Skip to content

Bercerita, Kemampuan Abad ke-21 (Bagian 2)

keluarga pencerita

Bercerita terbukti bukan hanya efektif pada anak kecil, tapi juga efektif diterapkan pada orang dewasa. Masa sih orang dewasa mau meluangkan waktu untuk mendengar dongeng?  Simak posting ini

Dalam postingku sebelumnya, bercerita adalah salah satu dari 6 kemampuan abad ke-21. Tapi sayangnya banyak orang beranggapan, bercerita hanya cocok untuk anak kecil. Pada posting sebelumnya, saya menyebutkan penggunaan kemampuan bercerita tidak hanya pada anak kecil tapi juga orang dewasa. Saya coba jelaskan melalui ilustrasi film RV yang dibintangi Robins Williams (sebagai Bob Munro).

Perhatikan adegan setelah menit kedua.

Ceritanya, Bob Munro bersama bosnya, Todd dan seorang partner akan melakukan pertemuan rencana merger dengan perusahaan keluarga Alpine Soda. Awalnya, partner Bob yang maju presentasi memaparkan sekian banyak keuntungan dollar bila rencana merger terlaksana.

Spontan saja, pemilik Alpine Soda, bertanya, apakah semua ini hanya tentang uang? Bagaimana dengan sejarah dan logo perusahaan? Pada saat itulah, Bob Murno tampil ke depan untuk presentasi, kira-kira begini yang diceritakannya…..

Lima puluh tahun yg lalu, jika kau berjalan dijalan manapun di
Amerika…..pada malam Senin yang hangat..Kau akan dengar film seri I Love Lucy dari setiap rumah, disetiap blok. Aku bukan bicara tentang konformitas, aku bicara tentang “Bukankah ini hebat”? Dalam suatu waktu setiap orang Amerika jatuh cinta pada sesuatu bersama-sama. Itu bisa terjadi sekarang ini. Kamu punya produk yang hebat……dan aku pikir, kita punya kesempatan sekali lagi untuk membuat Amerika jatuh cinta lagi pada sesuatu.

Apa yang terjadi? Ya anda pasti sudah menduganya. Rencana merger disetujui. Berkat cerita. (Kalau melihat sampai akhir, Bob Munro bahkan ditarik menjadi pemilik Alpine Soda, yang akhirnya menolak merger dan menjadi perusahaan nasional sendiri).

Begitulah kekuatan cerita. Bob Murno bisa membawa pendengarnya untuk membayangkan suatu keadaan idaman, menyentuh emosi dan melakukan tindakan bersama.

Cerita yang lain, saya ambil sebuah kisah dari A Whole New Mind, Daniel H. Pink. Ada sebuah perumahan yang berencana untuk memindahkan penghuni lama yang akan pensiun dengan penghuni baru, keluarga muda. Perusahaan bersedia membeli rumah dari penghuni lama dengan harga berkali-kali lipat harga awal. Awalnya, mereka mengirim brosur penawaran yang berisi paket menggiurkan secara ekonomis. Tidak digubris. Sampai akhirnya mereka mengirimkan cerita seperti ini:

Florence Skretowics dan suaminya memberi rumah yang menyenangkan ini tahun 1955. Mereka membayar rumah tersebut seharga $20.000 lunas dan senang sekali dengan banyak detil spesial seperti lantai jati yang kuat, jendela-jendela besar lengkap dengan kaca gelap, ukiran jati pada pintu……gantungan mantel dekat ruang pemanasan ala Inggris kuni, dan kolam di taman. Pada umur 91, Florence pindah ke Brighton Garden, suatu tempat pensiunan di Friendship Height, dan saudari-saudari Fernandez, tetangga dan teman-teman lama keluarga, meminta saya untuk menjual rumah berharga ini. Saya merasat terhormat. Florence mengijinkan kami membersihkan rumah tersebut, mencat dinding luar dalam, memulas lantai dan mencuci jendela-jendela.

Kini sebentar lagi dengan senang hati menyambut Scott Dresser dan Christie Consantine, keluarga baru yang sangat menyukai rumah tersebut dan ingin tinggal di sana untuk selamanya.

Brosur tersebut bahkan tidak menyebut harga rumah, bukan kelupaan tapi begitulah jara marketing jaman kreatif. Keputusan menjual rumah yang telah lama ditinggali bukan sekedar perkara finansial, tapi juga perkara emosi. Dan untuk mengatasi perkara emosi, ceritalah juaranya.

Cerita dan bercerita itu menyatukan hati dan emosi mereka yang terlibat di dalamnya.

Dokter yang meminta pasiennya bercerita, jauh lebih bisa memahami rasa sakit dan penyakit yang dialami pasiennya. Pemimpin yang bercerita bisa mengajak pengikutnya membayangkan keadaan-keadaan masa depan dan bergerak menuju ke arah tersebut.

Guru yang bercerita lebih menstimulasi pikiran dan emosi siswa untuk memahami materi pelajaran. Ulama yang bercerita lebih mampu membangun iman di hati umatnya. Orang tua yang bercerita, adalah orang tua yang terbaik.

Apapun profesimu, sudahkah bercerita hari ini?

Sudah bercerita? Salut!! Belum? Ayo belajar dari pencerita generasi baru pada posting ketiga.

Klik untuk Langganan Bukik.com Melalui Email

8 Comments Post a comment
  1. numpang mampir,,,slam kenal

    16/08/2011
  2. iya, ceritakan bukan terpaku sama dengan dogeng yak. emang cerita punya kekuatan yang kuat deh🙂

    12/08/2011
    • Dongeng adalah bagian dari cerita. Kekuatan ada pada cerita. Ngeblog kan juga salah satu cara bercerita. Orang menyebutnya sebagai digital storytelling. Coba deh googling *ngasihkerjaan *hihihi

      12/08/2011
  3. Setelah baca e-book yang saya tanyakan masalah simptom itu ternyata bercerita itu tidak mudah ya pak.. perlu teknik agar para pembaca kita itu menikmati cerita-cerita kita… Saya mau belajar jadi pencerita ah..

    12/08/2011
    • Ho oh……bercerita butuh keahlian, tapi cara belajar paling simpel adalah melakukannya.
      Aku sendiri belajar dari nonton film anak-anak, terutama Dora, the explorer. Beberapa film kartun minikata yang baru juga asyik buat belajar tuh

      12/08/2011

Trackbacks & Pingbacks

  1. Bercerita, Kemampuan Abad ke-21 (Bagian 1) | themanagers.org
  2. Bercerita, Kemampuan Abad ke-21 (Bagian 3 Habis) | bukik ideas
  3. Bercerita, Kemampuan Abad ke-21 (Bagian 1) | bukik ideas

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: