Skip to content

Sukses Perusahaan Dimulai dari Seleksi Karyawan

Sukses Perusahaan Dimulai dari
Pertanyaan dalam Wawancara Seleksi Karyawan
Jumat, 09 Maret 2007

Sebanyak 48 peserta workshop itu celingukan heran
ketika fasilitator meminta mereka untuk membuat lirik
lagu dari “tugas” sebelumnya yang baru saja mereka
selesaikan. Mereka baru saja selesai melakukan
simulasi wawancara calon karyawan. Lho, apa
hubungannya sebuah lagu dengan proses rekrutmen?
Tapi, Budi Setiawan Muhamad, fasilitator dari Asosiasi
Psikologi dan Organisasi (APIO) yang menyelenggarakan
workshop Strength-Based Selection Interview:
Appreciative Inquiry Perspective di Hotel Atlet
Century Park, Jakarta, Jumat (9/3/07) hanya
senyum-senyum saja.

Ia membiarkan peserta workshop “kebingungan”, sampai
akhirnya menyelesaikan apa yang tadi dia minta. Dari
awal, Budi memang menggunakan pendekatan terbalik
dalam memberikan lokakarya kepada para manajer dan
staf HR dari berbagai perusahaan itu. Ia tidak
berangkat dengan menjelaskan definisi-definisi.
Melainkan, peserta sendirilah yang aktif merumuskan
masalahnya dari awal, dengan melakukan
simulasi-simulasi.

Budi, misalnya, meminta peserta melakukan simulasi
wawancara. Peserta dibagi dalam 6 kelompok,
masing-masing terdiri 8 orang. Dalam simulasi
wawancara, peserta berpasang-pasangan, satu orang
berperan sebagai perekrut dan pasangannya sebagai
pelamar kerja. Yang tadi diminta Budi untuk dibuat
menjadi lirik lagu adalah hasil wawancara tersebut.

Dengan pendekatan seperti itu, menurut Budi, tanpa
sadar peserta telah mempraktekkan langsung wawancara
dengan perspektif Appreciative Inquiry (AI). Dari
situ, Budi baru kemudian masuk ke definisi. “Jadi, AI
itu seni dan praktek bertanya yang menggali kekuatan
manusia untuk menciptakan masa depan yang sukses,”
ujar dia.

Lebih jauh Budi membuat ilustrasi dengan mengibaratkan
organisasi sebagai teks. Sebuah teks, entah itu gambar
atau kalimat, akan dimaknai, dibentuk dan
didefinisikan berdasarkan interaksi bersama. Ketika
mengajukan pertanyaan dalam seleksi karyawan baru,
menurut Budi, seorang perekrut telah melakukan
intervensi. “Inilah salah satu prinsip AI, yakni
ketika kita bertanya, kita mulai menciptakan
perubahan.”

AI juga menganut prinsip yang mengibaratkan manusia
sebagai sebuah buku yang terbuka, di samping prinsip
antisipasi yang meyakini bahwa manusia punya
kecenderungan untuk selalu berpikir tentang masa
depan. Dan, pada akhirnya, Budi menjelaskan, AI juga
menerapkan prinsip positif, yang berasumsi bahwa
momentum terbaik itu dimunculkan melalui
pertanyaan-pertanyaan positif yang memperjelas inti
positif. “Inti positif itu, mungkin kalangan lain menyebutnya
dengan istilah talent,” terang Budi.

Dalam kesempatan yang sama, anggota Dewan Pakar APIO
Pusat Ino Yuwono, yang juga menjadi fasilitator
workshop tersebut menegaskan, wawancara dengan
perspektif AI pada dasarnya berangkat dari pendekatan
“yang lain” dalam memandang manusia dalam organisasi.
“Manusia tidak dilihat dengan pendekatan analitik,
melainkan relasional-holistik,” ujar dia.

Menurut Ino, pendekatan analitik cenderung mencari
orang yang pintar dan berkompeten, sedangkan
pendekatan relasional-holistik lebih untuk menemukan
orang yang tepat atau cocok. “Wawancara AI percaya
bahwa pertanyaan bisa mengkonstruksi masa depan yang
bagus dan mencapai mimpi yang diinginkan bersama
antara karyawan dan perusahaan,” papar Ino.

Sumber:
http://www.portalhr.com/beritahr/rekrutmen/1id585.html

No comments yet

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: