Skip to content

Legally Blonde 2: Cara keseharian yang menggetarkan hati

Legally Blonde 2

Semalem nonton film legally blonde 2 di trans tv…secara keseluruhan mungkin film ini lebih sebagai film hiburan ditengah waktu senggang…..film yang dinikmati tanpa perlu dikunyah…dan memang semalam nonton film ini sebagai sambilan ditengah tumpukan koreksian uts.

Setelah melihat beberapa saat, aku tergelitik dengan beberapa kejadian yang mengusik ketenangan. Pertama, bagaimana kehadiran si Elle yang serba pink menjadi warna unik ditengah kekelaman warna di The Hill, kantor barunya. Elle sebagai asisten baru seorang anggota kongres, datang dan mengubah kebiasaan dan interaksi antar anggota disana, membuat shock semua orang tidak dengan hal-hal luar biasa, justru dengan hal-hal yang remeh, seperti warna dan aksesoris pakaiannya.

Dalam banyak hal, seringkali kita melakukan sesuatu sebagaimana sesuatu itu biasa dilakukan. Dalam kasusku dulu, aku tiba-tiba berpakaian super rapi, dengan celana kain dan kemeja lengan panjang. Sebuah perubahan yang sangat drastis dari dulunya orang yang begitu mencintai kaus. Ketika memasuki lingkungan baru, seakan-akan kita dituntut untuk bermain aman, berperilaku sesuai dengan kebiasaan yang ada. Pada beberapa situasi, ini mungkin merupakan sebuah mekanisme pertahanan diri sebuah komunitas. Di sisi lain, mekanisme itu justru membuat komunitas seringkali mandeg, mengabaikan keunikan individu, mengabaikan hal-hal yang berbeda dengan apa yang biasa mereka kenali. So, Elle menunjukkan hal sebaliknya.

Kedua, pada saat elle presentasi dihadapan sidang pembahasan ruu dimana ia melontarkan pertanyaan-pertanyan yang jauh diluar dugaan para anggota kongres. Ia menebak jenis lipstik seorang anggota kongres. Ia bertanya mengenai kabar anjing kesayangan. Ia melontarkan pertanyaan yang menempatkan ruu, yang tengah diperjuangkannya, sebagai sesuatu yang dialami, dirasakan, disayangi, bukan sebagai sesuatu yang dipikirkan, dan diperdebatkan. Menjadi ruu sebagai isu emosi, bukan isu rasional.

Sangat menarik untuk merefleksikan kehidupan pekerjaan kita. Ketika kita berdikusi di sebuah rapat, apakah yang kita lontarkan merupakan hasil olah pikir semata, atau juga hasil olah pengalaman dan olah rasa? Ketika kita mengajar di kelas, apakah yang kita sampaikan merupakan bagian dari yang kita alami, atau hanya bagian dari sebuah buku teks? Banyak percakapan dalam bekerja cenderung seputar apa yang kita pikirkan semata, bukan sesuatu yang kita alami.

Ketiga”…Saya disini untuk sesuatu yang lebih besar dari diri saya: Rambut saya”. Ini adalah potongan pidato elle ketika sidang kongres dalam memperingati hari pendidikan. Loh, kok rambut? mungkin itu pertanyaan yang muncul dibenak kita. Persis seperti itulah reaksi dari anggota kongres. Kok? Tapi disinilah hebatnya. Elle berhasil mencuri perhatian sidang. Apa yang dibicarakannya tiba-tiba menjadi begitu penting. Bukan karena isinya (karena belum disampaikan) tetapi karena ia berhasil mengubah cara pandang anggota kongres terhadap kemunculan dirinya. Setelah itu, elle bercerita tentang pengalaman dirinya, suatu cara yang jarang ditemui dalam tradisi pidato kita saat ini.

Ceritanya sebenarnya juga gak begitu nyambung dengan ruu (content pidatonya). Ia bercerita…”pada suatu hari” (awalan standar sebuah dongeng) ia mendapatkan kesempatan emas berkunjung ke sebuah salon selebritis. Disana ia mendapat perlakuan yang salah. Ia kemudian bertanya, apa yang harus saya lakukan? Ia mengurai beberapa pilihan termasuk pilihan untk menyampaikan aspirasi dan mengubah aturan. Pada titik ini, ia mengkaitkan antara pilihan-pilihan yang dihadapinya ketika di salon dengan pilihan-pilihan anggota kongres saat ini dalam menghadapi ruu yang tengah diperjuangkan. “Bayangkan, apa yang akan terjadi apabila kita melakukan pilihan yang salah? amerika akan berambut pendek, sambil menutup pidatonya.

Ehm sebuah cara (berpolitik) yang menarik. Berpolitik (bekerja dan mengajar juga mungkin) dengan cara keseharian, cara yang paling remeh, yang paling mudah untuk dicerna. Presentasi dengan cara-cara yang menggetarkan hati (istilahnya ardi, teman saya), tidak hanya menggetarkan kepala (bikin pusing soalnya).

No comments yet

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: