Skip to content

Membangun Mimpi, Membangun Bangsa

Apabila dilontarkan pertanyaan apa ciri bangsa atau orang indonesia kepada masyarakat indonesia sendiri, maka sebagian besar jawaban pasti berasosiasi dengan sesuatu yang bersifat negatif. Bangsa koruptor. Bangsa pemalas. Bahkan yang terakhir, seorang psikolog besar Indonesia, Sarlito W.S., dengan pedas menyatakan, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang teledor (Kompas, Sabtu, 17 September 2005). Cermati pula sekian banyak pemberitaan dan opini di media massa yang diwarnai oleh hal-hal negatif bangsa ini. Ibaratnya, apabila mencari 10 hal negatif bangsa ini maka akan kita dapatkan 20 hal negatif.

***

Kecenderungan untuk mengatakan dan membicarakan sesuatu yang negatif ini membuat bangsa Indonesia kehilangan harga diri, merasa malu dan kehilangan kebanggaan sebagai bangsa, bersikap defensif dan kurang berani mengeksplorasi visi baru. Perjalanan kita sebagai sebuah bangsa seharusnya dipandu oleh mimpi-mimpi positif yang selalu kita bicarakan dan kerjakan dalam setiap harinya.

***

Wacana Defisiensi

Seringkali terdengar kritik dari kalangan intelektual mengenai kebiasaan bergosip tentang keburukan orang lain. Akan tetapi kecenderungan membicarakan sesuatu yang negatif atau buruk bukanlah monopoli kaum awam belaka. Bahkan, di kalangan psikologi pun lebih banyak diwarnai dengan pembicaraan mengenai sesuatu yang negatif dan buruk. Perhatian lebih banyak difokuskan pada pengalaman, sifat, karakter, kualitas dan relasi antar individu yang negatif.

Presiden Asosiasi Psikologi Amerika (APA), Martin Seligman, menyatakan bahwa telah dipublikasikan 45.000 artikel mengenai depresi dalam 30 tahun terakhir, dan hanya ada 400 mengenai kegembiraan (1998). Psikologi banyak terfokus pada tema-tema yang berkaitan patologi dan defisit. Psikologi berperan sebagai ahli maha tahu yang membantu menyembuhkan mereka yang “sakit”. Bukannya menyehatkan individu dan masyarakat.

Demikian pula dengan berbagai penelitian universitas dan proyek pemerintah selalu menggunakan paradigma penyelesaian persoalan (problem solving). Persoalan merupakan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan atau yang seharusnya sehingga perlu dilakukan upaya membenahi kenyataan tersebut. Alih-alih menyelesaikan persoalan, langkah-langkah yang dilakukan kemudian seringkali hanya mengalihkan persoalan atau hanya menimbulkan persoalan baru (Senge, 1990).

Cooperrider (2001) mengkritik pendekatan penyelesaian masalah karena (a) bersifat menyakitkan sebab selalu mengajak orang menoleh kebelakang untuk mencari penyebab kegagalan di masa lalu; (b) jarang menghasilkan visi baru sebab tidak berupaya memperluas pengetahuan mengenai kondisi ideal yang lebih baik tetapi lebih berupaya menghilangkan gap antara apa yang senyatanya dengan yang seharusnya; dan (c) memunculkan sikap defensif (“itu bukan masalahku tetapi masalahmu”), pembelaan diri yang tidak sehat sehingga seringkali melahirkan konflik antar individu dan kelompok. Selain itu, perhatian terhadap sisi negatif dengan sendirinya membuat kita mengabaikan potensi positif dan kehilangan visi sebagai individu dan bangsa.

Prinsip Heliotrofi

Prinsip heliotrofi menyatakan bahwa individu dan organisasi tumbuh berkembang sebagaimana tumbuhan yang tumbuh berkembang mengarah kepada matahari, sesuatu yang memberi energi kehidupan. Begitu pula dengan organisasi yang tumbuh berkembang mengarah kepada image yang diyakini sistem sosial tersebut (Cooperrider, 1990, Elliott C., 1999). Secara sederhana, apabila individu atau bangsa meyakini dirinya bersifat negatif maka individu atau bangsa tersebut akan terbentuk menjadi apa yang diyakini.

Beberapa penelitian di bidang psikologi membuktikan bekerjanya prinsip tersebut. Salah satunya, studi pygmalion yang menunjukkan bahwa apabila guru mengatakan muridnya itu bodoh dan malas maka muridnya akan mencapai prestasi yang buruk. Demikian pula sebaliknya, keyakinan guru bahwa muridnya pandai, berhasil dan rajin akan menghasilkan murid yang berprestasi. Studi yang lain seperti efek placebo dan quantum healing membuktikan hal yang serupa.

imagine indonesia
***
Kebiasaan membicarakan sisi negatif bangsa Indonesia tanpa disadari telah mensugesti kita semua untuk menjadi negatif. Kebiasaan yang membentuk keyakinan kita sebagai bangsa yang korup, pemalas, teledor dan sederet panjang lagi sebutan-sebutan negatif. Terlebih lagi pembicaraan itu tidak lagi bersifat personal, tetapi juga massal berkat peran luas kaum intelektual dan media massa dalam kehidupan berbangsa. Setiap hari warga bangsa Indonesia disodori oleh pernyataan dan berita yang sedikit demi sedikit membentuk keyakinan bahwa dirinya negatif.

Oleh karena itu, bagian dari penyelesaian persoalan adalah menggeser pendekatan penyelesaian persoalan dan pembicaraan negatif antar warga. Pembicaraan-pembicaraan hendaknya terfokus pada pengalaman-pengalaman positif bangsa ini guna menggalang seluruh kekuatan dan membangun kembali harga diri sebagai bangsa Indonesia. Berpijak pada harga diri ini, bangsa ini kemudian berimajinasi tentang masa depan bangsa Indonesia. Masing-masing warga memperbincangkan mimpinya membentuk mimpi bersama. Mimpi bersama inilah yang akan menjadi panduan untuk membangun bangsa Indonesia. Semoga!

No comments yet

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: