Skip to content

JFC X : Sebuah Pusaran Imajinasi

header jfc

Awalnya dulu, aku terpukau foto Jember Fashion Carnaval di sebuah koran, sehingga menulis “Imajinasikan Semesta”. Aku undang Dynand Fariz, penggagasnya di SL MPPO 2. Tapi baru tahun ini aku menyaksikan keindahan kreasi rakyat berkelas dunia ini.

Tahun ini hampir kelupaan dengan JFC. Entah mengapa, @halidaperidol, salah seorang bimbinganku ujian skripsi tentang JFC tepat menjelang pementasan JFC X. Dan segera saja, aku menghubungi @Dita_AKW, untuk menanyakan undangan untuk hadir di JFC X. Aku sampaikan kalau berencana hadir bersama keluarga dan teman-teman.

Alhamdulillah, aku dapat undangan JFC X. Agenda berikutnya, pesan hotel. Ya ampun. Dua minggu sebelum JFC X, sudah sulit sekali mencari hotel yang masih menyediakan kamar pada hari-H.Aku telp hotel mulai dari rumah sampai di kereta ketika perjalanan ke Jakarta. Hasil nihil. Kemudian mencari informasi di twitter, di bantu oleh @InfoJember pun tidak mendapatkan hasil.

Akhirnya sasaran kupindah ke hotel di Lumajang. Dua tiga hotel yang kuhubungi penuh tapi akhirnya dapat juga. Tapi rencana ini berubah, setelah mempertimbangkan usulan dari @Auisme dan rembugan bersama keluarga. Rombongan kami akhirnya menginap di rumah @Auisme.

Ternyata cobaan masih belum berhenti. Aku mulai demam menjelang hari-H. Aku batalkan acara gathering agar bisa istirahat tapi demam tetap terasa. Demam beserta pilek tidak menghentikan langkahku (tsaaaah….). Aku menyetir sendiri mobil andalan, panther merah, menuju Jember.

Dan judul perjalanan ini, “Perjuangan melawan meler” (ngek ngok banget kan…?)

Kami menginap di rumah yang tak jauh dari lokasi JFC X. Naik becak cukup 10 ribu (10 ribu kok cukup…). Sampai di alun-alun Jember 2 jam sebelum acara, 10.00 WIB, tapi suasana sudah padat. Ribuan orang sudah mengerumuni lokasi. Bahkan banyak yang sudah duduk bersila di pagar pembatas area undangan.

Satu jam menunggu akhirnya pintu di buka, dan kami pun masuk berdesak-desakan masuk ke area undangan. Area undangan terdiri dari 2 panggung yang berhadapan dengan jejeran tenda di sepanjang jalur. Satu panggung tempat keluarnya defile JFC X, satu panggung untuk wartawan.

Jember Fashion Carnaval X mengambil tema Eyes on Triumph, menampilkan 9 defile terbaik mulai dari JFC I sampai JFC IX, ditambah Royal Kingdom defile. Setiap defile terdiri dari puluhan performer dengan beragam pakaian unik tapi sesuai dengan tema defilenya.

Sesuai namanya, JFC merupakan sebuah karnaval fashion yang menempuh jarak 3,6 km, dari alun-alun hingga GOR. Kota Jember berubah menjadi catwalk raksasa. Ratusan ribu orang dari berbagai penjuru hadir untuk menikmati mode fashion tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia.

Jalannya pementasan mending langsung nikmati fotonya. Foto yang diambil dari tustel jadul. Jadi jangan berharap banyak keindahan. Tapi JFC sendiri sudah indah kok.

Animal Plant Defile di JFC X

Foto selengkapnya bisa dinikmati di Foto-foto JFC X. 

Ada beberapa catatanku tentang JFC yang tidak ada pada pementasannya.

Pertama, 10 tahun perjalanan JFC menunjukkan konsistensi JFC sebagai icon kreatif di Jawa Timur bahkan di Indonesia, yang dikenal dunia. Bayangkan dampak ekonominya.

Dalam mencipta, penting bersikap apresiatif atas keadaan yang ada. Apresiasi atas suatu keadaan yang dipadu imajinasi dan konsistensi membuahkan karya spektakuler, JFC.

Kedua, JFC sendiri adalah sebuah proses pendidikan yang keren. Model pendidikan yang unik. Setiap orang bisa menjadi peserta JFC. Tidak peduli kriteria kulit, bentuk dan ukuran tubuh, sebagaimana kriteria yang dikenal dalam dunia fashion.

Setiap orang ditantang bebas berimajinasi dan berkreasi mewujudkan imajinasi itu dengan semua bahan yang ada. Tidak heran bila ada sapu ijuk yang menjadi mahkota di JFC. Setiap orang ditantang belajar penuh disiplin. Tanpa kedisiplinan belajar, imajinasi hanya jadi omong kosong.

Setiap orang menjadi bangga dengan hasil karyanya. Setelah berimajinasi, belajar dan berkarya, mereka menampilkan karya mereka dengan penuh kebanggaan di JFC X. JFC telah menunjukkan pendidikan sebagai proses menjadi sekaligus mengubah sebuah kota.

Ketiga, JFC telah menjadi inspirasi kota lain di Indonesia. Sayangnya, inspirasi dengan imitasi agak tipis bedanya. Setiap kota tetap harus mengapresiasi keunikan kotanya dan menciptakan imajinasinya sendiri.

Keempat, 10 tahun pertama JFC adalah sebuah capaian. Jember Fashion Carnaval sendiri perlu mengimajinasikan kembali dirinya untuk dekade keduanya. Ada banyak ruang imajinasi yang masih begitu luas untuk dimainkan di JFC XI.

Apa imajinasimu tentang JFC XI?

Klik untuk Langganan Bukik.com Melalui Email

5 Comments Post a comment
  1. Kemarin juga minta bantuan infojember juga gak nemu hotel.. untung ada temen disana jadi bisa booking di daerah trunojoyo..

    26/07/2011

Trackbacks & Pingbacks

  1. Jember Fashion Carnaval X: Rebranding Kota Jember | themanagers.org
  2. TDL 13 : Imajinasikan Semesta | bukik ideas
  3. Foto Jember Fashion Carnaval X | bukik ideas
  4. JFC X : Rebranding Kota Jember | bukik ideas

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: