Skip to content

11 Patriot : Ayah, Bola dan Indonesia

Sebelas-Patriot.jpg

Aku bukan tipe pemburu orang yang kukagumi. Kalaupun kagum, paling kutulis, bercerita atau mengundang orang itu. Hanya kebetulan bila aku berjumpa dengan AndreaHirata (emang, jaga gengsi dong). Bukan cuma ketemu, tapi foto bareng dan dapat novel terbarunya yang belum beredar di toko buku, Sebelas Patriot.Jadi ceritanya sedang menjadi pembicara Human Capital 3.0 dan Personal Brand di Workshop #DigitalLife. Intinya tentang optimalisasi media sosial untuk perusahaan dan karyawan. Nah sesi terakhir, pembicaranya AndreaHirata yang bicara tentang creative writing. Sindiran-sindiran pemecut semangat dilontarkannya, salah satunya, “Ayo buat sesuatu dengan bakat yang telah dianugerahkan! Jangan cuma masuk jam 7, pulang jam 5”.

Panitia kegiatan sudah memesan beberapa buku Sebelas Patriot, awalnya sih buat peserta workshop. Tapi meski sesi sebelumnya jadi pembicara, tapi tiba-tiba ajaibnya aku berubah jadi peserta di sesi AndreaHirata (hihihi pakai mantra….berubah!)

Dalam sesi itu, AndreaHirata berbagi pengalaman menulisnya termasuk pengalaman mengikuti kursus menulis di luar negeri (ehm nulis dulu jadi best seller baru ikut kursus?). Selama berbagi cerita itu, AndreaHirata menantang peserta buat bertanya dan pertanyaan yang bagus akan dapat novel terbarunya. Wuaaaaaa langsung ngacung aku!

Aku bertanya tentang riset dalam penulisan di bukunya Maryamah Karpov. Sudah pada baca kan? Dalam novel itu, riset antropologinya kuat banget terutama dibagian bagaimana Andrea melukiskan perbedaan antar suku dalam membuat lelucon. Wah pertanyaanku langsung disambut antusias sama Andrea.

Andrea bercerita begitu sedihnya melihat respon pembaca terhadap Maryamah Karpov. Ia salut ketika aku masih mengingat bagian dari Maryamah Karpov yang menurutnya memang berbasis riset, mengamati dan menemukan pola dalam suatu kebudayaan.

Dan seusuai janjinya, aku dapat novel terbarunya, Sebelas Patriot. Uhuy! Langsung ditandatangani dan foto bersama.

Dapat Novel Sebelas Patriot

Dapat Novel Sebelas Patriot

Selepas dari workshop itu, aku pulang dan malamnya meluncur pulang kampung. Baru bisa baca Sebelas Patriot pada hari sabtunya.

Sebelas Patriot ini novel tertipisnya AndreaHirata. Rasanya cuma seperti makan kacang telor ketika membacanya. Kecil, ringan dan cepat selesai dibaca. Aku selesai membaca tak lebih dari satu setengah jam. Jadi teman sarapan di liburan sabtu pagi.

Kisah sebuah perjalanan hidup seorang bocah, seputar ayah, bola dan Indonesia. Andrea tetap dengan gayanya mengkombinasikan keharuan, lelucon dan inspirasi. Jadi baca novel ringan ini kita dibawa masuk dalam ruang-ruang keharuan sambil sesekali nyengir dan ketawa.

Dalam workshop, Andrea menunjukkan sebuah foto wajah yang menyimpan misteri. “Dari foto itu, kita bisa menulis lebih dari 10 cerita”, kata Andrea. Mungkin begitu juga, relasi ikal dengan sang ayah. Relasi yang minim kata dan penuh misteri, tapi bila diurai ada saja cerita memikat yang bisa terungkap.

Dari judulnya Sebelas Patriot sangat mudah menebak bila novel ini tentang sebuah kesebelasan. Tapi hidup bukan semata kisah-kisah kepahlawanan. Hidup adalah tentang orang biasa dengan cerita biasa tapi dimaknai dengan luar biasa. Begitulah alur novel ini. Bukan tentang kemenangan. Bukan tentang perjuangan dari sang pahlawan. Kisah anak manusia biasa yang mencoba berjuang untuk meraih sesuatu yang penting bagi dirinya.

Sebelas Patriot membawa sepakbola dalam konteks personal dan kebangsaan. Baca novel ini, aku jadi teringat jaman bersama bapak, menyetrum aki sebagai perjuangan untuk nonton pertandingan bola di malam harinya. Bola adalah perjuangan bagi Indonesia, perjuangan pula bagi bocah kecil di pelosok Indonesia.

Oh ya buku ini disertai sebuah CD yang berisi tiga lagu. Sebagaimana novelnya, ketiga lagu itu temanya sepakbola. Lagu yang mudah dicerna dan mudah dinyanyikan. Aku sih membayangkan lagu ini dinyanyikan ribuah suporter sepakbola yang tengah merayakan kesebelasannya, di kala menang apalagi ketika kalah.

Akhir kata, bila kamu pecinta bola, rasanya tidak keliru bila membeli Sebelas Patriot. Buat yang tidak suka bola, membaca novel ini bisa belajar mencintai bola dari para perempuan Spanyol yang penuh hasrat.

Catatan:
Buat penerbit, ada kesalahan fatal di bagian Sayap Kiri. Huruf pertama sepertinya keliru deh. Cek lagi ya

Klik untuk Langganan Bukik.com via Email

6 Comments Post a comment
  1. Wah, tadi Indonesia lawan Bahrain berapa skornya? Ga sempat liat karena lagi di perjalanan.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    06/09/2011
    • hehehe masih juga kalah, 2 – 0

      06/09/2011
  2. kalo saya tipe “pemburu” idola yang “kebetulan ada kesempatan”, halaaah…
    pas tau berita kalo Raditya Dika si Kambing Jantan ke surabaya, langsung “ngeyel” dateng ke TP buat liat “standing comedy” yang sering diceritakannya di blog maupun bukunya😀

    iya pak Bukik, saya pertama liat novel itu di Kick Andy, ternyata belum nongol di toko buku yah? hehe *jadi pengen baca* #pinjem di kampus donk Pak😀

    25/06/2011
  3. wuih curang pak bukik >.< klo udah baca pinjem ya pak? #PembacaNista #GakMauRugi hahaha btw itu andrea hiratnya ganti gaya rambut ya? kok botak ? #salahfokus

    21/06/2011
  4. Wuidih, kok udah dapet bukunya duluan? Ahh, iri deh🙂.

    20/06/2011
  5. Rusa gak suka bola kakak
    jadi mo ah beli buku itu

    masih banyak juga buku yg belum Rusa baca😀

    19/06/2011

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: