Skip to content

Garuda Tetap di Dada Kita

Ribuan pendukung timnas Indonesia menyanyikan yel yel untuk memberikan dukungan kepada timnas sebelum pertandingan final leg pertama AFF Suzuki Cup di Stadion National Bukit Jalil, Selangor, Malaysia, Minggu (26/12).

Segerombolan anak kecil berseragam SD dengan tubuh basah kuyub, berjalan dan berteriak menyanyikan “Garuda di Dadaku……” Itu pemandangan di sebuah lokasi sunyi di tengah perbukitan yang curam. Aku teringat akan suatu kebanggaan yang telah lama sirna, INDONESIA.

Dalam ingatan saya, sepercik kebanggaan Indonesia mulai menyeruak semenjak film dan lagu Garuda di Dadaku menjadi sesuatu yang dipercakapkan dan dinyanyikan. Lagu yang awalnya gubahan suporter Persija yang menginspirasi Salman Aristo untuk mengubahnya menjadi film dan Netral menjadi lagu.

Lagu yang berasal dari akar rumput, masyarakat kebanyakan. Sebuah interpretasi rakyat awam terhadap sesuatu yang oleh para ahli disebut sebagai nasionalisme. Ditengah gagalnya para pemimpin Indonesia untuk membangkitkan kebanggaan rakyatnya, rakyat justru yang bergerak sendiri untuk mulai bangga akan Indonesia.

Dan Garuda di Dadaku itu terus menjadi mantra di tengah perhelatan Piala AFF. Babak demi babak di lalui oleh kesebalasan Indonesia. Babak demi babak di semangati rakyat Indonesia. Garuda di Dadaku menjadi perbincangan di semua tempat. Tidak peduli warung kopi pinggir jalan atau cafe mewah di pusat kota. Lebih dari itu, berbagai simbol Garuda di Dadaku bermunculan mulai dari jaket, kaos, syal, pin, sampai gambar profil facebook dan twitter. Rasanya menjadi bangga kembali untuk mengenakan dan mengakui diri sebagai bangsa Indonesia.

Percakapan tidak hanya di dunia offline. Percakapan dunia online terutama Twitter pun begitu diwarnai oleh Garuda di Dadaku. Percakapan pada hari final putaran pertama di Malaysia menjadi fenomena menarik. Topik percakapan warga internet Indonesia ini menjadi Trending Topics, artinya diketahui oleh warga dunia. Percakapan sebelum pertandingan terfokus pada tuntutan #NurdinTurun karena kekecewaan warga internet atas perlakuan PSSI terhadap Timnas Indonesia. Setelah kekalahan timnas sampai esok hari, topik yang mengemuka berkaitan dengan aser dan kebencian terhadap malaysia. Tetapi bagaimana kesadaran warga internet menyeret topik ke arah positif #LoveIndonesia. Luar biasa!

Tarik menarik topik percakapan dalam Twitter tersebut mengambarkan bagaimana jutaan warga internet Indonesia sedang memaknai kembali makna nasionalisme. Nasionalisme sebagai sebuah perasaan senasib, sebuah identitas yang membedakan dengan bangsa lain sampai sebagai sebuah rasa cinta akan komunitas yang kita imajinasikan bersama ini, Indonesia.

Menjelang final putaran kedua AFF, Garuda tetap menjadi pusat percakapan. Topik spesifiknya adalah #GarudaFightsback. Jauh sebelum permainan dimulai, warga internet Indonesia sudah berhasil menempatkan topik itu sebagai trending topics nomor 1 di dunia. Bahkan lebih dari itu, beberapa topik dari Indonesia juga mewarnai trending topics, seperti #LoveIndonesia, Support timnas dan yang lainnya.

Tak hanya online, di dunia offline pun percakapannya begitu menakjubkan. Dalam kecamatan wlingi (Blitar) ada lebih dari 100 tempat nonton bareng. Tempat yang didirikan secara sukarela oleh warga. Menariknya, tempat dan layar yang mereka gunakan di pasang Sang Saka Merah Putih dan aksesoris lain.

Apakah ini tentang sepakbola? Apakah ini tentang olah raga? Saya sepenuhnya yakin, semua itu bukan soal olah raga. Entah bagaimana awalnya, semua itu melukiskan kerinduan kita yang mendalam akan sebuah rasa bangga untuk tampil sebagai bangsa yang besar, Indonesia.

Dan pada akhirnya, walaupun Timnas Indonesia berhasil menundukkan Malaysia dengan skor 2-1, tetaplah tidak menjadi juara AFF.

Dan apa kata warga internet Indonesia? Mereka mencaci timnya? Mereka marah terhadap pemain yang bermain buruk? Ini menariknya. Nasionalisme telah dimaknai dengan cara berbeda, lebih dari sekedar fanatisme sempit. Banyak orang menyatakan kecewa timnya kalah, tetapi tetap menyatakan bangga akan Timnas Indonesia. Sampai 30 menit setelah usai, #GarudaFightsBack dan #LoveIndonesia tetap bertengger di dua besar Trending Topics.

Saya yakin bukan hanya saya yang menangis, tetapi ini bukan tangisan kekalahan. Tangis kekaguman sekaligus bangga. Rasanya sudah lama sekali kita tidak melihat orang Indonesia yang bertarung dan berjuang begitu teguh. Jatuh bangun demi sebuah kebanggan yang hampir sirna, INDONESIA.

Bangsa ini telah menunjukkan kesiapannya untuk menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang memilih untuk menghargai perjuangan pada pejuang-pejuangnya, bukan pada hasil akhir. Nasionalisme bukanlah benda statis. Nasionalisme selalu hidup dan mengalir dalam aliran sungai percakapan bangsa ini.

Saya ingat sebuah percakapan di karya luar biasa Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia:
Minke: “Kita kalah, Ma,” bisikku.
Nyai Ontosoroh: “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Pada akhirnya, Garuda Tetap di Dada Kita. Aku Cinta Indonesia!

Btw, Nurdin tetap HARUS TURUN!
Setuju?

Sumber gambar: http://farm6.static.flickr.com/5244/5296163371_5331b2f8a6.jpg

5 Comments Post a comment
  1. yani #

    Garuda di dadaku gak akan lebih dari euphoria sesaat… Cuma rame saat events olah raga.
    Kenapa rame saat events olah raga?! Karena saat itu Indonesia punya “musuh bersama” dari “eksternal”. Semuanya keriaaan sesaat. Begitu selesai events tersebut ya selesai sudah.

    Nangis kamu juga euphoria, then what?

    01/01/2011
  2. Kevin Sulistiyo #

    Wacana dan pemikiran spt ini yg kita butuhkan. Ini bukan sekedar olahraga, ini murni panggilan utk seluruh masyarakat utk bangga terhadap bangsanya. Terlepas ada oknum pengurus di PSSI yg kontraproduktif terhadap hal ini SAYA TETAP BANGGA, GARUDA TETAP DIDADA KITA. Akhirnya #NurdinTurun pun hrs kita suarakan. Saatnya melakukan perubahan di tubuh PSSI.

    29/12/2010
  3. Selalu bangga dgn Indonesia!

    *NURDIN harus TURUN!!!

    29/12/2010
  4. Moment #AFF ini telah menyatukan suara rakyat Indonesia, baik di twitter maupun di berbagai penjuru daerah. Tetep Bangga pada Timnas, walaupun masih bersabar untuk membawa pulang piala. Yang terpenting adalah #NurdinTurun🙂

    29/12/2010

Trackbacks & Pingbacks

  1. Tweets that mention Garuda Tetap di Dada Kita: Segerombolan anak kecil berseragam SD dengan tubuh basah kuyub… -- Topsy.com

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: