Skip to content

Belajar menjadi idiots

Seminggu ini, aku ikut pelatihan yang diwajibkan buat dosen. Sudah diwanti-wanti bu wadek sejak jauh-jauh hari. Selama mengikuti pelatihan ini kok jadi teringat film 3 idiots, ada kesamaannya. Apa itu?

3 Idiots adalah film India yang sangat mengesankan. Aku menyaksikannya berkali-kali bilang j****k di status FB dan twitter (status yang dipermasalahkan di kemudian hari…hehe). Bukan karena mengutuk atau menyumpah, tapi ungkapan begitu brilian ceritanya. Film ini berkisah 3 pemuda yang menjalani perkuliahan di sebuah sekolah tinggi teknik. Dipimpin oleh Rancho, mereka menjalani kuliah dengan sikap kritis atas perlakuan dosen dan kebijakan kampus. Bukan karena sok kritis, tetapi karena mereka menolak berkompromi dan adaptasi. Mereka memilih untuk mengikuti passion mereka. Sebuah sikap yang sering dinilai masyarakat sebagai idiot! Ada banyak scene memikat dalam film ini, tapi aku cerita dua scene yang inspiratif.

Pertama, scene yang menceritakan pengalaman mereka mengikuti kuliah pertama, kuliah tentang mesin.

Profesor:
Apakah “mesin” itu?
Kenapa senyum-senyum?

Rancho:
Uum.. begini, Pak
Sejak kecil aku bermimpi belajar di Universitas
Sekarang aku di sini,
sungguh mengagumkan, Pak!

Profesor:
Tak perlu keheranan!
Jelaskan padaku pengertian mesin!

Rancho:
Umm..
Pak
Mesin adalah sesuatu yang digunakan untuk mengurangi peluang keteledoran manusia

Profesor:
Bisakah lebih kau rincikan..?

Rancho:
Pak, umm…
Semua yang bisa meringankan kerja manusia adalah mesin, Pak
Saat gerah! tekan tombol, angin bertiup,
kipas angin adalah mesin, Pak!
Anda bisa berbicara dengan teman dari jarak jauh,
TELEPHONE adalah mesin, Pak!
Menghitung dalam waktu singkat,
CALCULATOR adalah mesik, Pak
Sebenarnya kita sudah sangat bergantung pada mesin, Pak
Mulai dari ballpoint sampai resleting, semua adalah mesin, Pak!
Detik pertama naik, detik kedua turun,
naik, turun, naik, turun
(Rancho memperagakan membuka dan menutup resleiting)
(Suara kelas tertawa terbahak-bahak)

Profesor:
Definisinya maksudku?

Rancho:
Pak, semua sudah kujelaskan..

Profesor:
Apa seperti itu kau akan menulisnya dalam ujian?
“Ini adalah mesih, naik, turun, naik, turun”?
(Profesor memperagakan membuka dan menutup resleting. Suara kelas tertawa terbahak-bahak)
IDIOT!!!
Ada yang lain?

Catur:
Pak, mesin adalah..)*&#^*&#*&(%#(*&# )*&%*&#%&*(#*&%#$(^($*&%#*&%# (&^%%%$^&*&*&^%$%&*(&#*&%(*&#%%# (ini adalah perkataan Catur tentang mesin menurut buku)

Profesor:
Hebat!
Sempurna!
Bagus, silahkan duduk!

Catur:
Terima kasih
terima kasih

Rancho:
Tapi, Pak, saya mengutarakan hal yang sama, hanya dalam bahasa yang sederhana

Profesor:
Jika kamu suka bahasa yang sederhana..silahkan masuk Institut Seni atau Ekonomi

Rancho:
Tapi, Pak.. Setidaknya kita haruslah memahaminya
Jika hanya meniru buku, apa gunanya, Pak?

Profesor:
Ooh, jadi kamu tahu lebih dari yang ada di buku?
Buku sudah memberikan definisinya.
Jika kau ingin lulus, kau harus menuliskannya

Rancho:
Tapi, Pak, kan masih ada buku lain

Profesor:
Keluar!

Rancho:
Ooh, kenapa?

Profesor:
Dalam bahasa yang sederhana,
“Silahkan pergi ke luar!”

(Jeda, rancho keluar dari kelas)
Profesor:
IDIOT!
Jadi kita akan berdiskusi tentang mesin

(Jeda, Rancho masuk kembali ke kelas)
Profesor:
Hei, kenapa kau kembali?

Rancho:
Aku lupa sesuatu, Pak!

Profesor:
Apa?

Rancho:
Instrument and record, analyse, summarize, organize,
debate and explained information that are elastative and non-elastative hard bound paper bag jacketed non-jacketed with forward introduction, table of cotents index that are intented for the enlightment understanding enhancement and education human brains of sense in root of vision…..sometimes touch!!

Profesor:
Apa yang barusan kau katakan?

Rancho:
Buku, Pak, buku!
(Suara kelas tertawa terbahak-bahak)
Saya lupa buku saya, boleh saya ambil?

Profesor:
Tak bisakah kau sederhanakan penjelasanmu?

Rancho:
Saya sudah melakukannya,
tapi anda tidak suka bahasa yang sederhana

Suara narasi:
Profesor lebih sering menyuruh Rancho berada di luar daripada di dalam kelas
Jika dia diusir dari sebuah kelas, dia akan pergi ke kelas lain
Rancho selalu bilang belajar bisa di manapun.
Selagi bisa, raihlah!

Kedua, scene yang menceritakan Rancho mengajar di kelas. Awalnya, Rancho protes ke Rektor kampusnya yang membuat sang rektor marah dan membawanya ke dalam kelas. Di sana, Rancho disuruh mengajar! Ini potongan dialognya.

(Rektor dan Rancho di depan kelas)
Rektor:
Hari ini, kita kedatangan seorang pemimpin yang hebat
Yang mengaku bisa mengajar lebih baik dari para dosen handal
Maka hari ini, profesor Ranchhodas Chanchad akan mengajari kita mekanika

(Rektor duduk di kelas membiarkan Rancho di depan kelas sendirian. Rancho termenung lama)

Rektor:
Kita tidak bisa seharian menunggu

(Rancho membuka buku mechanical engineering, kemudian Rancho menulis suatu kata di papan tulis: Farhanitrate Prerajulisation)

Rancho:
Kalian semua punya waktu 30 detik
Temukan arti kata yang tertulis di papan
Kalian boleh pergunakan buku
Yang sudah berhasil, boleh tunjuk jari
Kita akan lihat, siapa yang cepat dan siapa yang lambat
Dimulai dari sekarang!

(Semua mahasiswa berlomba membuka buku dan mencari arti kata yag ditulis Rancho. Beberapa saat, rektor penasaran dan ikut membuka buku)

Rancho:
Waktu habis!

(Seiisi kelas termasuk rektor masih sibuk mencari)
Rancho:
Waktu habis!
Waktu habis!
Baik?
Tidak adakah yang bisa menjawab?

(Tidak ada yang menjawab)
Rancho:
Sekarang kita putar sebentar semenit kita tadi, dan fikirkan..
Ketika saya lontarkan sebuah pertanyaan..
Adakah yang berfikir bahwa hari ini kita akan belajar sesuatu yang baru..?
Adakah..?
Pak..?
Tidak
Semuanya berlomba
Apa gunanya jika kalian hanya begini?
Apakah pengetahuan kalian meningkat?
Tidak!
Hanya akan ada tekanan
Ini adalah Universitas
Bukan Panci Bertekanan
Singa sirkus juga belajar untuk bisa duduk di kursi,
hanya karena takut dicambuk
Tapi kita tetap boleh menyebut singa ini terlatih,
bukan terdidik

Rektor:
Hallo….
Ini bukan kelas Filsafat!
Baritahu kami arti dua kata di papan itu!

Rancho:
Pak, sebenarnya itu samasekali bukan kata yang berarti
Itu adalah nama dua teman saya
Farhan dan Raju

(Suara kelas tertawa. Rancho ke papan tulis, memberi garis bawah nama dua teman pada kata yang ditulisnya tadi: Farhanitrate Prerajulisation)

Rektor:
Diam!!!!
Omong kosong!!!!
Seperti inikah kau mengajar mekanika????

Rancho:
Tidak, Pak. Saya tidak mengajari Anda mekamika,
Anda lebih paham daripada saya
Saya mengajari anda, bagaimana cara mengajar,
dan saya yakin, suatu ketika Anda akan memahaminya
Karena saya tidak pernah melepaskan tangan murid saya yang lemah

(Suara kelas tertawa. Rancho lari meninggalkan kelas)

Rektor:
Kurang ajar!
Diam!
Diam kubilang!

Nah, kembali ke awal tulisan tadi. Apa kesamaan dengan pengalaman aku mengikuti pelatihan dosen. Tidak! Sama sekali tidak. Aku tidak cukup heroik untuk memainkan peran Rancho. Lalu apa persamaannya?

Pertama, aku selama berhari-hari diajari tentang berbagai strategi, metode dan teknik pengajaran, bahan ajar dan teknik evaluasi agar proses perkuliahan berjalan lancar dan terstruktur. Tapi aku tidak mendapatkan bagaimana memahami mahasiswa (peserta didik) dan bagaimana mengelola mahasiswa di dalam kelas. Sempat ngobrol dengan seorang kawan. Dia menyatakan setuju bahwa problem dia di kelas adalah bagaimana mahasiswa mengikuti perkuliahan secara efektif. Dan semua itu tidak didapatkan dalam pelatihan yang kami ikuti.

Rasanya, kok ada beda pandangan tentang persoalan pendidikan. Dalam kacamata manajemen perguruan tinggi, persoalannya adalah menstrukturkan proses pembelajaran. Dalam kacamata dosen, persoalannya adalah memahami dan mengelola peserta didik dalam kelas. Mengingat pelatihan adalah program manajemen, maka tidak heran apabila pelatihan menjawab persoalan manajemen. Bukan persoalan dosen. Kalau pola ini dilanjutkan terus, bisa-bisa kejadian dalam 3 idiots akan kami alami juga.

Kedua, Berdasarkan pengalaman beberapa rekan yang lain dan yang kualami, sebagian besar proses pelatihan adalah penyampaian materi melalui ceramah. Sementara, pendampingan penerapan materi pelatihan hanya mendapat porsi yang sangat sedikit. Sejak awal pelatihan semua peserta telah mengetahui akan ada beberapa tugas yang harus diselesaikan seperti membuat desain pembelajaran dan bahan ajar. Sebenarnya, tugas ini adalah tugas rutin para peserta mengingat banyak peserta adalah mereka yang sudah berpengalaman 5 – 10 tahun mengajar. Para peserta yang sudah tahu baik dari teman maupun dari modul mulai mengerjakan tugas itu. Tentu, tinggal mereplikasi atau memodifikasi apa yang sudah dikerjakan selama ini.

Kami mengalami apa yang dikatakan oleh Rancho pada scene kedua: “Ketika saya lontarkan sebuah pertanyaan..Adakah yang berfikir bahwa hari ini kita akan belajar sesuatu yang baru..?” “Tidak!”, jawabku. Aku hanya mereproduksi apa yang sudah kami ketahui dan hasilkan selama ini. Ini jelas bukan belajar!

Belajar itu menjadi idiot! Menjadi seorang pemula! Menjadi seorang yang dahaga! Penuh rasa ingin tahu akan hal baru dan segar! Segala sesuatu dianggap atau dipandang dengan cara baru. Tidak semata mengikuti kebiasaan atau rutinitas yang berlaku.

Tapi apa dayaku? Aku bukanlah Rancho, yang begitu heroik mengkritisi sistem.
Sepertinya, aku masih perlu belajar menjadi idiots! Aku butuh diajari Rancho bagaimana cara mengajar!

Baca juga:
Sekolah Membunuh Kreativitas
Psikologi Kalajengking
Sekolah: Produsen Kekerasan

14 Comments Post a comment
  1. Saya juga menonton ini film berkali-kali,, paling lucu waktu pertama kali mereka bertemu dan si silencer makan petai… ihhh

    15/12/2011
  2. Frankly speaking, following your session is really bored.

    I’m not the one who felt like that, please check to your students, ex students, trainee or ex trainee. In my opinion you are not inspiring enough. Why, just like you and some others lecturer, you don’t have enough practical experiences. It will be different to have someone with practical experiences than someone who always looking through the ideal concepts.

    You always talk about ideal concepts, because you DON’T have any experiences as an employee in profit oriented organization. Yes it does matters!

    If you said that, “I’m facilitator or even I’m consultant” then please see above sentences… It’s nothing because you always talks about an ideal concepts. You are talking about something which called: NGAWANG-NGAWANG.

    Sorry, but it’s true.

    03/09/2010
    • Ya
      Apa yang anda sampakan ada benarnya: pengetahuan dan pengalaman praktis saya lemah/kurang sekali. Pengalaman pun terbatas sbg dosen yang PNS pula.

      Terima kasih masukannya! Point pembelajaran buat saya!

      03/09/2010
  3. oki #

    menjadi “idiot” yang saya tangkap disini adalah menjadi tidak gampang puas akan sesuatu melainkan mulai memikirkan kenapa dan bagaimana ini terjadi. KAdang menurut sebagian orang terlalu banyak bertanya itu tidak baik, dan biasanya “idiot” akan langsung bertanya mengenai sesuatu yang tak ia pahami

    28/08/2010
    • Setuju! Terus terus dan terus mencari

      01/09/2010
  4. memang sangat menantang, untuk kembali merasa tidak tahu. Karena kalo tidak, bisa-bisa orang-orang yg merasa tahu itu, akan di-kutuk dengan pengetahuan-nya, gara-gara sulit merasa gimana rasanya tidak tahu itu. Seneng ada dosen yg ngerasa idiot, dan ngajakin saya untuk selalu ngerasa tolol. “Stay Hungry, stay foolish” ujar Steve Jobs. matur nuwun, artikel-nya pak Bukik.

    24/08/2010
  5. nambahin komen saya yg di atas pak
    maksudnya yg kudu idiot siapa?
    trus apa yg musti dilakukan dari pihak pelajarnya?
    padahal kalo dari pengalaman saya memandang belajar di institusi pendidikan (SD-kuliah) adalah sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri…nyeremin..tidak enak…..penuh tekanan….dan kalo dipikir2 malah jadi kayak robot
    tapi ya saya cuma berani omong doang pak…ga bisa sekeras ranchodas cancad (atau lebih tepatnya Punsukh Wangru)
    hehehehe

    19/08/2010
  6. betul pak…..aku juga amazing ngliat beberapa scene di film itu (kecuali scene menari dan bernyanyinya hehehehe)
    brarti sebetulnya yang idiot siapa sih pak?
    pelajarnya?pengajarnya?sistem pendidikan?
    yang pasti saya tidak mengidiotkan pemerintah…karena kasihan pemerintah udah digoblok2in dimana2, masak harus ditambahin disini
    ijin ngeshare postingannya ya pak

    18/08/2010
  7. Koko #

    setuju sekali…
    keinginan untuk belajar hanya akan tumbuh saat kita merasa bodoh (idiot)….
    tanpa diukuti rasa rendah diri atau minder tentunya… whe he he…
    dan perasaan menyenangkan saat mendapatkan sesatu yang baru….
    dengan passion tentunya…. Terima kasih inspirasinya, Pak !

    28/07/2010
    • Terima kasih juga kunjungannya
      Semoga terus meninspirasi

      01/08/2010
  8. Rovien #

    Membaca tulisan ini jadi tersadar agar memahami keunikan2 pribadi…bukan hanya pada pembelajar, namun juga terhadap individu lain….
    Sekali lagi, memahami bukan melihat kekurangan, namun melihat keunikan!

    27/07/2010
    • Terima kasih
      Sudah menyempatkan waktu untuk berkunjung dan memberi komentar

      01/08/2010
  9. merasa idiots sepertinya lebih baik ketimbang merasa jenius, karena dengan merasa idiots semestinya mendorong kita untuk menjadi pintar, sebaliknya merasa jenius hanya akan mendorong kita menjadi sombong dan tak perlu pelajar apapun

    22/07/2010
    • Betul!
      Sayang, tidak ada yg pernah mengajari utk jadi idiot
      Kita harus belajar sendiri

      23/07/2010

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: