Skip to content

Sekolah: Produsen Kekerasan

Anak-anak masuk sekolah sebagai tanda tanya,
Keluar sekolah sebagai tanda titik
(Neil Postman)

Panah waktu yang menghantarkan kita ke era modern sebagaimana saat ini ternyata tidak singgah di kedamaian. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan yang diraih pada satu sisi ternyata harus kita bayar dengan kekerasan. Kekerasan terhadap apa saja yang ada didepan kita. Kearifan yang lahir dari ufuk kedalaman berpikir semakin tenggelam tergantikan oleh hasrat yang terbit dari kedangkalannya. Akibatnya, kekerasan terus terjadi menjadi reproksitas yang begitu menyedihkan. Lebih ironisnya, kekerasan itu kita wariskan secara turun-menurun melalui salah satu lembaga yang paling sakral, lembaga pendidikan.

Harga Diri Artefak Modernisme
Artefak era modernisme yang paling berpengaruh adalah lembaga pendidikan yang disebut sekolah. Lembaga yang menyediakan ritual inisiasi tangga kemajuan seorang individu ini menyebar ke seluruh bagian masyarakat. Menjadi lembaga yang paling dikampanyekan kemujarabannya oleh siapa saja, orang tua, masyarakat, dan negara. Tanpa tanda inisiasi yang dikeluarkan oleh sekolah yang bergengi maka kemampuan sehebat apapun akan tersendat dan bahkan terbunuh sebelum menemukan wujud sejatinya.

Kemajuan pasti disertai kemunduran, apabila kemajuan tidak disertai dengan kearifan. Demikian pula yang terjadi pada sekolah, semakin maju tapak tangga yang dicapai individu maka akan semakin mundur kehadirannya dalam masyarakat lokalnya. Karena sekolah tak hanya berarti semakin pandai atau pun bertambah kaya, tetapi juga mengharuskan jalan ke arah kelompok masyarakat mana yang harus ditempati seorang individu. Tentu, dokter berkumpul dengan para dokter beserta kalangan tertentu yang ditandai sederajat oleh modernisme. Seorang dengan titel tertentu harus duduk bersama dengan orang yang berharga (diri) sama pula.

Hal itu pulalah yang kemudian melahirkan angka statistik yang menunjuk tingkat pengangguran terbesar terjadi pada mereka yang tingkat pendidikannya SMU dan Sarjana. Membalikkan bayangan kita semua, bahwa pendidikan rendah akan menyebabkan pengangguran. Mengapa demikian? Sederhana saja logikanya. Semakin tinggi capaian pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi harga diri yang ditetapkan orang tersebut. Semakin tinggi harga diri maka semakin sedikit orang yang mampu membelinya. Lulusan SMA cukup dengan kendaraan roda dua, tetapi lulusan S1 tentu harus lebih baik dari itu. Lulus SD atau SMP bolehlah nambal ban di pinggir jalan, tapi amit-amit bagi lulusan S1.

Pada saat yang sama, harga diri itu kemudian membutakan mata individu dari realitas yang dihadapinya. Realitas baginya selalu berselimut bungkus yang berasal dari keyakinan yang ditanamkan saat bersekolah. Baginya yang utama adalah keakuannya dan selalu meremehkan orang atau pun mahluk lain. Tak ada pilihan untuk mengalah. Pengalaman penulis, dalam melakukan tes psikologi terhadap calon pekerja memperkuat pandangan tersebut. Para pemegang gelar S1 (S2 dan S3) -terutama yang freshgraduate- cenderung mempunyai tingkat otonomi dan dorongan untuk mendominasi lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya lulus SMA.

Descartes dengan baik telah mengajarkan kepada manusia untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat dunia. Saya berpikir maka saya ada. Saya ada maka yang lain ada. Manusia lain, mahluk lain dan alam hanya “ada” ketika subyek manusia itu ada. Pandangan inilah yang membuat manusia dengan semena-mena mengklaim “ini lautku!!”, “ini hutanku!!” “ini sapiku!!” bahkan “ini umatku!!”. Konsepsi kepemilikan yang hanya absah dalam pikiran manusia modern. Harga diri yang berpusat pada “aku’ inilah yang menjadi salah satu sumber kekerasan-kekerasan di dunia selama ini.

Ilmu Kekerasan Artefak Modernisme
Baiklah, mungkin harga diri adalah ongkos yang harus dibayar untuk menjadi anggota masyarakat modern yang baik. Tetapi paling tidak para alumnus tersebut tentu mendapatkan ilmu yang modern, ilmu yang akan berguna untuk diabdikan pada masyarakat dan kemanusiaan. Tetapi benarkah demikiankah ilmu yang diajarkan di sekolah dan universitas-univesitas kita?

Ilmu modern (positivisme) itu bagaikan Dewi Athena, dewi akal sekaligus dewi perang. Seperti itulah kenyataannya, ilmu modern telah menggunakan akal untuk melakukan perang terhadap manusia dan lingkungan alam (dalam Jalaluddin Rahmat, 2000). Paling sedikit ilmu modern telah melakukan empat macam kekerasan yaitu:

Pertama, kekerasan terhadap subyek pengetahuan. Kekerasan ini dilestarikan secara sosial melalui pemisahan tajam antara yang ahli dan bukan ahli. Pemisahan yang menjadikan mayoritas bukan ahli sebagai orang yang tidak tahu apa-apa, bahkan dalam wilayah kehidupan di mana tanggung jawab tindakan terletak ditangan mereka. Bahkan diantara para ahli pun begitu tegas pemisahannya. Lelucon rekan saya cukup tepat menggambarkan hal itu, “Jangan-jangan nanti ada ahli bedah jantung kanan dan ahli bedah jantung kiri atau dokter THT telinga kiri dan dokter THT telinga kanan”. Atau ditengah perdebatan apakah untuk melakukan konseling perlu dipersyaratkan surat ijin praktek psikolog, ada celetukan, “Wah jangan gitu dong! Ibu saya nanti dihukum penjara juga. Saya kan selama ini konseling sama beliau kalau lagi punya masalah”.

Kedua, kekerasan terhadap obyek pengetahuan. Ilmu modern selalu mencuci tangan atas tanggung jawab dari yang diperbuatnya. Tampak jelas dalam kerakusannya mengubah alam tanpa memikirkan akibatnya yang berupa krisis ekologi (efek rumah kaca, ozon yang berlubang, pencemaran). Hal ini juga tergambar dalam eksperimen yang dilakukan Watson terhadap seorang bayi untuk membuktikan tesisnya. Awalnya bayi tersebut tidak mengenal takut terhadap tikus. Watson kemudian menghadirkan tikus dihadapan sang bayi dengan disertai pukulan hingga bayi tersebut menangis. Akhirnya, bayi tersebut menangis setiap kali melihat tikus dan, sejauh yang saya baca, tidak pernah diketahui bagaimana nasib bayi tersebut.

Ketiga, kekerasan terhadap pengguna pengetahuan. Bertentangan dengan klaim ilmu modern bahwa masyarakat pada akhirnya akan memperoleh manfaat pengetahuan. Masyarakat, terutama orang miskin, adalah korban yang paling malang. Mereka diputuskan dari sistem penunjang kehidupan mereka ketika terjadi penghancuran alam. Revolusi hijau memposisikan petani sebagai robot yang tinggal menanam bibit hasil rekayasa genetik dan mengikuti instruksi manual yang dikeluarkan IRRI. Sementara itu, mereka kehilangan ilmu dan kearifan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka tentang pertanian.

Keempat, kekerasan terhadap pengetahuan itu sendiri. Ilmu modern selalu berambisi membuktikan dirinya lebih tinggi dari jenis-jenis pengetahuan yang lain dan satu-satunya cara yang absah untuk mengetahui. Pewujudan ambisi ini membuat ilmu modern menyembunyikan dan memalsukan fakta sekaligus dengan demikian melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri. Fakta-fakta yang tidak dapat ditangkap secara empiris dipinggirkan dan disingkirkan.

Apabila demikian ilmu yang diajarkan di sekolah dan universitas, apakah cukup pantas kita berharap bahwa sekolah dan universitas memberikan konstribusi hilangnya, atau paling tidak berkurang, kekerasan dimuka bumi? Tak pantas rasanya. Lebih pantas pernyataan bahwa sekolah kita selama ini telah menjadi produsen kekerasan.

Kompleksitas: Sebuah Tawaran Alternatif

Terlalu ekstrim bila penyelesaiannya atas kekerasan yang diwariskan itu dengan membubarkan sekolah sebagaimana yang ditawarkan oleh kalangan anarkisme. Lebih realistis bila melakukan perubahan prinsip-prinsip dasar ilmu yang kita pelajari dan kita ajarkan pada anak-anak kita. Walaupun seringkali pelembagaan atas perubahan-perubahan tersebut memakan waktu yang begitu lama.

Beberapa dekade terakhir telah terjadi pergeseran yang diawali oleh fisika kuantum yang memunculkan paradigma kompleksitas. Artikel ini takkan cukup untuk berkutat tentang pergeseran itu. Namun perlu rasanya memberikan batas-batas antara ilmu dalam pandangan paradigma modern dengan paradigma alternatif ini.

Pertama, asumsi ontologis, ilmu modern meyakini adanya realitas tunggal “diluar sana”. Asumsi ini lahir karena dengan semena-mena ilmu modern memotong batas tertentu sebagai sebuah entitas yang terpisah. Keseluruhan dapat dipahami dengan memepelajari bagiannya secara detail dan teliti. Memahami tubuh dengan mempelajari jantung, telinga, dan bagian tubuh lainnya secara terpisah sembari lupa ketika bagian-bagian itu berinteraksi akan melahirkan realitas yang berbeda.

Kompleksitas lebih memilih obyek kajian “hubungan”, bukannya entitas-entitas yang berdiri sendiri. Ketika ilmu modern memandang dunia sebagai kumpulan obyek-obyek, kompleksitas memandang sebagai hubungan antara “obyek-obyek”. Ilmu modern menganggap atom sebagai obyek/entitas yang berdiri sendiri, kompleksitas mempercayai sebagai hubungan antara elektron, positron dan neutron. Kesehatan lebih dipandang sebagai persoalan manusia secara keseluruhan yang diakibatkan oleh pola-pola tertentu kehidupan individu tersebut atau masyarakatnya, bukan sekedar persoalan jantung, dada atau bagian tubuh lainnya.

Kedua, asumsi epistemologi, ilmu modern meyakini pengamat dapat mengamati yang diamati tanpa mengganggunya. Kita dapat mengukur realitas tanpa mempengaruhi realitas. Sederhananya, kita dapat mengetahui sesuatu secara obyektif. Pengaruh kehadiran pengamat dapat diatasi dengan cara dan standar tertentu semacam validitas dan reliabilitas. Bertentangan dengan itu, kompleksitas meyakini kehadiran pengamat akan mempengaruhi apa yang diamati dan sebaliknya. Alih-alih menafikkan pengaruh itu, kompleksitas justru mencari tahu apa dan bagaimana pengaruh pengamat terhadap obyek.

Ketiga, asumsi aksiologis, ilmu modern menyatakan dirinya bebas nilai. Metodologi yang dibangunnya akan menjamin hasil-hasil penelitian tidak dipengaruhi/bias oleh sistem nilai. Metode akan menghilangkan unsur-unsur subyektif dari penelitian. Kita dapat berbuat sekehendak hati kita selama itu berada dalam kerangka metode yang absah. Apapun boleh dilakukan selama memungkinkan secara teknis dan metodologis.

Kompleksitas meyakini bahwa apapun tindakan kita akan melahirkan umpan balik yang mengarah pada diri kita. Jika kita meludahi orang lain tentu orang itu akan bereaksi tertentu pada kita yang berbeda bila kita memujinya. Konsepsi umpan balik ini yang memungkinkan tindakan-tindakan kecil kita yang berulang dapat melahirkan perubahan-perubahan besar. Bahkan, kepakan kupu-kupu di hutan Brazil dapat menimbulkan badai besar di Amerika Serikat.

Akhir kata, Semoga tuhan menyelamatkan kita. Dari Penglihatan Tunggal dan Tidur Newton (Capra, 1997)@.

Mengambil langkah baru, mengutarakan kata baru
Adalah yang paling ditakuti orang
(Fyodor Dostoyevki)

3 Comments Post a comment
  1. Aar #

    Intriguing, mas.. memikirkan kembali tempat kearifan dalam pengetahuan modern..🙂

    07/10/2011
  2. d4uz #

    Nice touch… even better with some practical and focused metaphores….

    25/06/2010

Trackbacks & Pingbacks

  1. Belajar menjadi idiots « bukik ideas

Ngasih Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: