Skip to content

Teman imajinasi

Ada yang pernah nonton Mathilda? Asyik tuh filmnya…..Di film itu, para orang dewasa aktif berbicara sampai-sampai tidak sempat mendengarkan apa yang dikatakan atau dirasakan oleh sang lakon, Mathilda. Lihatlah bagaimana ekspresi Mathilda yang begitu tersiksa ketika menghadapi sang kepala sekolah, personifikasi orang dewasa yang arogan, semau gue, gak mau ndengerin. Wajar deh kalau para anak kecil sering ngobrol dengan teman imajinasi ciptaan sendiri. Sampai-sampai kalau lagi ngobrol bisa asyik banget……seakan-akan teman imajinasi itu nyata….so, anak kecil akan baik-baik saja walau berada dilingkungan orang dewasa yang sukanya ngomong dan tidak mau diam mendengarkan……toh punya teman imajinasi

Keadaan yang dihadapi Mathilda sebenarnya dihadapi juga oleh orang-orang dewasa, sama kita-kita maksudnya (sok dewasa neh). Keadaan dimana orang-orang lebih suka bicara daripada mendengarkan. Lebih suka dirinya didengarkan tetapi enggan mendengarkan, apalagi mengerti.
David Bohm (fisikawan) menyebut percakapan tersebut sebagai diskusi. Cirinya: mengawali dengan berbicara, berbicara kepada (subyek kepada obyek), fokus pada perbedaan, memicu berpikir cepat, dan melahirkan pertentangan. Model percakapan yang banyak mendominasi dunia formal kita. Coba lihat di televisi, seminar, ruang kelas, ruang rapat, bahkan mungkin di ruang keluarga kita. Kita lihat orang berupaya keras menjadi pihak yang didengarkan. Mencari celah. Mencuri start. Manfaatkan kelengahan. Bahkan, mendengarkannya pun tak jarang membuat lelah.

Si Bohm juga mengungkapkan tentang dialog, yaitu suatu percakapan yang mencari pemahaman bersama. Cirinya: mengawali dengan mendengarkan atau mengajukan pertanyaan agar mendapat jawaban yang bisa didengarkan, berbicara dengan (subyek dengan subyek), fokus pada insight, memicu refleksi dan melahirkan kolaborasi.

Tau enggak dimana kita bisa menemukan dialog dalam kehidupan sehari-hari? Kalau dulu saya kecil, sering mendengarkan obrolan model dialog ini di warung-warung desa. Ketika saya kuliah, saya mendengarkannya di warung trotoar jalan sepanjang dharmawangsa. Atau saya juga sering mendengarkannya pada percakapan pasangan yang baru pada tahap pendekatan. Banyak sekali pertanyaan ingin tahu yang diajukan (tadi dari mana aja, kamu sukanya nonton film apa). Banyak cerita yang saling dipertukarkan. Kalau kawan-kawan, dimana aja pernah ketemu sama dialog?
Lah bayangkan bagaimana yang namanya dialog itu begitu dipinggirkan…..hanya di tempat-tempat tertentu yang seringkali diremehkan. Sementara, diskusi justru mendapat tempat kehormatan dan mendominasi, hampir disemua aktivitas formal kita. Bahkan acara televisi yang namanya dialog pun sudah berubah menjadi diskusi. Nah trus gimana dong?!?!

Ya bisa seperti yang diceritain dimas, ngajak cangkruk di pinggir jalan. Atau seperti yang diceritain Bu Ietje, bikin forum gorengan tiap sore dikantornya di salah satu perbankan terbesar indonesia…..atau……kalau yg masih sendiri/single lakukan aja pendekatan sebanyak mungkin……ajak kencan , ajak dialog…he he he….

Nah kalau gak punya siapa-siapa lagi sebagai teman dialog yang setia mendengarkan….berdialoglah dengan teman imajinatif……

2 Comments Post a comment
  1. larashii #

    kadang, pendengar terbaik adalah diri kita sendiri ^_^
    hihi… ketika terlalu capek mengharapkan org lain jadi pendengar ceritaku, hehehe….

    18/05/2010
    • Bukik #

      Betul betul

      Belajar dari anak kecil
      Lagi-lagi

      18/05/2010

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: