Skip to content

TDL2: Perubahan itu Mudah

Dengarkan The Dancing Leader 2 

Saya punya anggapan bahwa melakukan perubahan itu sulit. Ketika melakukan inisiatif perubahan, saya merancang program yang rumit agar memastikan terjadinya perubahan. Tapi apa yang terjadi? Saya seakan berputar dalam program-program yang saya susun, sementara gelombang perubahan tidak terjadi.

Sampai suatu ketika, orang yang menjadi guru saya menyampaikan suatu pertanyaan, “mengapa kita merasa perubahan itu sulit?” “Pak, bukankah memang perubahan itu memang sulit”, bantah saya. “Mungkin kamu benar, tapi mengapa kita merasa perubahan itu sulit?”. Setelah berhari-hari memikirkan jawabannya, saya menemui guru saya dan mencoba menjelaskan hasil refleksi saya.

Perubahan itu sulit karena kita terbiasa tidak berubah, kita cenderung membangun kebiasaan. Sekali kebiasaan terbentuk maka itu akan menjadi magnet yang menarik, menahan dan mempersulit kita untuk melakukan perubahan.

Dalam organisasi tampak dari kecenderungan bersama membuat standarisasi baik hasil maupun proses. Kita susun SOP yang dapat memastikan semua berjalan sesuai standar. Kita mendidik karyawan kita untuk mengikutinya, bahkan bila perlu dengan reward dan punishment.  Hasilnya, kita menghabiskan lebih dari 50% waktu dan energi kita untuk menangani urusan manajemen organisasi kita.

Apakah keliru? Tidak keliru bila kita masih berada pada jaman yang relatif stabil seperti jaman puluhan tahun lalu. Tetapi sayangnya, perubahan itu alami sifatnya, mau tidak mau terjadi. Upaya membangun standarisasi pada satu sisi bisa berdampak positif tetapi sadari juga dampaknya yang mengikat dan mempersulit kita mengikuti ritme perubahan.

Perubahan itu mudah. Perubahan menjadi sulit karena kita membuatnya menjadi sulit.

Tanyakan pada diri sendiri dan rekan anda “Kapan terakhir kali kita melakukan perubahan kecil yang memecah kebiasaan sehari-hari kita? Bagaimana rasanya?”

4 Comments Post a comment
  1. yanuar pribadhie #

    tiba-tiba saya membayangkan kalo SOP itu dibikin di Whiteboard raksasa yang nanti bisa diganti sesuai dinamika yang terjadi berikutnya, berikutnya.

    nggak saklek. tapi menarik. Perlu dicoba.😉

    21/10/2010
  2. Setuju Kang Bukik !

    Hal tersebut sejalan dengan bidang yang saya geluti saat ini yaitu “terapi perubahan sikap”.

    Hanya saja “kebutuhan untuk berubah” khususnya di Indonesia, mengapa masih bersifat individual dan kuratif belum merupakan hasil sebuah konstruksi budaya.

    Akan sangat menarik jika mekanisme “kebiasaan berubah positif” dapat diusulkan sebagai content pendidikan.

    07/10/2010
  3. The law of inertia mas Bukik, sir Isaac Newton dulu bilang :

    The vis insita, or innate force of matter is a power of resisting, by which every body, as much as in it lies, endeavors to preserve in its present state, whether it be of rest, or of moving uniformly forward in a straight line.

    Yang terbiasa diam, ya cenderung tetap tidak berubah sementara yang terbiasa bergerak, akan lebih mudah untuk berubah terus🙂.

    06/10/2010
    • yup
      sayangnya bisnis ketika tahapan entrepreneur itu aktif bergerak, tetap ketika sudah matang justru cenderung diam

      06/10/2010

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: