Skip to content

Wawancara dengan Bukik

Ini adalah transkrip wawancara dengan Bukik, dosen psikologi Unair yang dilakukan oleh Miftah, mahasiswa peserta matakuliah Rekayasa Sosial.

Kenapa dulu memilih kuliah psikologi?

Bisa dikatakan saya masuk psikologi itu sebagai sebuah kecelakaan. Saya waktu itu kuliah di statistik ITS tapi kesulitan untuk mengikuti satu mata kuliah. Sampai ngulang 3 kali. Tetap saja gak lulus walaupun dosennya sudah berganti. Kesulitan ini membuat status sebagai mahasiswa terancam. Keputusan saya saat itu adalah pindah ke jurusan lain yang lebih pas.

Ada beberapa alternatif yang saya pertimbangkan. Saya diskusi dengan teman saya, analisis kami membawa pada kesimpulan: ada peluang yang lebih besar kalau masuk ke psikologi unair. Mengapa? 1 tahun sebelumnya ada konflik besar yang mengguncang psikologi unair. Konflik yang membuat 4 orang dosen keluar, diantaranya mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan S2 di luar negeri. Begitu besarnya konflik sampai di ekpose di media besar dan menjadi bahan pembicaraan publik. Dugaan kami, orang tua mahasiswa lain pasti berpikir ulang untuk mendaftarkan anaknya ke psikologi unair. Hehe

Begitulah nyatanya. Alasan selain alasan itu adalah rasionalisasi setelah kejadian, pembenaran setelah saya diterima. Hehe

Terus kalau mengingat harapan yang dulu tentang psikologi, apakah sekarang sudah terwujud?

Hehehe apa harapan saya waktu itu? Terus terang setelah keterima saya membayangkan bisa belajar hipnotis. Hehehe harapan yang tidak pernah terwujud.

Saya kaget waktu mengikuti perkuliahan dari tahun ke tahun. Awalnya, saya membayangkan kuliah di psikologi akan belajar mengenai psikoanalisis, freud dan jung secara mendalam sampai bisa mengaplikasikannya. Pengajaran berbasis pada aliran-aliran dalam psikologi.

Kenyataannya, kurikulum mengikuti tematik. Semisal, psikologi belajar, psikologi sosial, psikologi kepribadian. Dimana dalam setiap tema itu dibahas banyak aliran dalam psikologi. Ada kebosanan karena saya harus mempelajari satu aliran berkali-kali dengan pembedaan yang tidak begitu jelas. Semisal, belajar behavioristik itu mulai dari kuliah psikologi umum, psikologi kepribadian, psikologi belajar, psikologi sosial.

Selain itu, rasanya kehilangan arti penting mempelajari sebuah aliran. Tidak pernah tahu akan digunakan seperti apa nantinya. Tidak jelas untuk apa belajar aliran-aliran itu. Terlebih lagi ketika saya tahu bahwa para dosen tidak ada yang spesialis atau mendalami aliran tertentu. Semua mempelajari semua. Semua diketahui hanya sebatas kulit. Kampus mendapatkan efek terburuk dari eklektisme.

Puncaknya, ketika saya membuat tulisan analisis tragedi situbondo dengan menggunakan kerangka analisis jungian. Saya datangi rumah dosen pada malam hari untuk mendiskusikan tulisan itu. Apa yang saya dapat? “Sudahlah, kamu masih semester 2 tidak usah pakai jung untuk menganalisis”. Patah sudah!

Saya sempat lama kehilangan semangat belajar. Kuliah sebagai kewajiban. KHS penuh warna warni. Nilainya variatif, ada nilai A sampai nilai E. Fase ini berlangsung selama beberapa semester.
Sampai kemudian ketemu Pak Ino, yang memicu bahwa kuliah itu bukan nilai, yang penting ilmunya. Saya mendapat rekan diskusi yang lebih lihay dan tentu lebih sabar meladeni bantahan-bantahan saya.

Sampai sekarang, keadaan masih relatif sama. Perubahan kurikulum yang awalnya saya anggap bisa menjadi momentum ternyata lewat begitu saja. Mungkin kalau berharap, departemen psikologi sosial dan kepribadian yang masih bisa konsisten. Saya tidak begitu tahu. Dulu mereka mengkonstruksikan kurikulum dengan berbasis pendekatan social constructionis ala Gergen. Kalau itu masih konsisten, itulah yang sebenarnya saya harapkan.

Pada level dosen, ada beberapa dosen yang sekarang fokus mendalami aliran tertentu. Bisa kita sebut, Bu Ike, Pak Sanny, Pak Ilham, Pak Chusairy, Pak Ino dan mungkin saya sendiri. Tapi itu tidak menjadi kecenderungan umum. Hanya sekedar minat pribadi.

Padahal, setiap aliran itu berpijak pada asumsi filosifis tertentu, metode riset tertentu dan intervensinya yang tertentu pula. Kampus ini mencampuradukkannya sehingga sebuah aliran menjadi kehilangan kekuatan

Terus, Bapak ingin psikologi ini seperti apa sebenarnya?

Pertama, pendidikan psikologi memfasilitasi setiap mahasiswa untuk mengenali dirinya sendiri. Kenal akan kekuatan dan kelemahannya. Kenal bagaimana pola perkembangan diri yang terbaiknya. Pengenalan diri ini yang akan menjadi pondasi dari integritas. Kesatuan pikiran, kata dengan tindakan.

Kedua, pendidikan psikologi memfasilitasi mahasiswa berpikir kritis-kreatif. Kritis terhadap fenomena yang ada. Mahasiswa bisa mengenali pola dan faktor yang membentuk suatu keadaan atau perilaku manusia. Setelah itu, mahasiswa bisa menawarkan sebuah metode kreatif untuk melakukan perubahan keadaan itu.

Ketiga, pendidikan psikologi memfasilitasi berkenalan dengan beragam aliran dan teori psikologi sekaligus mendalami sebuah aliran yang sesuai dengan dirinya. Pemahaman akan sebuah aliran ini akan membantu mahasiswa dalam mengkritisi keadaan dan mengkreasikan metode untuk mengubahnya.

Keempat, pendidikan psikologi memfasilitasi mahasiswa untuk mengkreasikan sebuah karya yang membanggakan. Karya yang mencerminkan keunikan mahasiswa tersebut. Karya yang menjadi hasil dari berpikir kritis-kreatif. Karya yang merupakan terapan dari aliran yang dikuasainya.

Kelima, pendidikan psikologi memfasilitasi mahasiswa untuk mensharingkan karya tersebut pada dunia. Apa mungkin? Sangat mungkin! Dunia sudah menjadi datar sekarang. The world is flat. Kita bisa menjangkau seluruh dunia dari tempat kita berpijak saat ini.

Terus perubahan apa yang sudah Bapak lakukan untuk mencapai harapan tersebut?

Mungkin masih belum maksimal. Tapi saya sudah melakukan beberapa upaya perubahan.

Pertama, mengubah diri sendiri. Saya tidak mau menjadi ekletik sebagaimana yang saya kritik. Saya memilih untuk mempelajari, mendalami, mempromosikan dan mengajarkan sebuah pendekatan yaitu appreciative inquiry. Appreciative inquiry bila ditinjau dari ranah psikologi adalah sebuah pendekatan yang berpijak pada aliran social constructionist dan psikologi positif.

Kedua, meredesain mata kuliah Seminar PIO. Proses redesain ini sampai beberapa kali sampai mendapatkan desain yang sekarang digunakan. Saya menyebutnya sebagai future learning. Masa depan adalah guru yang terbaik. Dalam kuliah itu, mahasiswa diajak mengenali diri sendiri, mengenali kekuatan dan kelemahannya, mengenali impiannya dan menantang mereka untuk berkarya sesuai dengan dirinya.

Ketiga, mempromosikan dan menerapkan slogan fakultas “imagining, learning dan creating for life”. Menjadi halaman pembuka web MPPO, menjadi signature email, dan membicarakannya di kelas dan jaringan sosial (FB, twitter)

Keempat, mempromosikan aliran psikologi positif baik ke pimpinan maupun ke forum dosen. Saya juga mempromosikan LP3T sebagai pelopor pengembangan psikologi positif. Sayang, kepemimpinan yang hanya satu tahun tidak memberi kesempatan pada saya untuk mengeksekusinya menjadi hasil nyata. Tapi saya sudah sempat merintis beberapa karya yang beraroma psikologi positif seperti employee engagement survey.

Kelima, mengembangkan program studi Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi (MPPO). Logika pendidikannya simpel. Kenali diri sendiri, kembangkan diri, ciptakan karya. Berimajinasi tentang masa depan, pelajari ilmunya dan mengkreasikan karya yang meningkatkan kualitas hidup individu dan organisasi.

No comments yet

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: