Skip to content

Berpikir Sistem, Berpikir Sirkuler

Dahulu kala, aku sempat sekilas tertarik membaca buku fifth disicplinenya Peter Senge di ruangnya pak seger, buku berwarna hitam kumal….tetapi kuabaikan. Dahulu kala, sempat diberitahu pak ino tentang berpikir sistem…kudengarkan tapi kuabaikan. Sampai suatu hari kemudian aku mengikuti vibrant training dimana dimainkan system thingking games. Games yang membuat lompatan kesadaran bahwa kerumitan-kerumitan berpikir sistem ternyata bisa diterjemahkan secara sederhana, sesuatu yang kemudian kusadari merupakan khas mas dani.

Lompatan kesadaran ini memicu semangatku untuk belajar. Mulailah eksperimentasi beberapa improvisasi system thinking games, pada pada sesi training maupun di ruang-ruang kuliah. Menghayati benar setiap lekuk tubuh games tersebut. Merasakan kelezatan setiap potong games itu.

Yang menarik, dua hari yang lalu. Ketika aku ngajar kuliah psikodiagnostik 2:observasi…materinya observasi pada setting industri dan organisasi. Otakku tiba-tiba menjadi liar. ehm bagaimana kalau mahasiswa kuajak dolan ke fakultas tetangga, farmasi. Aku minta mereka mengamati ruang kerja karyawan dengan membayangkan mereka tengah membawa tustel dan asyik memotret setiap bagian ruang tersebut. karena nanti foto hasil karya mereka akan dibahas dikelas. Mereka berkeliaran disana sambil dipandangi dengan cara yang aneh oleh para penghuninya…untungnya mahasiswa termasuk kalangan para cuekers…jadi santai aja…

Setelah beberapa lama, maka aku mengajak muka-muka puas untuk berkunjung ke kandang sendiri, ruang kerja karyawan fakultas psikologi. singkat aja. 5 menit. Tujuannya lebih untuk memunculkan ingatan mereka. Setelah itu semua kembali ke kelas (bukan laptop….). Aku meminta mahasiswa membentuk kelompok 4 orang. Aku mainkan world cafe conversation untuk mendorong terjadinya pengayaan dalam proses belajar (biasanya kalau pakem pada satu kelompok,terjadi groupthink, berpikir linear). Awalnya kuminta mereka mensharingkan “foto” hasil jepretan mereka.

Nah selama mereka sharing, aku menuliskan serangkaian pertanyaan di komputer kelas. 1. Apa ciri ruang kerja karyawan fakultas farmasi? 2. Bagaimana ciri ruang kerja karyawan itu berdampak pada interaksi antar karyawan, interaksi karyawan dengan dosen dan mahasiswa? 3. Secara umum, bagaimana pola interaksi karyawan fakultas farmasi? 4. Bagaimana pola interaksi berdampak pada koordinasi, kebersamaan dan konflik di kalangan karyawan?

Aku ajukan pertanyaan itu satu per satu ke mahasiswa. Aku meminta setiap 2 orang anggota kelompok berpindah pada kelompok lainnya mengikuti arah jarum jam. Suasananya sungguh menarik karena setiap mahasiswa pengen tahu apa yang dihasilkan oleh kawannya. Percakapanpun semakin ramai…yah mirip-mirip orang cangkruk (kongkow gitulah…) di warung kopi di pinggir trotoar jalan sekitar kampus. walah…apa seh….

Dan pertanyaan terakhir. 5. Imajinasikan. Fakultas Farmasi melakukan perancangan ulang ruang kerja karyawannya. Bagaimana situasi koordinasi, kebersamaan dan konflik di kalangan karyawan berpengaruh pada perancangan ulang ruang kerja karyawan dan pembagian ruang diantara mereka? Nah pada titik ini, muncul berbagai reaksi yang pada umumnya kebingungan. Satu dua mahasiswa bertanya, “Apakah kami diminta untuk menjelaskan apa yang membuat fakultas farmasi merancang ruangan yang seperti sekarang ini?” Sebuah pertanyaan setback (bener ya…mbohlah), pertanyaan yang menengok ke belakang….mencari penyebab di masa lalu atas situasi kekinian. Setelah eksplorasi, aku tahu pertanyaan itu muncul karena mereka shock, tidak membayangkan bahwa bentuk ruang akan berpengaruh pada bentuk ruang kembali.

Pada titik ini, aku memberikan penjelasan singkat mengenai berpikir sirkuler dengan menggambarkan sebuah lingkaran sebab akibat 4 elemen yang ditanyakan. Singkatnya, a menyebabkan b, b menyebabkan c, c menyebabkan d, d menyebabkan a. Lalu aku tanyakan, mana yang menjadi penyebab? mana yang menjadi akibat?

Pada akhir sesi, aku menceritakan sebuah cerita yang kuingat dari fifth dicipline workbook tentang kunjungan seorang manajer dan konsultan. Dimana, urusan oli tercecer merupakan dampak dari kebijakan direksi yang ditetapkan setahun yang lalu. Pada buku itu, disarankan untuk melacak rantasi sebab-akibat sejauh mungkin, dengan menggunakan 5 pertanyaan why, dengan mengabaikan sejenak trait/karakteristik personal sebagai suatu penyebab.

Apa manfaat berpikir sirkuler bagi kita?

Entahlah….

No comments yet

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: