Skip to content

Memastikan Keunggulan Organisasi

Dr Jagdish N Sheth, dalam bukunya, mengungkapkan 7 kebiasaan yang membuat perusahaan unggulan menjadi tumbang, yaitu:

  1. Penyangkalan terhadap realitas baru
  2. Rasa bangga berlebihan
  3. Rasa puas diri
  4. Ketergantungan pada kompetensi inti
  5. Cadok mata dalam melihat kompetisi
  6. Struktur raksasa
  7. Memacu produksi yang menimbulkan inefisiensi biaya

(Lebih lanjut tentang 7 kebiasaan itu klik disini)

Bagaimana Appreciative Inquiry menjawab 7 tantangan tersebut? Bagaimana tepatnya, Appreciative Inquiry memastikan keunggulan organisasi?

Appreciative Inquiry bicara mengenai generative, bagaimana sebuah perusahaan menciptakan tujuan, metode, cara dan produk yang melahirkan kehidupan bersama yang diidamkan. Bagaikan anak kecil, kita terus mencari tahu, menyelidiki dengan penuh ketakjuban. Seolah-olah baru mengenal dunia, kita terbuka terhadap berbagai kemungkinan, keragaman dan perbedaan. Mengajukan berbagai pertanyaan ajaib yang mengejutkan dan mencairkan kebekuan berpikir orang dewasa. Kita akan terus belajar mengenai segala sesuatu.

Bagaimana pertanyaan yang kita lontarkan dalam kehidupan kerja kita? Ketika di ruang rapat. Ketika di kantin. Ketika di lorong. Apa yang menjadi fokus? Kita terbiasa mengajukan pertanyaan yang berorientasi pada masa lalu, mengungkap sebab-akibat suatu kejadian dan cenderung defisit. Pada titik ini, Appreciative Inquiry mengajarkan pentingnya bersikap apresiatif. Bersyukur. Menghargai. Memberi nilai tambah terhadap diri, rekan, supllier, customer, stakeholoder lain, shareholder bahkan kompetitor. Penyelidikan mengenai apa yang berharga, baik di masa lalu sebagai sejarah kita, masa kini sebagai konsteks tindakan kita dan masa depan sebagai arah yang dituju.

Organisasi yang apresiatif (appresiatif organization) kemudian mempunyai beberapa ciri khas yang menarik, yaitu:

1. Pengorganisasian berbasis inti positif

Organisasi apresiatif berbasis kekuatan. Efektivitas organisasi lahir dari sinergi berbagai kekuatan dan aspirasi dalam organisasi maupun dengan lingkungan organisasi. Contoh sederhana, anggota organisasi menghargai nilai-nilai pencapaian prestasi. Seluruh aktivitas, sistem dan cara kerja, sistem dan cara kerja berdasar pada prestasi. Ketika nilai yang berkembang, kekeluargaan, senioritas dan harmoni maka 3 nilai itu pula yang menjadi pijakan manajemen organisasi. Inti positif menjadi dasar sekaligus batas bagi organisasi. Organisasi tidak akan melakukan sesuatu yang berada diluar inti positifnya.

Inti positif ini merupakan keunggulan organisasi, sekaligus peran kolaboratif dibandingkan kompetitor langsung, maupun organisasi lain. Inti positif bukan sesuatu yang pasti, yang diterima begitu saja. Inti positif adalah sesuatu yang terus dicari, dikaji, dipertajam. Tepatnya, pada saat organisasi melakukan perencanaan strategisnya.

2. Memelihara budaya pembelajaran yang apresiatif

Organisasi yang apresiatif mencari tahu apa yang berharga baik di dalam organisasi maupun di luar organisasi. Keahlian, kapasitas, kesempatan dicari dan dipelajari secara sungguh-sungguh sehingga individu maupun organisasi mendapatkan manfaat. Ketika budaya ini berkembang maka organisasi menjadi fleksibel dalam mengantisipasi berbagai perubahan yang terjadi. Tidak cukup memandang dari posisi manajemen puncak, organisasi juga mengetahui cara pandang anggota, supllier, customer, kompetitor dan stakeholder lain. Kekayaan cara pandang ini menjadi tolok ukur kompleksitas kognitif organisasi. Simpelnya, tanda organisasi yang cerdas. Tidak sempit.

3. Memastikan perubahan positif

Organisasi yang apresiatif berkomitmen terjadinya perubahan positif yang terus menerus. Perubahan tidak hanya menjadi reaksi terhadap lingkungan eksternal. Perubahan juga menjadi manifestasi aspirasi seluruh anggota organisasi. Organisasi berubah menjadi proaktif, tidak sekedar reaktif. Belajar dari masa lalu, kemudian bersyukur dan bangga atasnya. Belajar dari masa depan, kemudian menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru.

4. Membebaskan aspirasi dan energi setiap orang

Organisasi yang apresiatif menghargai keragaman aspirasi dan cara berekspresi. Selalu dibuka ruang dan kesempatan bagi setiap orang menyampaikan aspirasi terdalam dan memberikan konstribusi terbaiknya. Karyawan tidak dipandang sebagai orang yang dibayar organisasi untuk mengerjakan suatu tugas. Karyawan adalah mereka yang telah menetapkan pilihan untuk memberikan konstribusi pada organisasi.

5. Memicu lahirnya pemimpin yang apresiatif

Organisasi yang apresiatif menciptakan pemimpin yang apresiatif. Mereka adalah orang yang menghargai potensi dan kapasitas bawahan maupun reka kerja. Pemimpin yang menggugah orang lain, mengajukan pertanyaan positif, bersama yang lain mengimajinasikan sebuah dunia idaman, dan menciptakan berbagai kemungkinan. Pemimpin yang menginpirasi yang lain untuk melakukan tindakan dengan impian terdalam dalam hati masing-masing.

6. Mendorong bisnis berperan sebagai agen kesejahteraan dunia

Organisasi yang apresiatif adalah agen kesejahteraan dunia. Membantu orang-orang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Bekerja mencapai sukses pada tiga titik pijak yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan.

Budi Setiawan, Pendidik di Fakultas Psikologi Unair. LP3T – Pelopor Psikologi Positif

No comments yet

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: