SPeechless setelah membaca ulasan pengalaman Pak Yanuar yang Bukik.com tulis
    TT

    Andai saya bisa *.*

    12/09/2011
    • Aku, kamu, kita pasti bisa……Ayo semangka *eh Semangat!

      12/09/2011
  14. Aar #

    Wawancara yang sangat menarik sekali mas. Pertanyaan2 mas Bukik pasti keren shg bisa menggali sisi2 yg tak biasa dari mas Yanuar. Senang membaca “perjalanan spiritual” mas Yanuar di sini..🙂

    12/09/2011
    • Hehehe saya hanya bertanya……Mas Yanuar yang hebat perjalanan hidupnya

      12/09/2011
  15. sonny andryanto #

    Kisah hidup mas Yanuar bukan sekedar menarik dan penuh keajaiban, Pondasi perjuangan sejak dulu, Membantu keyakinan dan kepercayaan diri.” MOTIVASI ”
    Terima kasih mas.

    12/09/2011
  16. Wow.. yang mau hidup sukses memang gak bisa dengan kemalasan yak. semua harus diperjuangan dengan kerja keras dan pantang menyerah..

    Aku selalu kagum dengan orang-orang indonesia yang berhasil diluar negeri. apalagi menjadi peneliti sprt mas yanuar ini..

    11/09/2011
    • Nah itu…niatnya maunyari jalan pintas jadi tenar…..eh habis wawancara malah kena batunya jiahahahaha…..
      Ketekunan berbuah keajaiban

      12/09/2011
  17. Sebuah pengalaman “multi tasking” yang hebat, bukti tambahan bahwa keberhasilan tidak melulu harus “spesialisasi”. Dikotomi pada satu bidang justru membuat pikiran jadi terkotak, wawasan menjadi terbatas, ibarat menggunakan “kacamata kuda”.

    Terima kasih Mas Bukik dan Mas Yanuar yang mau berbagi. ….Indonesia bangsa yang besar namun sedang dibawa dengan mental yang kerdil… Semoga makin banyak kita tercerahkan dengan orang-orang hebat yang selama ini tertutupi.

    11/09/2011
    • Yup. Tidak harus speasialisasi. Simponi, tidak hanya fokus, kata Daniel Pink

      12/09/2011
  18. Saya ternganga membaca kisah hidup Mas Yanuar yang penuh keajaiban dan “kebetulan”.
    Kisah yang sangat menarik dan inspiratif. Semoga semakin banyak yang mengikuti jejak Dr. Yanuar dan menjadikan Indonesia lebih baik🙂
    Thanks Mas Bukik untuk sharingnya!

    11/09/2011
    • Masih mending menganga, saya jungkir balik hehehehe
      Makasih buat komentarnya

      12/09/2011

Trackbacks & Pingbacks

  1. Warna-Warni Homeschooling « Chrysant
  2. Obrolan bersama Prof Yanuar Nugroho | Rumah Inspirasi
  3. Eros, Sumber Energi Personal Brand | bukik ideas

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: