Skip to content

Andai Aku Seorang Rektor

Sedenting Suara Hati Mahasiswa

Als ik een rector. Andai aku seorang Rektor, aku akan ingat benar kata Ki Hajar Dewantara, Als ik Nederlander was. Ungkapan kesakitan Bapak Pendidikan Indonesia atas penjajahan Belanda yang membodohkan dan menghancurkan mental bangsa kita, melebihi hancurnya alam kita akibat pengerukan hasil bumi yang melampaui batas. Sehingga aku tidak akan pernah menjajah orang lain, karena itu adalah pelecehan terbesar terhadap eksistensi manusia. Aku tidak akan memaksakan keyakinan dan pemikiran dengan ancaman nilai dan gelar yang aku punya. Sehingga setiap mahasiswa akan bisa bereksistensi menemukan historisitas diri dan menciptakan karya terbaiknya.

Andai aku seorang Rektor. Aku tidak akan memberikan paradoks ilmiah pada mahasiswa. Pada hari Senin mengajarkan kuliah Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan dan memberi tugas mahasiswa untuk membuat refleksi diri dengan murni pemikiran sendiri tanpa boleh mengutip historisitas orang lain sedikitpun. Lalu pada hari Selasa aku membimbing skripsi sebagai pencapaian tertinggi mahasiswa, dengan tidak boleh mengeluarkan pemikiran sendiri sedikitpun, semuanya harus mengutip. Mengutip historisitas orang lain dalam konteks ruang, waktu, dan budaya orang tersebut. Padahal teori tersebut hanya berlaku sebentar bagi sang pembuat teori, dia akan terus berkelana lagi membuat teori baru. Sementara mahasiswaku hanya bisa mengekor teori-teori yang terus berubah. Seandainya aku seorang Rektor. Aku tidak akan membiarkan mahasiswaku hanya jadi pengutip dan pengekor.

Inilah refleksi kesakitanku sebagai mahasiswa terjajah. Menyaksikan teman-temanku membayar mahal untuk sekedar bisa masuk kuliah. Kuliah berjejal sampai dengan 100 mahasiswa sekelas, hanya dengan 1 pengajar. Di dalam kelas yang ramai itu, dosen memberikan penjelasan tentang kelas yang efektif, ”kelas yang efektif bila 1 kelas terdiri dari 10-20 orang dengan 1-2 fasilitator”. Ujian dalam keramaian dan saling tukar jawaban. Mengerjakan karya ilmiah dengan kreasi plagiat, copy-paste-edit. Datanglah sesekali ke perpustakaan, maka ribuan tumpukan skripsi itu hanya berisi karya-karya yang seragam. Setelah diwisuda, mereka berkerumun di berbagai bursa kerja. Membawa setumpuk lamaran dari satu kantor ke pabrik lainnya. Saat ini, para alumni kampus 10 sampai 30 tahun lalu kini tersebar di berbagai unit kerja pemerintahan, menjadi pegawai negeri sipil. Menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan tidak produktif, memperumit yang mudah sampai muncullah berbagai makelar kasus dan kasus korupsi. Sebagian yang bekerja di perusahaan ternama sibuk dengan pekerjaan dan berbagai fasilitas mewah, tetapi di bawah perintah orang-orang asing dan makelar-makelar asing yang aseli Indonesia. Mengeruk hasil bumi Indonesia, kemudian membiarkan alamnya rusak.

Pendidikan ini hanyalah satu bagian kecil industrialisasi untuk mendukung kapitalisme global, meneruskan penjajahan terhadap Indonesia yang sempat terhenti saat 1945. Seandainya aku seorang Rektor, dan aku tidak bisa menjual karya ilmiahku untuk membiayai pendidikan. Maka aku tidak akan menjual gelar kepada para mahasiswa dengan biaya semahal-mahalnya dan memberikan pengajaran dengan biaya serendah-rendahnya.

Kini, aku akan segera lepas dari penjara pendidikan ini. Terima kasih Filsafat, telah memberikan setitik cahaya di tengah kegelapan ilmiah ini. Atas kekuatan imajinasi yang kau ajarkan, itu jauh lebih penting daripada pengetahuan yang diajarkan oleh kurikulum dan kolokium selama ini. Persis seperti kata Einstein dulu, imajinasi jauh lebih penting dari pengetahuan. Dan inilah imajinasiku untuk menjadi rektor.

Imajinasi jauh lebih penting daripada pengetahuan (Einstein)

oleh:
Budiarna Nur Rochmad (NIM 110110510)

Posted with WordPress for BlackBerry.

5 Comments Post a comment
  1. nurul #

    sipp..bud.. thumbs up

    02/08/2010
  2. Fenny #

    Jempol besar buat Mas Arna.. Ups…buat mas Budi.. ^.^

    25/07/2010
  3. budi #

    @ mas yan: whehe…beribu maaf mas, tidak bermaksud begitu. hanya karena bangun kesiangan dan cuma punya waktu 30′ sebelum batas pengumpulan tugas, jadinya nulis tanpa banyak pikir gini. ada beberapa majas hiperbola, untuk menajamkan gugatan, sebagaimana Ki Hajar Dewantara dalam ‘als ik nederlander was’. khusus utk pns, itu menggunakan majas totem pro parte mas (menyebutkan keseluruhan untuk menunjuk sebagian).
    @mbak Ani: teringat 8 tahun lalu, tulisanku diedit habis2 an oleh Pimred INSIGHT. trims mbak. dah belajar banyak akhirnya setelah mensukseskan program pemerintah ‘wajib belajar 9 tahun’ (bermakna sama dengan ‘wajib militer’?) di kampus

    20/07/2010
  4. Ani #

    keren betul tulisan ini…nggak salah dosennya kasih nilai bagus…buat budi ada pesan dari ani, hehe : jangan biarkan dirimu terjajah…fisik boleh terkungkung di kampus atau di kantor (bg yg bekerja), aktivitas2 boleh saja dibatasi dg pagar bernama ‘job desc’, tapi pikiran kita selamanya menjadi kuasa kita, akan dibawa kemana berkelana…jangan biarkan pikiranmu terjajah, mari terus menjelajah…

    20/07/2010
  5. JANUAR #

    Sumpah aku merinding mbaca tulisan om budiarna ini. tapi aku protes soal kalimat :
    ….Saat ini, para alumni kampus 10 sampai 30 tahun lalu kini tersebar di berbagai unit kerja pemerintahan, menjadi pegawai negeri sipil. Menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan tidak produktif, memperumit yang mudah sampai muncullah berbagai makelar kasus dan kasus korupsi…..

    sorry, saya bukan makelar kasus, jadi om budiarna dan om bukik..kalau (boleh) mengutip dan sedikit mengubah lagunya basofi sudirman saya akan bilang :
    ..tidak semua pns……
    ..menjadi makelar kasus….
    ..contohnya aku… he he he…..

    20/07/2010

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: