Skip to content

Unggah Prestasi di Dunia Maya

Berprestasi di dunia fana. Hmm..rasanya sudah biasa. Bagaimana jika berprestasi di dunia maya? itu baru unik. Di zaman globalisasi 3.0 seperti sekarang, masyarakat baik perorangan maupun kelompok memang memiliki peranan yang yang lebih kental dalam mempengaruhi apa yang akan disuka atau tidak, mana yang akan trend atau dilupakan, atau sekedar menyumbang pemikiran pada perubahan.Budi Setiawan, atau yang akrab disapa Bukik, tidak mau ketinggalan ambil tempat dalam menjawab tantangan tersebut. Bahkan, lewat blog yang diasuhnya, dosen Fakultas Psikologi Unair ini meraih bronze award, mengalahkan ribuan bahkan jutaan blogger Indonesia lainnya dalam Internet Sehat Blog & Content Award (ISBA) 2010, yang pemenangnya resmi diumumkan pada (31/08) lalu.

Internet Sehat Blog & Content Award (ISBA) 2010 ini adalah sebuah ajang penghargaan sepanjang tahun yang diberikan kepada pengelola berbagai kumpulan informasi online, baik dalam bentuk blog, portalwikijejaring sosial dan sebagainya, boleh perseorangan ataupun berkelompok. Konten yang dimuat tentunya harus dapat memberikan ide ataupun mengarahkan pembaca untuk melakukan tindakan yang positif dan bermanfaat, bagi dirinya ataupun masyarakat sekitarnya di Indonesia.

Selain meraih penghargaan pada blog-nya, Bukik juga meretas prestasi lain. Free ebook pertamanya berjudul “Berkendara Appreciative Inquiry: Upaya Tolol Mengajak Perubahan Positif di Indonesia” masuk dalam showcase portal resmi Indonesia Kreatif yang didukung oleh Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.

Siapa Bukik dan bagaimana keliaran pemikirannya hingga berprestasi di dunia maya, simak tentang Bukik berikut ini.

Tentang Keranjang Ide

Dimulai sejak 2007, metamorfosis di 2009. Blog bertagline Bukik’s Ideas ini memuat kumpulan ide segar Bukik yang muncul begitu saja. “Ini lebih seperti kumpulan gagasan-gagasan awal dan konyol saya saja,” ujarnya. Simak saja bagaimana gagasan bukik.com mengenai anggota DPR yang suka bolos. Kalau yang lain sibuk menyikapi pemindai jari sebagai solusi, Bukik justru mengajak pengunjung Bukik’s Ideas mencermati isu efektivitas proses pertemuan dan pengambilan keputusan di DPR sebagai persoalan dibaliknya. Bermula dari proses mengajar dalam kelas dan olah pendapat.

”Aku tanya ke mahasiswa, siapa pernah ikut rapat? Hampir semua angkat tangan. Siapa yang pernah ikut rapat yang dihadiri 50 orang? Sekitar 20 orang angkat tangan. Kalau 100 orang? Tinggal 8 orang yang angkat tangan. Berapa lama rapatnya? Sekitar 2 jam. Bagaimana keadaannya? Ramai, ribut sendiri. Apa yang kamu lakukan? Kebanyakan sih duduk diam. Apa yang kamu rasakan? Bosen. Males. Siapa yang berhasrat ikut rapat seperti itu? Tidak ada yang angkat tangan. “Malas, pak!” Nah, kalian saja malas untuk ikut rapat yang cuman dihadiri 100 orang selama 2 jam. Apalagi….”, ulas Bukik.com.

Atau tentang seekor kalajengking yang masih saja menyengat sang katak yang telah membantunya menyeberang di tengah sungai, hingga membuat keduanya tenggelam. Bukan perkara tak sayang nyawa, tapi disini Bukik coba menekankan apa yang disebut sebagai kekuatan alami seseorang dan bagaimana mesti menyikapinya.

Usahanya mengisi blog dengan gagasan-gagasan positif merupakan bentuk dukungan Bukik mengkampanyekan internet sehat, melengkapi usaha pemerintah yang kurang mengena pada perubahan. “Pemerintah tidak bisa hanya memblokir konten-konten negatif saja, tetapi harus mulai memikirkan bagaimana meningkatkan konten-konten positif,” tegasnya. Usaha blokir dari pemerintah ini juga dinilai Bukik tidak efektif. “Blokir itu dari depan, google ambil dari belakang,” ujarnya.

Dengan memperkaya konten positif, maka diharapkan konten negatif yang masih bisa diklik oleh paman google secara otomatis akan tergeser posisi dan jumlahnya. Hal ini akan mempersempit kesempatan pengguna internet dalam mengakses konten negatif.

Free Ebook : Biar Free tapi Branded

“Berkendara Appreciative Inquiry: Upaya Tolol Mengajak Perubahan Positif di Indonesia” kini bisa diunduh secara gratis di http://showcase.indonesiakreatif.net atau http://bukik.com. Buku setebal 37 halaman ini pertama kali launching di twitterland tepat di hari kemerdekaan. Isinya menceritakan refleksi pengalaman pribadi sang penulis dalam mengadakan perubahan di Indonesia, berikut analisis kritisnya agar perubahan yang dianggap sebagai solusi permasalahan tidak lantas melahirkan permasalahan baru.

Bukik menyadari, free ebook yang ia luncurkan terbilang melawan tradisi, utamanya di kalangan akademisi. Kalau yang lain sangat anti ilmunya dicuri atau dibajak orang, yang ini justru membagi-bagikannya secara gratis dan terbuka untuk siapa saja. Bagi ayah dua anak ini, usaha meng’gratis’kan tidak ia anggap sama halnya dengan tidak menghargai hasil karya sendiri. ‘Free’ merupakan salah satu strategi personal branding, seperti halnya dengan berbagi pemikiran lewat blog.

“Kalau kita terkenal kita boleh belagu, tapi bagi pemula, kita mesti menunjukkan dulu siapa diri kita, baru bisa tentukan punya harga berapa,” tegas Bukik yang tengah sibuk menggarap “The Dancing Leader”, free ebook keduanya. Afil

Artikel Warta Unair, September 2010

No comments yet

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: