Skip to content

Meraih Impian Melalui Senyum

Salam Damai

Kemarin sore, sepulang dari kampus, saya dan isteri mampir ke sebuah warung, Sate Ponorogo. Sebuah warung kecil di perempatan Kertajaya Surabaya yang tata ruangnya sangat sederhana dan simpel. Meja panjang dilengkapi dengan kursi kayu panjang pula. Seolah-olah menggambarkan keinginan pemilik warung agar pengunjung berkumpul guyup bersama-sama.

Mungkin makan sore ini hanya akan menjadi makan sore biasa saja, sebuah ritual untuk mengatasi perut yang berteriak-teriak sedari tadi. Tetapi semuanya berubah ketika pelayan warung, seorang bapak yang telah berumur, datang menghampiri membawakan minuman pesanan kami, dua gelas teh hangat manis. Senyum tulus tergambar diwajahnya sembari berkata ramah menawarkan apa yang bisa dilakukannya agar minuman yang dibawakan sesuai dengan selera kami. Tiba-tiba saya merasa sesuatu keluar dari dada dan menghangatkan seluruh tubuh. Saya sungguh tidak mengira mendapatkan pelayanan yang berkualitas tanpa banding ini. Sesuatu yang membuat saya merasa sangat nyaman berada di warung tersebut.

Setelah kejadian tersebut, ingatan saya kembali ke masa kecil saya ketika tinggal di desa. Saya mengingat bagaimana suasana warung yang guyup antara penjual dan pembeli. Senyum dan tawa menjadi corat-coret dominan, terkadang diselipi sindiran atau guyonan nakal. Seolah-olah hubungan diantara mereka adalah hubungan persaudaraan, bukan hubungan yang dilandasi uang semata. Sungguh suasana yang ngangeni untuk diulang kembali.

Sementara di kota besar, kita akan menghadapi pelayan beberapa warung yang bersikap seolah-olah tidak butuh, kitalah yang membutuhkannya. Bila kita menjadi pembeli di warung itu maka kita harus mempunyai kesabaran yang lebih agar nyaman makan diwarung tersebut. Sementara di warung lain yang tergolong mewah, kita akan menemui sebentuk senyum yang mengingatkan kita pada sebentuk senyum yang sudah kita temui kemarin. Sebentuk senyum yang dicetak oleh pelatihan. Sebentuk senyum yang datang dari prosedur kerja, bukan dari hati. Jadi, memang sore kemarin menjadi sebuah kejadian yang menakjubkan bagi saya. Karena selain mendapatkan 10 tusuk sate ayam yang lezat, saya mendapatkan senyum tulus dan pelayanan yang tumbuh dari hati.

Tetapi bukankah senyum tulus adalah bagian dari budaya kita, bangsa Indonesia? Bangsa Indonesia kan terkenal dengan keramahtamahannya? Apabila budaya bangsa bisa menimbulkan rasa nyaman bagi para pelanggan maka bukankah menjadi sangat menarik mengembangkan budaya tersebut dalam dunia bisnis, atau bidang kehidupan yang lain?

Saya kemudian membayangkan bangsa Indonesia bersepakat merencanakan dan melaksanakan pembangunan berbasis pada keunggulan kita, senyum dan budaya yang ramah tamah. Semisal, seluruh warung makan kita selalu diwarnai budaya ramah tamah. Hubungan antara pemilik, pelayan dan pembeli adalah hubungan yang sangat dekat, hubungan persaudaraan. Orang asing yang datang ke warung makan kita disambut senyum tulus, sapaan ramah, dan terkadang diselingi sindiran atau guyonan nakal. Dan ketika orang asing itu ditanya oleh kawannya mengapa demen sekali datang ke warung Indonesia, ia akan berkata, “soal makanan kita bisa dapat di tempat lain, tetapi saya bisa terbahak-bahak dan melepas kepenatan hanya di warung Indonesia!”. Wow! Bukankah luar biasa! Kita bisa mempunyai sebuah keunggulan yang tidak akan pernah bisa disamai oleh bangsa lain yang telah maju teknologinya sekalipun.

Percayalah, keunggulan kita adalah pada senyum! Ketika menghentikan kendaraan untuk memberi kesempatan bagi pejalan kaki di Singapura maka kita tidak akan mendapatkan senyum dari para pejalan kaki itu. Kita hanya mendapatkan rasa aman karena tidak terekan oleh kamera tersembunyi atau tidak tertangkap basah oleh polisi preman. Sebaliknya, pagi ini saya mendapatkan senyum yang begitu manis ketika saya melambatkan kendaraan untuk memberi kesempatan bagi pejalan kaki. Begitu kayanya bangsa ini dengan senyuman.

Mungkin ada yang berpikir, “alah cuman senyum doan aja kok bangga?!”. Kalau sebuah keunggulan saja bisa berdampak luar biasa seperti itu, apa jadinya kalau kita bisa menyatukan keunggulan keramahtamahan dengan keunggulan-keunggulan lain sebagai bangsa Indonesia? Alih-alih kita membuat program untuk mengatasi kelemahan dan kekurangan sebagai bangsa, pastilah lebih elegan bila kita membuat program berdasar keunggulan dan untuk mengembangkan keunggulan sebagai bangsa? Meraih setiap impian melalui senyuman kita. Semoga membawa pencerahan!

No comments yet

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: