Skip to content

Menjadi Bintang

Apa yang anda jadikan pertimbangan dalam memilih orang yang akan menjadi karyawan anda? Apa kriteria paling utama yang anda gunakan untuk membuang atau menarik seorang kandidat? 

Kecerdasan kognitif merupakan salah satu kriteria seleksi paling populer, walau ditengah banyaknya bukti kecerdasan kognitif tidak banyak berperan terhadap kesuksesan seseorang. Sebagian dari kita juga menggunakan beberapa kriteria seperti kompetensi teknis, soft skill, kepribadian, dan yang paling baru, talenta.

Sayang, manusia bukanlah sebuah mesin dengan seperangkat kapasitas terpasang, yang tinggal digunakan setelah kita dapatkan. Akibatnya, kapasitas yang terbaca pada saat tes seleksi dalam kenyataannya tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Sekalipun, tes seleksi itu menggunakan tes simulasi kerja yang membuat kandidat harus mengerjakan sebuah tugas secara langsung. Semisal, kita menseleksi juru ketik dengan memintanya mengetik sebuah naskah. Anggap saja, seorang kandidat mampu mengetik 500 kata per menit. Kita menganggap mengetik 500 kata/menit ini sebagai kompetensi, yang dibedakan sebagai potensi. Padahal sesungguhnya, kemampuan mengetik 500 kata/menit tetaplah sebuah kemungkinan, berbeda dengan kapasitas terpasang pada sebuah mesin.

Apa sebabnya? Pertama, manusia merupakan mahluk yang menjadi, selalu dalam proses untuk menjadi seseorang yang diidamkannya. Manusia dapat menjadi apapun yang dimauinya. Dalam kasus diatas, selalu ada intensi yang berbeda dari seorang kandidat, antara intensi mengikuti seleksi dan menjalankan tugas sebenarnya. Kedua, setiap orang menjalankan tugas selalu dalam konteks pola interaksi tertentu. Mengerjakan tugas tidak pernah terjadi di ruang hampa. Mau tak mau, seorang kandidat masuk dalam sebuah dunia yang dialami, sebuah dunia yang seringkali tidak bisa ditentukan baik oleh kandidat maupun oleh organisasi.

Robert E. Kelley menawarkan sebuah teori unik mengenai kesuksesan seseorang di dunia kerja, back t-shirt theory (teori bagian belakang kaos? Hehehe jadi lucu ya..). Menurut Kelley, kecerdasan, kompetensi, soft skill, kemampuan dan yang lainnya merupakan bagian depan kaos. Bagian kaos yang seringkali kita lihat ketika menghadapi seseorang, sebagaimana yang sering kita pandang dalam melakukan seleksi. Bagian yang membuat kita silau, dan mengabaikan bagian lain dari kaos yang digunakan seseorang. So What? Melihat bagian depan kaos memang penting, sebagaimana pentingnya melihat bagian belakang kaos seseorang.

Apa itu yang menjadi bagian belakang kaos? Tepat! Sesuatu yang mentransformasikan bagian depan kaos menjadi sebuah tindakan nyata. Apa itu? Sabar sebentar….Kita nikmati dulu sebuah cerita….

***

Tukang kayu

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan.

Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu minta pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.

Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Pikirannya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
“Rumah ini adalah rumah kamu,” kata sang pemilik perusahaan.
“Hadiah dari saya sebagai penghargaan atas pengabdian kamu selama ini.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.

Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

***

Bagaimana pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tersebut? Bagaimana gambaran bagian belakang kaos yang dapat kita lihat dari kisah tersebut? Mungkin ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut.Setiap orang dapat mengambil pelajarannya masing-masing.

Coba bayangkan kalau kita adalah tukang kayu itu. Bayangkan rumah itu kehidupan yang kita bangun. Apa yang akan membuat kita melakukan yang terbaik? Apa yang membuat rumah itu menjadi karya terindah kita?

Bayangkan, bagaimana kalau tukang kayu itu memandang pekerjaan membangun rumah dari sudut yang berbeda? Bukan semata sebagai kewajiban yang harus dikerjakan. Bayangkan, bagaimana kalau sang tukang kayu menganggap dirinya sebagai seorang yang mumpuni, upaya atasannya sebagai kesempatan terakhir melakukan yang terbaik, rumah itu sebagai mahakaryanya? Bayangkan, bagaimana bila tukang kayu mempunyai bayangan masa depan yang menarik tentang rumah yang akan dibangunnya, tentang kehidupannya setelah mengerjakan rumah itu?

Kesemuanya itu menuntut suatu kapasitas “melihat pohon yang rimbun dalam sebuah bibit/ biji”. Kapasitas untuk melihat lebih jauh dari kondisi yang sekarang, yang masih merupakan bibit atau benih. Kapasitas untuk membayangkan suatu pohon, dengan dahan dahan yang besar yang tertutup oleh daun daun lebat, yang memberikan kerimbunan, yang muncul dan bertumbuh dari biji yang kecil.

Kecerdasan Apresiatif merupakan kemampuan melihat terobosan dalam produk, talenta seseorang, atau suatu penyelesaian dimasa depan, yang masih tersembunyi dalam situasi yang ada saat ini.
Ada tiga komponen dalam Kecerdasan Apresiatif:

  1. Reframing. Kemampuan melihat, menginterpretasikan, dalam suatu kerangka tertentu, dan mengubah kerangka yang digunakan.
  2. Menghargai yang positif. Proses pemilihan dan penilaian sesuatu sebagai sesuatu yang memiliki nilai positif atau berharga.
  3. Melihat bagaimana masa depan bertumbuh-kembang dari yang sekarang. Kemampuan melihat bagaimana masa depan bertumbuh-kembang dari yang sekarang.

Kecerdasan appresiatif seperti “dingklik” yang berkaki tiga, yang tak dapat digunakan kalau salah satu kakinya tidak ada. Kecerdasan appresiatif tidak akan ada kalau salah satu komponennya tidak ada. Setiap komponen merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhannya.

Kembali ke soal back T-shirt theory. Apa prasyarat bagian depan kaos ditransformasikan menjadi aktual? Tentunya ketika bagian depan kaos itu dianggap sebagai sesuatu yang bernilai, berharga, minimal oleh yang memakai kaos. Dalam kenyataannya, banyak orang yang tidak menyadari apa yang bernilai dari dirinya. Banyak orang yang lebih terfokus pada apa yang tidak dimiliki, bukannya pada yang dimiliki. Merasa rendah diri. Merasa tidak percaya diri.

Mungkin ada yang tanya, apa semua orang mempunyai sesuatu yang berharga? Semua orang. Pasti. Apapun keadaannya. Apapun situasi yang dihadapi. Tapi kok ada yang tidak menyadari? Karena mereka terpaku pada sebuah frame atau cara pandang terhadap diri dan dunianya. Sebuah frame yang disosialisasikan oleh lingkungan sekitar, diperkuat dan dipertahankan oleh yang bersangkutan. Perlu perluasan cara pandang agar dapat menemukan sebuah pemandangan yang menarik tentang diri sendiri. Pola serupa juga berlaku terhadap lingkungan sekitar. Artinya, kita juga perlu memperluas sudut pandang sehingga mendapatkan berbagai pemandangan yang indah dari berbagai hal di sekitar kita.

Dampaknya, kita kemudian menyadari aspek yang bernilai atau berguna, yang sudah ada dalam situasi sekarang, entah dalam diri sendiri, orang lain, situasi atau benda disekitar. Selanjutnya, aspek-aspek itu tentunya harus diungkap dan direalisasikan. Kita dapat membayangkan masa depan cerah dari apa yang ada sekarang, membayangkan apa yang ada sekarang dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang luar biasa di masa yang akan datang.

Jadi, semisal seseorang yang keras kepala merasa sikapnya itu bermasalah, maka ia perlu memperluas cara pandang, untuk menemukan apa yang berguna dari sikapnya itu. Apa makna yang berbeda dari keras kepalanya? Dalam konteks apa, keras kepala itu menjadi berguna? Lalu, membayangkan bagaimana masa depan ceria yang dapat terwujud dari sikapnya tersebut? Bagaimana mengelola sikapnya itu sebagai modal untuk mewujudkan keadaan yang diidamkan?

Bagaimana melejitkan kecerdasan apresiatif? Bagaimana menggunakan kecerdasan apresiatif dalam konteks personal dan konteks sosial?

Baca tentang kecerdasan appresiatif di Kecerdasan Apresiatif (AI)

5 Comments Post a comment
  1. DV #

    Saya suka artikel ini terutama pada bagian akhir mulai dari “Kembali ke soal back T-shirt theory. Apa prasyarat bagian depan kaos ditransformasikan menjadi aktual?”

    Saya dididik untuk tidak rendah diri, Pak dan saya bersyukur atas itu semua karena justru dari situ saya belajar untuk mengkoleksi dalam benak, apa yang jadi modal saya yang berasal dari diri ini?

    Meski orang lain banyak bilang saya malah jadi keblinger dan sombong jadinya. Tapi sejak rendah diri adalah subyektif, saya pn bisa bilang ke mereka “Gw sombong? Itu kan menurut loe” :))

    25/08/2011
    • Hehehehe asyik kalau begitu……….btw aku jadi pak ya? *ngunyahsetrika

      25/08/2011
  2. cara pandang, perspektif jauh lebih penting ya Pak? Ini yang mempengaruhi (kecerdasan) lainnya?

    25/08/2011
    • Betul pak……meski kita bisa terbang tapi bila diri kita tidak bisa mengapresiasi kemampuan terbang itu, maka tak ada manfaatnya

      25/08/2011
  3. dhila #

    kecerdasan apresiatif emang penting…

    tapi gw lagi butuh artikel kecerdasan kognitif nie…….

    01/12/2007

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: