Skip to content

Sense of Urgency: Kasus Korupsi

Kotter menyatakan bahwa langkah pertama dalam perubahan organisasi adalah sense of urgency (rasa keterdesakan). Suatu perasaan segera melakukan suatu tindakan untuk melakukan perubahaan terhadap suatu keadaan. Sense of urgency akan membuat orang menyediakan waktu dan energi untuk memperhatikan suatu isu atau persoalan. Mereka merasakan suatu arah perubahan yang perlu dilakukan. Bahkan dengan kepemimpinan yang tepat, orang-orang suka rela melakukan suatu tindakan untuk melakukan perubahan.

Apabila sense of urgency berada pada level yang rendah, orang-orang akan terpecah menjadi beberapa pihak. Mereka mempunyai kesimpulan masing-masing mengenai seberapa mendesak suatu isu harus ditangani. Inisiatif perubahan akan kekurangan energi untuk digulirkan.

Dalam kenyataannya, ada sense of urgency yang keliru dan ada sense of urgency yang tepat. Keliru apabila orang-orang merasakan keterdesakan itu pada arah yang salah. Semisal, anda merasakan lapar dan merasa terdesak untuk menangani rasa lapar itu. Arah yang salah bila, semisal, anda memakan apa saja untuk menutupi rasa lapar itu. Atau, anda lapar dan hanya punya sedikit waktu kemudian anda memutuskan memakan junk food. Bahwa benar rasa lapar itu tertangani. Tapi bisa jadi anda sakit perut sesudahnya bila makan makanan yang salah. Atau bisa jadi anda mengidap kolesterol tinggi. Sementaram sense of urgency yang tepat itu ketika orang merasakan keterdesakan itu pada arah yang benar. Semisal, bagaimana anda mendapatkan makanan yang sehat untuk menghilangkan rasa lapar itu. Makanan sehat yang akan menghasilkan energi positif untuk melakukan dan melanjutkan perubahan.

Jumlah energi perubahan ditentukan seberapa besar sense of urgency dan seberapa banyak orang yang merasakannya. Dalam kasus perusahaan, terkadang sense of urgency dirasakan oleh customer service yang menghadapi langsung komplain dari pelanggan. Tetapi seringkali sens of urgency itu tidak dirasakan oleh jajaran manajemen. Atau bisa juga terjadi sebaliknya. Top manajemen perusahaan yang menyaksikan pertumbuhan kompetitor kemudian merasakan sense of urgency. Tetapi, para karyawan sama sekali tidak merasakannya karena mereka tidak menyaksikan pertumbuhan kompetitor tersebut.

***

Bagaimana sense of urgency terhadap korupsi yang ada di Indonesia? Dalam pandangan saya, bangsa Indonesia kehilangan sense of urgency akan korupsi. Sampai sejauh ini, tindakan terhadap korupsi masih menjadi gerakan hukum dengan KPK di garda depan. Orang-orang kebanyakan merasakan sense of urgency pada level yang rendah. Orang-orang membicarakan mengenai korupsi tetapi tidak lahir sebuah tindakan dalam sebuah pergerakan yang terorganisir.

Bahkan, sebagian orang merasakan sense of urgency pada level yang tinggi tetapi pada arah yang salah. Semisal, demonstrasi menuntut diseretnya pelaku korupsi yang marah dalam beberapa waktu belakangan. Mengapa arah yang salah? Demonstrasi semacam itu sifatnya kasuistik dan lokal. Kasuistik berarti ketika kasusnya hilang maka hilang pula sense of urgency-nya. Lokal berarti isu yang diusung hanya melibatkan orang pada lokal tertentu.

Tentang arah yang tepat dari sense of urgency sebenarnya telah disampaikan dengan memikat oleh Ketua Pertama KPK, Taufiequrachman Ruki:
“pemberantasan korupsi tidak hanya mengenai bagaimana menangkap dan memidanakan pelaku tindak pidana korupsi, tapi juga bagaimana mencegah tindak pidana korupsi agar tidak terulang pada masa yang akan datang melalui pendidikan antikorupsi, kampanye antikorupsi dan adanya contoh “island of integrity” (daerah contoh yang bebas korupsi)”. (http://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Pemberantasan_Korupsi)

Apabila arah yang tepat itu terus menjadi panduan oleh KPK, sangat mungkin akan melahirkan sebuah gerakan sosial yang concern terhadap korupsi dan penciptaan pemerintahan yang bersih. Sayang, pergantian pimpinan dan berbagai prahara yang menerjang membuat KPK kehilangan fokus pada arah tersebut.

Bagaimana menciptakan sense of urgency?
Kotter mengatakan kita biasa menggunakan modus “head”. Pertama, kumpulkan data dan analisis. Kedua, presentasikan hasilnya. Ketiga, perubahan pemahaman akan mendorong perubahan perilaku. Dalam kasus korupsi, modus ini nampak dari lahirnya sense of urgency akan korupsi melalui hasil riset yang dilakukan oleh sebuah lembaga riset internasional. Hasil riset tersebut menunjukkan Indonesia mempunyai indeks persepsi korupsi 2,2 sehingga menempatkan Indonesia pada ranking 137 dari 159 negara yang disurvey. Kotter menyangsikan modus ini akan efektif apabila tidak dilengkapi dengan modus “heart”.

Modus “heart” dalam perubahan mengambil jalan yang berbeda. Pertama, “Menyaksikan”. Tunjukkan korupsi pada semua orang bisa menyaksikan, menyentuh dan merasakannya secara utuh, dramatis, dan melibatkan emosi. Gunakan simbol-simbol yang bisa disaksikan orang setiap hari.

Kedua, “Merasakan”. Biarkan orang merasakan dari apa yang mereka saksikan. Kelola dan kurangi emosi negatif seperti marah, pesimis, kebingungan, sinis, panik, kebanggan palsu, dan kepuasan semu. Bangun dan lejitkan emosi positif yang dibutuhkan untuk perubahan seperti rasa saling percaya, yakin, hasrat sepenuh hati (passion), percaya diri dan tentunya sense of urgency.

Ketiga, perubahan suasana hati (heart) akan mentransformasikan tindakan. Lahirnya perilaku baru yang membantu organisasi atau bangsa melakukan perubahan secara efektif. Serangkaian pertanyaan diawal tulisan ini adalah sebuah latihan sederhana bagaimana membangun sense of urgency melalui modus “heart”.

Nah siapapun ketua KPK yang terpilih. Tantangan awalnya adalah membangun kembali sense of urgency dan mengarahkannya pada arah yang tepat.

Bagaimana sense of urgency terhadap korupsi lahir dan merebak pada seluruh bangsa? Anda bisa baca di Nyanyian Pecas nDahe

Pertanyaan buat Praktisi Perubahan dan Pengembangan Organisasi

Apakah anda mengawali inisiatif perubahan dan pengembangan organisasi dengan membangun sense of urgency pada sleuruh level organisasi?

One Comment Post a comment

Trackbacks & Pingbacks

  1. Nyanyikan Lagu Perubahan « bukik ideas

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: